Nusantara Sudut Pandang Vlekke

Membaca Nusantara seperti membaca sebuah surat yang tidak pernah ditujukan kepada diri kita tetapi bercerita tentang kehidupan masa lalu kita yang tidak pernah kita sadari dan sedikit kita ketahui. Ini adalah tentang bagaimana seorang Vlekke yang bercerita tentang Nusantara kepada para saudara-saudaranya di negeri barat sana. Bukan kepada kitalah Vlekke bercerita. Mengenai baik dan buruknya sejarah Nusantara adalah sudut pandangnya-lah yang paling utama karena dialah sang penulis dan penulis sudah sewajarnya menjadi penguasa bagi tulisannya.

Taufik Abdullah dalam tinjaunnya mengungkapkan bahwa Bernard H.M. Vlekke adalah gurubesar di bidang international relations dari Universitas Leiden. Indonesia bukanlah wilayah keahliannya. Bukunya bukanlah hasil penelitian primer, melainkan berdasarkan sumber sekunder. Paling mencolok dalam tiap tulisannya adalah setiap kondisi Nusantara yang diceritakannya selalu dibandingkan dengan kondisi Eropa waktu itu. Hal inilah yang membuat menarik membaca buku ini. Ketika kita dikerucutkan dengan keadaan sebuah dunia dimana terdapat beberapa raja yang menguasai sebuah pulau di sebelah Tenggara Benua Asia, keadaan global juga dijelaskan sebagai pembanding dimana para penakluk lautan berkulit putih mulai berduyun-duyun datang untuk mencari sebuah dunia baru demi raja, status, agama, kejayaan, pangan, kekayaan, ilmu pengetahuan dan masa depan. Read more of this post

Sejarah Penyelidikan Geologi di Indonesia

Penyelidikan geologi di Indonesia berperan pen- ting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan sumberdaya alam di Indonesia, tujuannya tidak lain untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa ini. Penyelidikan geologi di Indonesia telah mencapai lebih dari satu seperempat abad dimulai pada tahun 1850. Penyelidikan geologi di Indonesia dalam lingkup peristiwa dibagi menjadi empat masa penting, yaitu Masa Pendudukan Belanda, Masa Pendudukan Jepang, Masa Perang Kemerdekaan dan Masa Mengisi Kemerdekaan.

Read more of this post

Pilihan Hidup

Tulisan ini sebenarnya sudah pernah saya muat di blog katastropi saya, ketika waktu itu masih menggunakan fasilitas blog friendster. Tidak ada salahnya untuk memindahkan kembali ke blog ini. Semoga bermanfaat.

*****

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah novel Jepang dengan judul Norwegian Wood karya Haruki Murakami. Norwegian Wood adalah novel yang bertemakan cinta. Cinta yang disajikan dalam novel ini bukan merupakan kisah cinta murahan tapi memerlukan perenungan yang lebih dalam dan pemikiran kedewasaan yang dibumbui dengan kisah-kisah yang lucu dan tragis. Karakter tokoh yang dipilih oleh Murakami merupakan karakter yang tidak biasa dan secara konsisten terus dipertahankannya sampai akhir dari novel ini. Gaya penulisan Murakami yang tidak terbatas memaksa sang pembaca secara magis masuk ke dalam hingga sampai ke tahap perenungan yang sangat dalam. Read more of this post

Sejarah (mental) itu kembali terulang?

Saat cutiku kemarin di Jogjakarta aku selalu sempatkan untuk mampir ke toko buku. Aku memilih toko buku yang ada di Mall Ambarukmo Plaza karena sekalian cuci mata setelah beberapa lama terhalang oleh debu tambang. Atas referensi sahabat aku memilih beberapat buku dan salah satunya adalah Selamatkan Indonesia – Agenda Mendesak Bangsa penulis Moh. Amien Rais. Dengan bahasa yang khas Pak Amien yang lugas, buku ini sangat menarik untuk membuka kembali wacana apa yang sedang terjadi di Indonesia. Begitu pelik tetapi itulah kenyataannya, aku kira memang benar pada halaman awal ditulisnya bahwa buku ini dipersembahkan untuk Semua anak bangsa yang masih peduli dengan martabat dan harga diri bangsa. Dan aku coba ringkas kembali menurut versiku :

Those who fail to learn the lessons of history are doomed to repeat them. Mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulang pengalaman sejarah itu. (George Santayana)

