Berburu Barang Bekas di Jepang

Memiliki sebuah barang yang kita inginkan merupakan keinginan setiap orang. Apalagi barang tersebut merupakan barang yang sangat dibutuhkan dan mempunyai nilai penting untuk mendukung kelancaran aktivitas kita sehari-hari. Tinggal di Jepang yang terkenal dengan tingginya biaya hidup ini harus pintar menyiasati kebutuhan hidup termasuk membeli barang-barang kebutuhan hidup apalagi bagi kaum penerima beasiswa yang besarannya sangat pas untuk “sekedar” hidup di Jepang ditambah lagi kalau bawa anak-istri bisa jadi “alakadarnya” hidup di Jepang. Read more of this post

Advertisements

Gempabumi Milik Siapa?

intensityBerturut-turut negeri kita tercinta ini diguncang gempa. Setidaknya beberapa waktu belum lama ini telah terjadi tiga kali gempa yang waktunya berdekatan yaitu gempa Tasikmalaya, gempa Sumatera Barat dan gempa Sumatera Selatan. Selalu, segera setelahnya media massa memberitakan informasi gempa terkini mulai dari kondisi daerah terkena gempa, korban jiwa dan hal-hal lain yang berhubungan dengan gempa yang terjadi.

Sebuah stasiun radio setelah gempa Tasikmalaya dan Padang mengadakan acara telepon interaktif dengan pendengarnya berkenaan gempa yang terjadi sebelumnya. Komentar demi komentar berdatangan seluruh penjuru masyarakat di Indonesia menandai tingkat pemahaman masyarakat Indonesia tentang gempa. Yang menjadi menarik disini adalah sebagian besar dari komentar menandai gempa sebagai hukum alam akibat ulah manusia atau pemerintah dan takdir Tuhan, hanya sebagian kecil saja yang berpikir secara ilmiah mengenai kejadian geologi, sebagian kecil lainnya justru berpikir bahwa ini kejadian metafisika-supranatural-paranormal oleh makhluk gaib penghuni bumi nusantara ini. Read more of this post

Kepercayaan lokal dan keseimbangan bumi

Setiap makhluk di dunia ini memiliki tugas masing-masing. Seekor nyamukpun mempunyai tugas untuk menyebarkan penyakit malaria mengurangi jumlah manusia yang menjarah hutan hujan tropis. Makhluk gaib termasuk didalamnya, bukan karena penyebutan di depannya menggunakan “makhluk” tetapi aku meyakininya memang ada. Tidakkah terpikir bahwa gendruwolah yang menjaga pohon-pohon bambu, hutan-hutan rimba dan tebing-tebing jurang? Tuyul mencuri uang manusia sekedar untuk mengingatkan bahwa ingatlah untuk berbagi kekayaan kepada sesama bukan hanya menumpuk harta. Kuntilanak menculik anak-anak untuk mengurangi laju natalitas manusia agar tak memenuhi bumi dan hantu pocong yang selalu muncul di malam hari menjaga manusia agar tak keluyuran tak berguna di malam hari.

Kepercayaan lokal mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia. Saat penguasa di belantara Indonesia masih berupa kerajaan-kerajaan, tidak dipungkiri bahwa banyak sekali kepercayaan lokal yang berkembang. Bahwa kita tidak boleh sembarangan memasuki hutan karena di dalamnya terdapat kerajaan gendruwo yang akan menculik setiap orang yang datang mendekatinya. Atau pohon-pohon tua yang keramat yang selalu diberi sesaji setiap malam jumat kliwon. Terpikirkah bahwa kepercayaan lokal ini mempunyai makna penjagaan terhadap sumberdaya alam berupa hutan, air dan gunung-gunung yang juga berguna bagi umat manusia. Bukankah ini berarti perintah untuk menjaga pohon-pohon agar tidak ditebang secara sembarangan, tidak mengusik ekosistem hewan di hutan yang sebenarnya berimbas juga dengan kesejahteraan umat manusia. Tidak heran bahwa pada waktu itu kelestarian alam di bumi Indonesia masih benar-benar terjaga karena masyarakat pada waktu itu memberikan rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada makhluk gaib penunggu alam raya ini. Pada perkembangan selanjutnya, kepercayaan lokal ini diobrak-abrik oleh Jendral Daendels dengan membangun jalan Daendels membelah Pulai Jawa mulai dari Barat sampai ke Timur yang mengharuskan untuk melewati hutan-hutan rimba nan keramat. Masyarakat Jawa kala itu hanya bisa menangis dan melongo seakan tak percaya bahwa kuasa manusia bisa menakhlukkan makhluk gaib penunggu hutan yang mereka hormati seumur hidupnya. Apa yang terjadi? Harimau Jawa punah terlebih dahulu.

Harus diberi penghargaan yang sebesar-besarnya bagi mereka para pendahulu kita yang telah mengembangkan kepercayaan lokal. Tidakkah dibayangkan apabila tidak adanya kepercayaan lokal maka hutan-hutan dan gunung-gunung akan dibabat sedemikian mudahnya tanpa ada perasaan bersalah apapun. Mengenai sesaji yang diberikan kepada para penunggu hutan janganlah menjadi suatu permasalahan dosa dan tidak dosa, surga ataupun neraka. Kalaupun jin dan siluman itu memang ada, apa salahnya membayar sejenis pajak kepada mereka ketika kita memasuki wilayah mereka? Sejauh pajak itu cuma sesajen bunga-bungaan, buah-buahan, sejumput makanan, apa salahnya? Apalagi diracik indah dengan perasaan dan nilai seni yang tinggi. Kalau kita membayar pajak kepada pemerintah bukan berarti kita menyembah pemerintah atau menyekutukan Tuhan kan? Janganlah berlebihan atau menjadi sebuah ideologi untuk di pertaruhkan dengan berdarah-darah.

Saat modernitas, globalisasi dan pemahaman sempit tentang religi sudah membaur dalam diri kita, maka kepercayaan lokal semacam ini semakin lama semakin luntur. Permasalahannya bukan ritualnya tetapi makna yang terkandung di dalamnya. Bisa kita lihat saat ini bahwa penjarah hutan tidak lagi segan-segan untuk “blusukan” hutan rimba tanpa ada rasa takut sama sekali terhadap gendruwo penunggu hutan karena bulldozer mempunyai fisik lebih besar, suara yang lebih bergemuruh dan lampu sorot yang terang benderang. Tidak adalagi penghargaan terhadap alam ini, manusia menjadi seenaknya menginjak-injak bumi ini. Sikap mengeramatkan alam sejalan dengan sikap memeliharanya. Saat ini, mereka yang mempertahankan dan mempercayainya akan dicemooh bahkan dianggap musrik dan di cap sebagai penghuni neraka yang paling dalam padahal justru merekalah yang selama ini menjaga kelestarian bumi ini.

Seandainya semua orang di dunia ini memberikan penghargaan sebesar-besarnya diberikan kepada para makhluk gaib penunggu alam ini maka tidak diperlukan lagi organisasi WALHI, tidak ada lagi permasalahan Global Warming, tidak adalagi permasalahan pembalakan liar dan penambangan liar yang membabi buta. Terimakasih dan kuberikan rasa hormat sebesar-besarnya kepada para arwah penunggu hutan, laut, pantai, gua, sungai, pohon-pohon besar yang selama ini telah mendiami dan menjaganya untuk kelestarian bumi ini. Berikanlah selalu keseimbangan di bumi ini.