Pijatan Kaki Terakhir untuk Yang Kakung

Saya tidak akan pernah bisa lagi memanggil nama Yang Kakung, sebutan yang selalu saya sampaikan kepada beliau sedari kecil. Hanya satu nama Yang Kakung dan itu kupersembahkan untuk beliau, tidak ada yang lain di dunia ini. Yang Kakung adalah adik ketiga dari nenekku. Ayahku adalah keponakan satu-satunya yang beliau miliki karena ayahku anak tunggal dari nenek dan adik kedua nenekku (Yang Gito almarhum) tidak memiliki keturunan.

Sebuah penghargaan yang teramat besar ketika saya dapat merasakan kasih sayang yang sama seperti yang beliau berikan kepada putra-putrinya. Entah sebuah kebetulan atau takdir, ketika pertama kali menghirup nafas di dunia, saya ada di antara beliau di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Kata ibuku, tali pusarku masih tertanam di Jakarta. Read more of this post

Di Bandung kita bertemu dan berpisah

“Aku di Bandung, kapan kita ketemuan? Pokoknya nanti kita harus ketemu di Bandung. Sabtu-Minggu aku libur. Nanti kita kontak-kontakkan lagi”

Begitu kata Wahyu di telepon padaku saat dia berada di Bandung untuk latihan terjun payung lanjut. Memang dia adalah salah satu anggota TNI Angkatan Udara dengan pangkat Lettu.

3 tahun kulewati bersamanya ketika kami berada dalam seragam putih abu-abu. Selalu memilih tempat duduk paling belakang di kelas dan aku selalu berada di depannya. Tak ada kegiatan yang tak kami lewati bersama, kami adalah rangkaian yang tak terpisah bersama sahabat yang lain. Tumbuh bersama mencari jati diri dalam gelegak darah jiwa muda kami. Read more of this post

Sampai Jumpa di Batas Lempeng

Sejauh kehidupan berjalan, akan banyak sosok-sosok yang datang dan pergi. Ada yang mengilhami dengan karakternya atau hanya sekedar numpang lewat tanpa pernah berarti apapun. Yang mengilhami akan selalu dikenang dan sedikit banyak berpengaruh terhadap kehidupan kita sedangkan yang numpang lewat akan mudah dilupakan. Hukum kepastian yang berlaku akan datang dan perginya sosok-sosok ini adalah “setiap ada perjumpaan selalu ada perpisahan” atau mengutip kata-kata seorang sahabat “bertemu itu sudah pasti untuk berpisah sedang berpisah untuk apa?”. Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan, apakah setelah berpisah untuk bertemu lagi? Belum tentu. Dan kita tidak pernah mengetahui akan jalannya kisah di masa depan.

Timbangan yang tidak adil selalu berlaku untuk Si Jumpa dan Si Pisah. Si Jumpa selalu lebih dihargai daripada Si Pisah, kecenderungan yang ada adalah setelah bertemu Si Jumpa maka akan lupa Si Pisah padahal Si Jumpa selalu jatuh cinta dengan Si Pisah tetapi Si Pisah belum tentu jatuh cinta dengan Si Jumpa. Seakan setiap perjumpaan selalu untuk selamanya maka ketika berjumpa dengan perpisahan sebagian besar tidak siap menerima dan selalu berakhir dengan kesedihan. Kenapa tidak sedihlah dahulu saat berjumpa baru bahagia setelah berpisah? Kenapa selalu tidak adil bagi Si Pisah, kesedihan selalu melingkupinya, hidupnya penuh dengan airmata, hanya sedikit orang yang menghargainya dengan kebahagiaan. Bagi yang menghargai akan perpisahan justru akan dicibir di dunia ini, dikatakanlah dia tidak berhati, padahal sepenuhnya dia sadar akan logikanya bahwa “bertemu itu sudah pasti untuk berpisah sedang berpisah untuk apa?”.

Seorang pemuda sangatlah bahagia ketika bertemu dengan kekasihnya, disyukurinya perjumpaan ini pada Sang Pencipta. Di dalam doanya selalu dipanjatkan untuk selalu didekatkan pada kekasihnya karena setiap perjumpaan selalu membuatnya melayang bahagia. Tak disadarinya bahwa Si Pisah selalu ikut dalam tiap doanya. Perjumpaan berjalan dengan mulus semulus Si Pisah yang selalu mengikuti dari belakang. Mereka terlena hingga pernikahan tiba, kebahagiaan akan perjumpaan selalu disyukuri setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik dan setiap waktu yang terus berjalan… Mereka tidak sadar bahwa akal bulus Si Jumpa telah mencuci otak mereka sehingga mereka akan terlena kebahagiaan perjumpaan dan melupakan akan keberadaan Si Pisah. Si Pisah yang pendiam tetapi pasti hanya tertawa-tawa kecil di sudut sana makin lama makin kuat dan membesar sampai suatu saat… Si Pisah yang telah bertambah kuat memutuskan untuk tiba-tiba muncul di antara kedua pasangan bahagia itu. Karena selama ini telah dihina dan dilupakan maka Si Pisah kali ini tidak main-main dibunuhnya Si Jumpa selama-lamanya di dunia fana ini untuk kedua pasangan itu. Sang Lelaki tiba-tiba menemukan istrinya meninggal secara mendadak karena serangan jantung. Lelaki tersebut bersedih dengan sangat hingga menumpahkan hujan airmata di hati dan raganya. Saat itu, dia baru sadar akan liciknya akal bulus Si Jumpa dan menyesali kenapa dahulu harus dipertemukan, kenapa rasanya sangatlah sakit ketika ditinggalkan, kenapa dia tidak kuat menerima perpisahan ini, kenapa dia tidak sadar akan adanya perpisahan, kenapa, kenapa dan kenapa? Dia memutuskan untuk menemui kekasihnya di dunia yang lain, padahal di dunia tersebut lebih banyak misteri lagi tentang perjumpaan dan perpisahan dan hukum dunia fana tidak berlaku lagi.