Sejarah telah menuliskan bahwa Indonesia pernah terjajah sekitar 350 tahun oleh Belanda. Dalam 3,5 abad itulah kekuatan ekonomi dan politik kepulauan nusantara telah dikuasai oleh penjajah Belanda yang diwakili oleh korporat dagangnya VOC. Sumberdaya alam dan manusia negeri ini telah diperas habis-habisan tanpa imbalan yang setimpal. Hutan rimba belantara yang memayungi tanah Indonesia dibuka untuk kepentingan perdagangan rempah-rempah dan jalur-jalur penyaluran ekonomis. Kemana larinya keuntungan itu? Tak lain mengalir ke kerajaan Belanda yang letaknya ratusan kilometer disana. Pada 1669 VOC telah menjadi “perusahaan swasta” terbesar di dunia dengan memiliki 150 kapal dagang, 40 kapal perang, 50.000 karyawan, angkatan darat swasta sebesar 10.000 prajurit, dan pembayaran deviden sebanyak 40%.

Mengapa VOC begitu Berjaya menjarah kekayaan alam Indonesia sampai sekitar 3 abad? Alasannya karena pemerintah Belanda kala itu memberikan dukungan politik sepenuhnya. VOC diberi hak monopoli dagang di Hindia Timur dan dibantu menyingkirkan para pesaing dari Eropa seperti Inggris dan Portugal. Piagam dari pemerintah Belanda diberikan kepada VOC yang berarti bukan saja untuk memonopoli dagang tetapi juga wewenang untuk menduduki wilayah mana pun yang dikendaki dan menjajah penduduk asli sesuai dengan tuntutan pasar dan kebutuhan politik VOC sendiri.

Diluar itu, ada alasan yang lain mengapa VOC berhasil menjajah Indonesia. Elite atau penguasa Indonesia waktu itu seperti para raja tidak semuanya melakukan perlawanan bersama rakyat untuk memukul balik kekuatan imperialis-kolonialis tetapi justru sebagian dari mereka melakukan konspirasi dengan pihak penjajah. Pahlawan-pahlawan Indonesia seperti Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Cik di Tiro, Pangeran Diponegoro tentu telah berbuat yang terbaik untuk kepentingan nusantara akan tetapi masih ada juga lapisan aristokrasi yang cenderung berdamai dan mensubordinasikan diri di bawah kompeni dan penjajah Belanda malahan mengumpulkan pajak atas nama Pemerintahan Hindia Belanda. Contohnya adalah Amangkurat I dan II yang menggantikan Sultan Agung sebagai raja Mataram justru mempermudah jatuhnya sebagian wilayah Jawa Barat ke tangan VOC pada akhir abad 17. Saat Amangkurat II diganti oleh Pemerintah Belanda dengan pamannya Pakubuwono I, konsensi tanah yang lebih luas lagi diberikan pada Pemerintah Belanda. Pada tahun 1755 wilayah kerajaan Mataram telah mengkerut kecil. Seluruh pulau Jawa telah jatuh ke tangan Belanda kecuali daerah Jogjakarta dan Surakarta, itupun dipecah menjadi dua kerajaan, kesultanan dan kasunanan. VOC dan Pemerintahan Belanda akan kesulitan menguasai Indonesia apabaila elite pada masa itu tidak membuka pintu lebar-lebar bagi VOC dan Pemerintahan Belanda. Untuk itulah selama 3 abad lebih mentalitas anak bangsa telah rusak parah dan menjadi mental inlander bahkan hingga saat ini.

Secara harafiah, inlander berarti pribumi atau anak negeri. Dalam zaman penjajahan, istilah inlander digunakan secara sinis-sarkastik buat anak-anak bangsa yang penakut, merasa inferior di depan penjajah Belanda. Selalu jadi pecundang serba nrimo, bodoh, potongan dan jahitannya memang pantas untuk dijajah dan dihina. Mental inlander adalah musuh dari dalam tubuh sendiri suatu bangsa. Adalah bangsa tersebut merasa begitu kerasan dengan mentalitas terjajah, dengan perasaan rendah diri serta penyakit yang selalu kalah. Pada perkembangan selanjutnya, mentalitas ini akan membuahkan kebingungan, kelemahan dan kehilangan percaya diri.

