Pijatan Kaki Terakhir untuk Yang Kakung

Saya tidak akan pernah bisa lagi memanggil nama Yang Kakung, sebutan yang selalu saya sampaikan kepada beliau sedari kecil. Hanya satu nama Yang Kakung dan itu kupersembahkan untuk beliau, tidak ada yang lain di dunia ini. Yang Kakung adalah adik ketiga dari nenekku. Ayahku adalah keponakan satu-satunya yang beliau miliki karena ayahku anak tunggal dari nenek dan adik kedua nenekku (Yang Gito almarhum) tidak memiliki keturunan.

Sebuah penghargaan yang teramat besar ketika saya dapat merasakan kasih sayang yang sama seperti yang beliau berikan kepada putra-putrinya. Entah sebuah kebetulan atau takdir, ketika pertama kali menghirup nafas di dunia, saya ada di antara beliau di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Kata ibuku, tali pusarku masih tertanam di Jakarta. Read more of this post

Woalah Ternyata Sheila On 7

Apa jadinya bila anda bertemu dengan artis terkenal? Gugup, senang, histeris, menangis, biasa aja atau malah guling-guling? Itu semua terjadi jika anda mengenal dengan jelas artis idola anda. Jika sang artis sempurna dengan penyamarannya mungkin anda akan bersikap biasa saja dan berlaku cuek terhadapnya tanpa memperdulikan siapa dia.

Ini terjadi sekitar 6 tahun yang lalu, ketika sepupu jauh saya yang seorang musisi dari Jakarta berkunjung di rumah saya di Jogjakarta. Mengapa saya baru menulis cerita ini sekarang? Karena saya baru mengingatnya kembali ketika lebaran kemaren bertemu kembali dengannya pada forum silaturahmi keluarga di Solo. Read more of this post

Dunia Tambang

Dunia tambang memang masih menjadi candu bagi para pencari kerja. Tidak hanya orang-orang yang berpengetahuan di bidang ilmu kebumian tetapi juga semua cabang ilmu yang terkait di dalam penyelenggaraan tambang. Pada dasarnya dalam penyelenggaraan tambang, pekerjaan itu hanya dibagi menjadi dua, Field worker atau Office worker. Bisa berada di salah satunya atau lintas pekerjaan pun bisa, semua tergantung profesi yang digeluti.

Beberapa waktu lalu aku membaca majalah tambang terbitan Australia AuSIMM Bulletin edisi Januari / February 2008. Dengan gamblang disitu disebutkan bahwa terjadi booming mahasiswa/i di Australia yang mengambil jurusan yang berhubungan dengan pertambangan, baik itu geology, mining, geodety, etc. Yang menarik lagi adalah jumlah peminat wanita pun ikut bertambah. Mungkin begitu pula yang terjadi di Indonesia, di kampusku sendiri (Geology UGM) secara kasatmata terlihat penambahan jumlah peminat baik pria maupun wanita. Tapi aku belum bisa membuktikan ini secara data ilmiah.

Masih berdasarkan majalah tambang tersebut, ada beberapa faktor yang menarik perhatian para mahasiswa/i atau calon pencari kerja ini. Iming-iming gaji yang tinggi, fasilitas yang diberikan perusahaan, banyak peluang kerja, teknologi pertambangan yang berkembang cepat, peduli terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini didukung dengan media yang memberikan informasi berupa iklan perusahaan tambang atau berita-berita yang terkait di dalamnya. Di Indonesia sendiri, seperti diketahui bahwa masih banyak bahan tambang di negara ini yang belum terjamah untuk di eksplorasi atau di eksploitasi. Hal itu juga bisa menjadi daya tarik pencari kerja karena banyaknya peluang di sana. Di luar semua itu, dampak dari adanya perusahaan tambang juga sangat diketahui jelas oleh para mahasiswa/i atau pencari kerja; dampak sosial, dampak lingkungan atau minimnya hubungan sosial dengan dunia luar karena resiko berada di daerah terpencil.