Dan masih banyak contoh yang lain yang mengalami hal ini. Perpisahan kekasih, sahabat, kolega kantor, keluarga, apapun itu hukumnya pasti “bertemu itu sudah pasti untuk berpisah sedang berpisah untuk apa?”. Kenapa tulisan ini berjudul Sampai Jumpa di Batas Lempeng? Karena batas lempeng tidaklah pasti, batas tersebut selalu bergerak mengikuti tarian bumi ini yang meregang dan mengerut. Saat kau mengatakan akan bertemu di batas lempeng kala ini, maka kala berikutnya batas tersebut akan selalu bergeser. Hukum yang tidak pasti mendukung kalimat “berpisah untuk apa?”. Dan kenapa selalu banyak pertanyaan dalam setiap tulisanku karena hidup selalu untuk bertanya, apakah kamu tidak bertanya dalam doamu? Apakah kamu tidak bertanya dalam hatimu? Bahkan sampai pada akhirnya nantipun aka nada pertanyaan yang harus kamu jawab dengan benar karena kamu tidak akan bisa salah mengatakannya. Dan sampai akhirnya Sampai Jumpa di Batas Lempeng kawan… 🙂

“Office Boy” Wannabe

Beberapa hari yang lalu, kantor saya menyelenggarakan pesta perpisahan superintendent dengan pementasan drama tiruan Office Boy (sitkom di rcti).

Awal mulanya begini, superintendent geologi berencana akan mengundurkan diri. Sudah menjadi tradisi di kantor apabila ada karyawan yang keluar atau mengundurkan diri maka kantor akan menyelenggarakan Farewell Party dengan acara yang berbeda-beda. Acara kali ini adalah pementasan drama ala “Office Boy”. Pemilihan konsep drama “OfficeBoy” karena adanya kesamaan ciri fisik antara Pak Taka (tokoh dalam OB) dengan Superintendent Geology.

Dengan keterbatasan waktu, kami berusaha untuk mempersiapkan sebaik mungkin supaya acara pementasan nantinya berlangsung dengan lancar. Mulai dari latihan acting, rekaman suara, dekorasi, sound system, kostum, dll. Kerja keras dan kerjasama adalah kata kunci bagi setiap personel yang terlibat demi kesuksesan acara ini.

Akhirnya waktu pementasan tiba, dengan rasa percaya diri disaksikan oleh tamu undangan. Kami mulai beraksi. Ini adalah foto dari beberapa cuplikan adegan dan peran dalam pementasan drama Office Boy (klik untuk memperbesar gambar)

On The Stage Sasya-Gusti-Hendra Pak Hendra Sasya Susi & Mail Mpok Odah Pak Taka All Crew All Crew2 Behind The Scene

Drama yang kami perankan berjudul “Good Bye”. Kisahnya adalah mengenai kepergian Pak Taka meninggalkan “Coal Tv” ke Brisbane Australia. Seluruh karyawan Coal Tv merasa kehilangan dan bertanya-tanya apa yang menyebabkan Pak Taka pindah. Dengan gaya oon-nya Sasya mengatakan bahwa Pak Taka pindah karena ingin mencium koala di sana, dengan gaya sok-sok-an Pak Hendra mengatakan alasan Pak Taka pindah karena semua karyawan pemalas kecuali dia.

Akhirnya semua berencana memberikan kenang-kenangan buat Pak Taka, Mail berniat menyumbangkan lagu dengan suara paraunya yang akhirnya mendapat bogem mentah dari Mpok Odah, Sasya menyumbangkan puisinya yang isinya juga oon seperti dirinya. Akhirnya diputuskanlah untuk menyanyikan lagu kesayangan Pak Taka (Superintendent Geology) yaitu Still Loving You dari Scorpion. Setelah selesai Pak Taka (Spt Geology) didaulat untuk maju kedepan dan disuruh push up sebanyak 5x 🙂 Dramapun ditutup ditandai dengan tepukan penonton yang membahana di seluruh ruangan.

Sesudah acara tersebut selesai, aku harus kembali bekerja karena malam itu adalah jadwalku masuk kerja shift malam. Selamat jalan Pak Taka a.k.a Pak Nusawan, semoga sukses menggapai mimpi di Australia…