VOC mungkin sudah tidak ada lagi di muka bumi ini tetapi korporasi dagang versi lain masih bercokol di muka bumi ini. Jiwa penjajah masih ada di beberapa bangsa. Saling mencaplok sumberdaya alam antar bangsa dengan modus kejahatan kerah putih masih dapat kita saksikan hingga kini. Korbannya adalah negara-negara bermental inlander yang selalu membuka lebar untuk masuknya penjajahan dibalik tabir korporasi dagang dengan cara melemahkan sendi ekonomi, politik dan pertahanan negara. Negara yang bermental inlander akan menjadi bulan-bulanan negara-negara yang lain, uang sudah menjadi raja bagi semua keinginan, semuanya bisa dibeli termasuk harga diri dan mental sebuah negara mulai dari pemimpinnya hingga rakyatnya.

Saat ini kita dapat menyaksikan secara langsung satelit palapa (indosat) yang selalu memantau segi kehidupan Indonesia selama 24jam non stop dikuasai oleh asing, pulau-pulau Indonesia makin mengecil untuk disumbangkan ke negara tetangga yang makin luas dan makin maju, larinya kayu-kayu hasil illegal logging ke negara tetangga untuk disahkan menjadi miliknya kemudian dijual kembali ke Indonesia, gempuran habis-habisan korpotokrasi perusahaan asing di Indonesia yang menguasai sendi-sendi kehidupan Indonesia dan masih banyak lagi. Kehidupan Indonesia saat ini bukanlah ditentukan oleh tangannya sendiri tetapi sudah ditentukan oleh kekuatan lain di luar tubuh Indonesia.

Saat ini nasionalisme yang tersisa hanyalah ketika ada pertandingan olahraga antara Indonesia dengan negara lain. Nasionalisme olahraga adalah nasionalisme simbolik karena bersifat kasatmata. Bila bangsa diibaratkan sebuah rumah di pinggir jalan raya, olahraga bagaikan pagar depan yang langsung dilihat oleh setiap pengguna jalan raya. Obsesinya adalah bagaimana pagar tersebut bisa terlihat selalu bersih, mengkilat dan terawat sehingga ketika perabotan rumah dicuri orang di depan mata si pemilik rumah maka tidak dipedulikan. Kita bela merah putih hanya bersifat simbolik saja tetapi ketika kekayaan alam kita dikuras dan dijarah, ketika sektor ekonomi seperti perbankan dan industry vital dikuasai asing dan bahkan ketika kekuatan asing sudah bisa mendikte pertahanan Indonesia kita hanya diam membisu. Sejarah menuliskan bahwa bangsa Indonesia mengalami penjajahan Belanda sekitar 3,5 abad lamanya dan sudah cukup berhasil untuk membuat mental bangsa ini menjadi mental Inlander. Apakah sejarah penjajahan ini akan kembali terulang?

There are seven sins in the world: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, and Politics without principle. Ada 7 macam dosa di dunia : Kekayaan tanpa kerja, Kesenangan tanpa nurani, Pengetahuan tanpa watak, Perdagangan tanpa moralitas, Ilmu tanpa kemanusiaan, Ibadah tanpa pengorbanan dan Politik tanpa prinsip. (Mahatma Gandhi)

Menjadi Priyayi di tengah jaman Bill Gates

Priyayi sangatlah identik dengan kelas masyarakat Jawa. Julukannya didasarkan atas darah keturunan dengan raja-raja penguasa Jawa, penganugerahan gelar oleh kerajaan karena pengabdiannya sebagai abdi dalem atau pengabdiannya sebagai pegawai pemerintahan kala itu. Selain dari kelas priyayi, masih ada kelas masyarakat Jawa selain priyayi yaitu kawula alit (masyarakat kecil) yaitu kelas masyarakat Jawa yang tidak mempunyai garis keturunan langsung dengan raja-raja Jawa juga tidak mempunyai profesi yang layak disebut priyayi, mereka biasanya dari kalangan petani atau pekerja biasa. Menjadi seorang priyayi merupakan kebanggaan yang tiada duanya karena pada masanya merupakan kelas utama dalam struktur masyarakat Jawa di bawah seorang Raja. Masyarakat Jawa lain di luar kepriyayian akan mendukung status ini dengan menyanjungnya seakan priyayi adalah kelas manusia unggul daripada yang lain. Mereka akan memiliki panggilan “Den” dari Raden atau “Ndoro” dari Bendoro. Dalam bahasa Jawa, ada tingkatan kelas penggunaan bahasa mulai dari yang paling rendah sampai tertinggi adalah Ngoko, Kromo Madya, Kromo Inggil. Saat kelas masyarakat di luar priyayi (kawula alit) ketika akan berbicara dengan para priyayi haruslah menggunakan bahasa yang paling halus yaitu Kromo Inggil sedangkan para priyayi apabila berbicara dengan kelas masyarakat Jawa di bawahnya cukup dengan Kromo Madya atau Ngoko saja.

Menjadi priyayi bukan semata-mata hanya menyandang julukan tetapi haruslah berimbas pada praktek kehidupan seorang priyayi. Priyayi mempunyai norma-norma sendiri yang berlaku bagi kelasnya. Tutur kata, sikap, dan gaya hidup haruslah mencerminkan kewibawaan kepriyayiannya. Untuk meresmikan gelar yang ia sandang sebagai priyayi seperti Kanjeng Raden Tumenggung atau gelar yang lain mesti melewati beberapa tahapan dan persyaratan yang telah ditentukan oleh pihak kraton. Bahkan para priyayi mempunyai permainan sendiri bagi kaumnya kala itu yaitu ceki dan pei (permainan kartu cina). Menyandang kelas priyayi adalah menerima segala konsekuensi baik dan buruknya. Para priyayi biasanya menjadi panutan bagi masyarakat di sekitarnya, mereka akan dipandang menjadi seseorang yang memiliki kebijaksanaan bagaikan tangan kanan seorang Raja. Menurut Umar Kayam dalam novelnya Sang Priyayi, menjadi priyayi adalah menjadi orang yang terpandang di masyarakat bukan jadi orang kaya. Priyayi itu terpandang kedudukannya karena kepinterannya. Kalau mau jadi kaya ya jadi saudagar, jadi bakul (pedagang) saja.

Priyayi adalah sebuah tradisi kebudayaan yang turun temurun di kalangan masyarakat Jawa. Mereka yang mengerti akan menghormatinya dan menjalaninya. Sebuah konflik melawan sebuah tradisi tertuang dalam novel Sang Priyayi karya Umar Kayam. Diceritakan disana bahwa Sastrodarsono membangun dinasti priyayi bagi keturunannya sebagai pegawai gupermen menjadi seorang guru di sebuah sekolah. Dia layak mendapat julukan seorang priyayi karena pekerjaannya dan masyarakat sekitarnya pun menyanjungnya sebagai seorang priyayi dengan memanggilnya sebagai “Ndoro Guru Sastrodarsono”. Dia juga menerapkan pola hidup priyayi dalam setiap kehidupannya, dirumahnya yang kala itu layak disebut paviliun tinggal juga beberapa anggota keluarganya yang ngenger (numpang hidup). Bagian belakang rumahnya adalah pekarangan yang luas yang bisa dijadikan tegalan sawah kala musim tanam tiba. Bahasa krama inggil haruslah digunakan ketika berbicara dengan Ndoro Guru. Pokoknya Ndoro Guru Sastrodarsono adalah seorang priyayi tulen yang terhormat dan harus dihormati kalangan manapun. Konflik mulai timbul ketika terjadi pemindahan pemerintahan dari gupermen (Belanda) ke tangan Nippon (Jepang). Segala macam sistem pemerintahan mulai diubah dari rasa Belanda menjadi “rasa” Nippon. Tidak mudah karena “rasa” Belanda telah bercokol lama di negeri ini. Perubahan ini berlaku pula untuk sistem pendidikan di sekolah-sekolah termasuk sekolah tempat Ndoro Guru Sastrodarsono bekerja menjadi guru. Setiap upacara diharuskan menyanyikan lagu kebangsaan Nippon, semua murid diharuskan bercukur gundul pelontos, setiap pagi diharuskan membungkuk ke arah utara untuk menghormati Tenno Heika (kaisar Jepang) yang diyakini masih keturunan dewa, sebelum memulai pelajaran juga harus melakukan taiso (olahraga ringan). Hal ini menyulitkan Ndoro Sastrodarsono yang sudah sepuh (tua) karena harus terus membungkuk-bungkuk juga membuatnya kurang nyaman karena Ndoro Guru adalah seorang priyayi yang terhormat. Pemerintahan Nippon buta akan tradisi yang berlaku di masyarakat Jawa, mereka pukul rata bahwa semua masyarakat Jawa adalah sama, sama-sama orang terbelakang dan tidak layak dihormati. Ndoro Guru Sastrodarsono enggan untuk melakukan kegiatan bungkuk-membungkuk ke arah utara, alhasil Ndoro Guru Sastrodarsono didatangi oleh tentara Dai Nippon yang tanpa sopan santun langsung membentak-bentak dengan kata-kata kasar bahkan tanpa ba-bi-bu langsung menempeleng kepala Ndoro Sastrodarsono. Bisa dibayangkan bahwa seorang priyayi yang terhormat yang biasanya untuk berbicara dengannya pun harus dengan kromo inggil tetapi dibentak-bentak dengan kata-kata kasar. Seorang priyayi yang terhormat yang menatap matanya pun tidak diperkenankan sekarang ditempeleng beberapa kali di kepalanya. Ndoro Guru Sastrodarsono betul-betul terpukul hingga menangis sesenggukan karena merasa harga dirinya sudah tidak ada lagi. Dia adalah seorang priyayi guru tetapi di mata Dai Nippon dia adalah orang Jawa yang terbelakang. Seumur hidup Ndoro Guru Sastrodarsono tidak akan melupakan pengalaman itu.