Semua impian dan harapan tersebut bisa berubah ketika sudah masuk ke dalam dunia tambang. Hal yang biasanya menjadi benturan adalah kesulitan untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Seperti yang telah diketahui, bahwa dunia tambang mempunyai jam kerja yang berbeda dengan industri-industri lainnya. Pekerjaan eksplorasi atau eksploitasi dikerjakan dalam 24jam non stop tanpa kompromi dikarenakan efektivitas kerja penggunaan alat berat. Penggunaan alat berat lebih menguntungkan apabila dioperasikan daripada di standby kan. Alhasil, bukan alat yang melayani manusia tapi manusia yang melayani alat. Konsekuensinya adalah jam kerja dan waktu istirahat yang tidak sesuai dengan hari kerja/libur dari kalender nasional, hari kerja/libur disesuaikan sendiri oleh perusahaan tetapi tetap tidak menyimpang dari kaedah perundang-undangan tenaga kerja. Ini berarti, sementara orang lain makan ketupat setelah sholat idul fitri, seorang pekerja tambang harus kembali bekerja.Hal ini sebenarnya sudah diketahui oleh para pencari kerja tetapi akan lebih mudah mengatakan bahwa itu bukan masalah daripada menjalaninya secara langsung.

Tidak ada hak yang tidak dipenuhi, semuanya jelas hitungannya. Ada perhitungan uang lembur apabila kerja di hari libur atau ada hitungannya jumlah hari kerja dalam 1 bulan. Tetapi apakah semua itu bisa menggantikan momen-momen indah dalam hidup yang digantikan dengan hari kerja ? Mungkin inilah sebabnya seorang pekerja tambang mempunyai penghasilan yang lebih besar dari pada bekerja di industri lainnya. Penghasilan inilah yang menggantikan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga dan momen-momen indah yang terlewat dalam hidup.

Apakah masalahnya menjadi terselesaikan dengan membawa keluarga ke lingkungan kerja? Belum tentu. Seperti yang diketahui selama ini bahwa daerah eksplorasi dan eksploitasi biasanya berada di daerah yang belum banyak terjamah oleh manusia alias daerah terpencil yang akses dan fasilitas pendukungnya kurang lengkap. Walaupun sudah dibangun sedimikan rupa oleh perusahaan sehingga semua fasilitas kehidupan nyaris ada dan terpenuhi, tetaplah hanyalah sebuah artificial semata. Lingkungan yang sebenarnya adalah lingkungan industri tambang 24jam nonstop. Seluruh penghuni lingkungan tersebut adalah para pekerja tambang semua, semua yang berkepentingan tinggal di daerah itu adalah untuk bekerja dan bukan untuk hidup membangun atau mendidik sebuah keluarga. Setelah perusahaan tersebut habis kontrak konsensinya atau gulung tikar maka lingkungan tambang tersebut lama-kelamaan akan ditinggalkan dan menjadi kota mati karena tidak ada kepentingan lagi untuk melanjutkan hidup disana. Contoh yang nyata adalah daerah Sangatta Lama. Dulunya adalah kota yang cukup ramai dengan segala fasilitas pendukungnya dibangun oleh Pertamina distrik Sangatta. Setelah Pertamina mulai menekan aktivitas produksinya disana didukung juga dengan hadirnya perusahaan batubara Kaltim Prima Coal yang membangun perkotaan baru Sangatta Baru / Swarga Bara maka Sangatta Lama saat ini menjadi kota yang redup tanpa aktivitas yang berarti dan menjadi daerah terkucil dan terpencil. Masa kejayaan itu telah sirna.

Masih dari majalah yang sama, survei yang dilakukan di Australia menyebutkan bahwa pekerja tambang yang optimis rata-rata mempunyai keinginan bekerja di tambang paling lama 10-15th saja. Yang dimaksud optimis adalah mereka-mereka yang mempunyai dedikasi yang kuat terhadap dunia tambang. Tetapi tidak sedikit pula yang bertahan hingga hari tua hidup bahagia dengan anak dan cucu mereka apapun yang terjadi. Mereka inilah yang bisa beradaptasi dengan sempurna dan sudah jatuh cinta terhadap bumi baru yang mereka injak untuk dijadikan tanah airnya yang nyata. Kunci utama untuk hidup di dunia tambang adalah “Kemampuan untuk menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan