Jalan Bebas Keselamatan

Perjalanan Bandung – Jakarta atau sebaliknya selama 2,5 jam biasanya selalu saya lewatkan dengan tertidur pulas di dalam kursi travel. Tak pernah kugubris apa yang terjadi di sekitarku, kuserahkan seluruhnya tubuhku ini di tangan pak sopir yang rajin menyetir.

Sekali waktu ternyata mataku tidak bisa kuajak terpejam karena semalam tidurku cukup pulas dan lumayan lama, akhirnya aku terjaga terus sepanjang perjalanan pulang Jakarta – Bandung. Terjaga sepanjang perjalanan adalah membosankan untung aku selalu membawa ipod untuk mengurangi rasa bosan.

Akhirnya sampai pula roda kencang travel menginjakkan jalur tol Purbaleunyi. Jalur tol ini sangat lebar dengan pemandangan yang menarik di sepanjang kiri dan kanan jalur. Lancarnya perjalanan dan standar jalan yang mulus mengingatkanku pada jalur hauling batubara di Kaltim Prima Coal ketika aku masih bekerja di sana. Jalan hauling KPC dan jalur tol Purbaleunyi mempunyai standar keselamatan yang hampir sama. Rambu-rambu petunjuk jalan cukup jelas terlihat dan sangat informatif, di beberapa ruas jalan juga dijumpai mobil safety patrol yang selalu siaga untuk menjaga keselamatan pengguna jalan. Perbedaannya mungkin dari alas jalannya. Jalan hauling KPC hanya diperkeras oleh lapisan burn mudstone yang selalu di pelihara oleh greader atau kompaktor setiap harinya sedangkan jalan tol Purbaleunyi berupa beton atau aspal halus yang juga dilakukan perawatan berkala. Tak heran apabila aku selalu tertidur pulas di sepanjang perjalanan ini karena tingkat keselamatan perjalan di jalur tol Purbaleunyi benar-benar diperhatikan.

Cukup bangga melewati jalan tol ini lengkap dengan lanskap sawah dan kampung yang hijau nan asri di kiri dan kanannya seakan-akan kita sedang melewati jalan dari sebuah negara yang kaya-raya, gemah ripah loh jinawi, ijo royo-royo, tanam kayu tumbuh pohon serta lautnya yang berisi susu seperti lagunya Koes Plus. Jalan tol semacam ini tidak hanya ditemui di jalur Jakarta – Bandung tapi juga di jalan-jalan tol lain di seluruh penjuru Indonesia. Sekali lagi saya tegaskan hanya “jalan tol” padahal jalan tol yang semacam ini mungkin hanya ada 5% dari seluruh jalanan di penjuru Indonesia dari Sabang sampai Merauke. 95% yang lainnya statusnya adalah seakan-akan mirip jalan tol.

Cobalah sekali-kali lintasi jalur Sangatta – Balikpapan maka mungkin inilah jalanan yang mencerminkan wajah Indonesia sebenarnya. Lebar jalan yang tidak standar, dengan rambu dan penerangan apa adanya lengkap dengan kondisi jalan yang cocok sebagai kubangan kerbau daripada sebuah jalan propinsi. Atau jalur-jalur lain lintas propinsi di luar Jawa, karena saya belum pernah melewati jalur selain Jawa dan Kalimantan maka saya tidak memberikan testimonialnya tetapi saya kira nasibnya serupa dengan jalur lintas propinsi di Kalimantan yang sangat jauh dari keselamatan itu.

Terakhir, untuk pemimpin negara ini : Jalanan yang mempunyai standar keselamatan tinggi hanya 5% saja sudah membuatku bangga ketika melewatinya maka tidaklah perlu untuk ditingkatkan karena yang berlebihan itu tidaklah baik. Atau pengurangan tingkat keselamatan berkendaraan merupakan program pemerintah untuk mengurangi jumlah penduduk karena kenyataannya program Keluarga Berencana tidak berhasil menanggulangi ledakan jumlah penduduk.

*) Sumber Gambar: http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/purbaleunyi_0006.jpg

Advertisements

Di Bandung kita bertemu dan berpisah

“Aku di Bandung, kapan kita ketemuan? Pokoknya nanti kita harus ketemu di Bandung. Sabtu-Minggu aku libur. Nanti kita kontak-kontakkan lagi”

Begitu kata Wahyu di telepon padaku saat dia berada di Bandung untuk latihan terjun payung lanjut. Memang dia adalah salah satu anggota TNI Angkatan Udara dengan pangkat Lettu.

3 tahun kulewati bersamanya ketika kami berada dalam seragam putih abu-abu. Selalu memilih tempat duduk paling belakang di kelas dan aku selalu berada di depannya. Tak ada kegiatan yang tak kami lewati bersama, kami adalah rangkaian yang tak terpisah bersama sahabat yang lain. Tumbuh bersama mencari jati diri dalam gelegak darah jiwa muda kami. Read more of this post

A Little Java in Sunda Island

Menghuni sebuah kota baru pada awalnya pasti tidaklah mudah, perlu adaptasi yang cukup melelahkan. Harus tahu budaya, kultur, kebiasaan, tingkah laku, jalanan, dan lokasi-lokasi strategis yang sekiranya penting buat kita menjalani hidup. Setidaknya ada 5 kota di Indonesia yang pernah menjadi persinggahanku cukup lama selain di Yogyakarta tentunya. Yang pertama adalah Solo, kota ini menjadi tempat persinggahanku karena kedua orangtuaku berasal dari sana, mau tak mau aku harus ikut hidup cukup lama di kota Solo. Yang kedua adalah Jakarta, di kota inilah aku dilahirkan, ada semacam ikatan batin antara diriku dengan kota ini walaupun sampai dengan saat ini aku tidak pernah menikmati hidup di Jakarta. Yang ketiga adalah Banjarmasin, kota ini kuhuni cukup lama karena boleh dibilang di kota inilah aku pertama kali menetap untuk bekerja, walaupun aku pernah bekerja sebelumnya di kota lain tetapi tidak pernah menetap lama. 1,5 tahun kulewati hidupku di Banjarmasin, saya kira angka yang cukup untuk bisa membuktikan bahwa saya pernah hidup disana. Yang keempat adalah Sangatta, setidaknya 1 tahun kulewati hidupku di sini, tak lain dan tak bukan hanyalah untuk bekerja di perusahaan tambang yang berada di sana dan kota ini menjadi tempat persinggahanku sebelum akhirnya aku bersinggah di kota kelima yaitu Bandung. Read more of this post

Mencari Paris di Bandung

Kota Bandung adalah kota wisata yang mempunyai beberapa julukan, antara lain adalah Kota Kembang, Bandung Lautan Api dan Parijs van Java. Dengan beberapa julukan inilah yang menjadikan nama Bandung tidak asing dalam kancah nasional maupun internasional. Bandung menunjukkan taringnya dalam perjuangan Indonesia dengan julukannya yang terkenal sebagai Bandung Lautan Api dan dalam sejarah perdamaian internasional, Bandung juga turut andil dengan menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika. Dari semua sejarah yang ada, yang paling membekas adalah julukan yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda kala itu kepada Bandung sebagai Parijs van Java. Remy Silado juga turut mengambil bagian dengan memberikan judul Parijs van Java dalam novelnya yang berlatar belakang kota Bandung kala pemerintahan kolonial Belanda. Dalam novel tersebut, cukup apik digambarkan situasi Bandung pada tahun 1920-an sebagai latar belakang kisah yang ditampilkan oleh Remy Silado. Sebenarnya apa yang mendasari pemerintah kolonial Belanda kala itu menjuluki kota Bandung sebagai Parijs van Java yang berarti Bandung adalah Paris yang ada di Jawa ?

Seperti yang telah diketahui bersama bahwa kota Paris tidaklah asing lagi di dunia sebagai kota yang penuh keindahan. Sebagian besar penduduk dunia memimpikan untuk bisa berkunjung di kota yang terletak di benua Eropa ini. Paris, ibukota Perancis yang dibangun di tepi sungai Siene ini terkenal sebagai ‘Kota Bertaburan Lampu’ (la Ville Lumière). Paris adalah tujuan wisata terkemuka sejak dahulu kala. Kota ini dikenal dengan arsitektur bangunannya yang indah, pengaturan kota dan jalan-jalan besarnya, dan juga koleksi museum-museumnya. Menara Eiffel dan Katedral Notre Dame adalah salah satu tujuan wisata disana dan sangat sering digunakan sebagai latar belakang pembuatan film. Di Indonesia sendiri pernah ada film remaja yang mengambil latar belakang Menara Eiffel, kalau masih ingat filmnya berjudul “Eiffel I’m in Love”. Sebegitu raksasanya keindahan Paris sehingga sangat mengesankan sekali bahwa pemerintah kolonial Belanda bisa menemukan kota Paris di pulau Jawa yang tidak lain hanya ditemukan di kota Bandung.

Secara geografis kota Bandung berada di tengah-tengah propinsi Jawa Barat yang terletak pada ketinggian ±768 m di atas permukaan laut rata-rata (mean sea level). Berada di antara pegunungan dan menempati dataran tinggi membuat Bandung memiliki hawa yang sejuk. Pada tahun 1810 Gubernur Jendral Daendelslah yang pertama kali mematok pusat kota Bandung di tepi Sungai Cikapundung yang berseberangan dengan alun-alun sekarang. “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!”). Sekarang tempat itu menjadi titik pusat atau KM 0 kota Bandung (di beberapa referensi menyebutkan bahwa pendiri kota Bandung bukanlah Daendels melainkan Bupati kala itu yaitu RA. Wiranatakusumah II). Dari titik pusat itulah kemudian pembangunan Kota Bandung mulai berkembang hingga sekarang.

Hawa yang sejuk dan masih alami kemungkinan merupakan dasar yang kuat mengapa Bandung dijuluki Parijs van Java kala itu. Konsep pembangunan kota juga memikirkan keindahan arsitekturnya untuk mendekati seperti julukannya. Bangunan tua berarsitektur Belanda masih dapat dilihat hingga sekarang; Gedung Sate, Gedung Savoy Homan, Gedung Merdeka, Observatorium Bosscha adalah beberapa contohnya. Belanda kala itu memang tidak main-main terhadap julukan Parijs van Java kepada kota Bandung, mereka berusaha memindahkan Paris ke Bandung. Julukan Parijs van Java pun melekat kepada Bandung, entah siapa yang pertama kali mencetuskannya. Mulailah berbondong-bondong masyarakat dari kerajaan Belanda mulai mendatangi Bandung untuk sekedar menikmati keindahan Parijn van Java atau bahkan mencintai dan hidup di Bandung dengan mendirikan rumah-rumah atau vila-vila bergaya arsitektur Belanda di seputaran Bandung. Pada saatnya nanti, mereka akan kembali lagi ke negerinya karena alasan keamanan akibat perang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain itu diyakini juga bahwa dayatarik mojang-mojang asli Bandung yang geulis-geulis juga menjadi alasan mengapa Bandung mendapat julukan ini. Untuk hal ini ada kiasan yang mendukungnya “Seandainya ada 10 orang gadis Bandung, maka yang cantik adalah 12 orang” Hehehe… Saking melimpahnya kecantikan mojang Bandung maka kecantikannya melebihi dari jumlah orangnya 🙂

Bandung saat ini telah banyak mengalami perubahan semenjak pertama kali julukan Parijs van Java disandangnya. Kesan udara sejuk, segar, permai dan alami mulai luntur dengan hiruk-pikuk perkotaan yang menebarkan polusi di sana-sini. Hutan kota mulai digantikan dengan factory outlet, mall, kos-kosan maupun penginapan. Tetapi ditengah kompleksnya pertambahan jumlah penduduk dan berbagai macam masalah sosial dan ekonomi yang melanda negeri ini, pemerintah kota masih tetap berusaha mempertahankan keberadaan Paris di kota Bandung. Di beberapa sudut kota dikembangkan konsep Citywalk, yaitu tata kota yang memberikan penghargaan tinggi kepada pejalan kaki dengan menyediakan trotoar yang lebar dan bersih serta ditanami pepohonan di pinggir jalan untuk menaungi agar tidak terlalu panas saat berjalan di terik matahari. Konsep citywalk ini salah satunya bisa ditemui di sepanjang Jalan Braga. Gedung-gedung tua berarsitektur Belanda dipelihara dengan baik dan dimanfaatkan untuk dijadikan perkantoran tanpa mengubah sedikitpun tampilan asli gedungnya walaupun dengan pembenahan di sana-sini. Beberapa pertokoan masih banyak yang menggunakan nama Parijs van Java sebagai rasa bangga terhadap julukan itu. Mojang-mojang Bandungpun masih geulis-geulis dan makin terlalu percaya diri menunjukkan kegeulisannya pada kaum adam. Setidaknya bikin Bandung tambah sejuk di mata bagi kaum adam 🙂

Ternyata pemerintah kota Bandung tidak main-main dengan tetap mempertahankan Paris di Bandung karena di sebelah Utara kota Bandung didirikan mega plaza yang luas bin megah dengan gaya arsitektur yang aduhai. Di dalamnya memuat konsep citywalk pada lantai satu dan bukan bertingkat ke atas tetapi ke bawah menjual kebutuhan hidup tersier yang jet zet. Bagian depannya merupakan deretan kafe tempat kongkow yang asyik bagi semua generasi dan disambut hiburan musik tiap malam minggu membuatnya selalu ramai dikunjungi. Mega plaza yang luas bin megah serta aduhai itu diberi nama Paris Van Java

+ Loh kenapa? Memangnya ada yang salah dengan nama itu?

Engga sih, tapi kan seharusnya Parijs van Java ? Hurufnya itu lo salah. Bukannya itu dari bahasa Belanda, kalau Paris Van Java bahasa apa ya?

+ Ah ga penting, yang penting ada Paris di Pulau Jawa dan itu letaknya di Bandung.

Di Bandung atau di mega plaza yang luas bin megah serta aduhai itu? Mungkin Paris yang ada di Bandung dengan Paris yang aslinya memang berbeda. Aku tidak bertemu Paris yang kucari di Bandung karena yang kutemui adalah Paris yang lain.