Konflik tradisi tersebut merupakan gambaran mengenai konflik budaya Jawa dengan budaya yang lain yang datang. Apabila menilik saat ini malah semakin banyak konflik antar tradisi yang terjadi. Arus globalisasi semakin membanjir dan tidak mungkin terbendung lagi sementara tradisi kebudayaan Jawa mesti ditegakkan. Walaupun demikian masih banyak orang yang fanatik terhadap tradisi Jawa. Seorang priyayi yang masih mempunyai garis keturunan dengan raja-raja Jawa mencantumkan gelarnya di akta kelahiran atau mensertifikasikan gelar tersebut dengan stempel resmi keraton dan membayar iuran rutin perbulan untuk perawatan kraton. Saat ini hampir tidak ada keuntungan yang positif apabila tetap mempertahankan status kepriyayiannya malahan mendapatkan cemoohan karena dianggap feodal atau sombong. Tetapi pada kantong-kantong pemukiman kraton baik Surakarta maupun Yogyakarta status priyayi ini masih berlaku, mereka akan senantiasa mempertahankan tradisi itu turun-temurun. Panggilan “Den (Raden)” dan “Ndoro (Bendoro)” acap kali terdengar.

Menilik perkembangan jaman sekarang ini, status priyayi tidak lagi diperdulikan. Yang lebih dihormati adalah orang-orang yang berprestasi dan menonjol di bidang yang ia geluti. Tidak peduli dia dari kelas masyarakat apa, entah dari kawula alit ataupun dari priyayi semuanya sama dan layak untuk dihormati tidak dengan panggilan “Den” atau “Ndoro” tetapi dengan penghargaan berupa beasiswa, honor atau jabatan atas kemampuan untuk berkreasi dan mencipta. Dalam novel Sang Priyayi diceritakan saat masuknya satu budaya dari Jepang ke Indonesia kala itu saja sudah menimbulkan konflik apalagi di jaman Bill Gates ini. Saat jarak tidak lagi menjadi masalah dengan adanya internet sehingga semua budaya bisa masuk dengan mudahnya. Mempertahankan kepriyayian serasa naïf tetapi tergantung dari tujuannya mempertahan status kepriyayian tersebut. Tidak ada salahnya dengan mereka yang terus mempertahankan tradisi tetapi untuk jaman Bill Gates ini asal bertujuan untuk mengenalkan budaya Jawa ke masyarakat luas atau bahkan ke luar negeri bahwa Indonesia mempunyai kebudayaan yang maha luas. Bukan karena mempertahankan kepriyayiannya agar bisa seenaknya sendiri dengan orang lain dan memaksa mereka untuk terus memanggil “Den” atau “Ndoro”. Di Jaman Bill Gates ini menjadi priyayi tidak harus mempunyai garis keturunan langsung dari kraton Surakarta maupun Yogyakarta tetapi dari pola pikir, tingkah laku, moral dan wibawanya yang mencerminkan seorang priyayi tidak peduli dia dari kawula alit ataupun dari belahan Indonesia manapun. Mari kita ramai-ramai menjadi seorang Priyayi yang betul-betul mriyayeni 🙂