Azab Geologi

Rangkaian shalat Jum’at adalah adanya khotbah dan ini adalah ketentuan, kalo tidak ada mungkin rasanya wagu. Bukan hanya melengkapi rangkaian saja tetapi yang terpenting adalah isi dari khotbah itu. Se-pengalaman saya mengikuti khotbah Jum’at telah mendengarkan berbagai materi dan isi khotbah yang bervariasi mulai dari yang sifatnya provakatif, fundalisme, sejarah, dan informasi-informasi terkini tentang berita nasional tentunya berhubungan dengan akidah Islam. Dari yang hanya monoton membosankan bikin ngantuk (karena materinya itu-itu saja), provokatif bikin mangkel sampai ingin keluar dari forum khotbah Jum’at, sampai yang menarik karena memberikan informasi update berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Read more of this post

Kepercayaan lokal dan keseimbangan bumi

Setiap makhluk di dunia ini memiliki tugas masing-masing. Seekor nyamukpun mempunyai tugas untuk menyebarkan penyakit malaria mengurangi jumlah manusia yang menjarah hutan hujan tropis. Makhluk gaib termasuk didalamnya, bukan karena penyebutan di depannya menggunakan “makhluk” tetapi aku meyakininya memang ada. Tidakkah terpikir bahwa gendruwolah yang menjaga pohon-pohon bambu, hutan-hutan rimba dan tebing-tebing jurang? Tuyul mencuri uang manusia sekedar untuk mengingatkan bahwa ingatlah untuk berbagi kekayaan kepada sesama bukan hanya menumpuk harta. Kuntilanak menculik anak-anak untuk mengurangi laju natalitas manusia agar tak memenuhi bumi dan hantu pocong yang selalu muncul di malam hari menjaga manusia agar tak keluyuran tak berguna di malam hari.

Kepercayaan lokal mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia. Saat penguasa di belantara Indonesia masih berupa kerajaan-kerajaan, tidak dipungkiri bahwa banyak sekali kepercayaan lokal yang berkembang. Bahwa kita tidak boleh sembarangan memasuki hutan karena di dalamnya terdapat kerajaan gendruwo yang akan menculik setiap orang yang datang mendekatinya. Atau pohon-pohon tua yang keramat yang selalu diberi sesaji setiap malam jumat kliwon. Terpikirkah bahwa kepercayaan lokal ini mempunyai makna penjagaan terhadap sumberdaya alam berupa hutan, air dan gunung-gunung yang juga berguna bagi umat manusia. Bukankah ini berarti perintah untuk menjaga pohon-pohon agar tidak ditebang secara sembarangan, tidak mengusik ekosistem hewan di hutan yang sebenarnya berimbas juga dengan kesejahteraan umat manusia. Tidak heran bahwa pada waktu itu kelestarian alam di bumi Indonesia masih benar-benar terjaga karena masyarakat pada waktu itu memberikan rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada makhluk gaib penunggu alam raya ini. Pada perkembangan selanjutnya, kepercayaan lokal ini diobrak-abrik oleh Jendral Daendels dengan membangun jalan Daendels membelah Pulai Jawa mulai dari Barat sampai ke Timur yang mengharuskan untuk melewati hutan-hutan rimba nan keramat. Masyarakat Jawa kala itu hanya bisa menangis dan melongo seakan tak percaya bahwa kuasa manusia bisa menakhlukkan makhluk gaib penunggu hutan yang mereka hormati seumur hidupnya. Apa yang terjadi? Harimau Jawa punah terlebih dahulu.

Harus diberi penghargaan yang sebesar-besarnya bagi mereka para pendahulu kita yang telah mengembangkan kepercayaan lokal. Tidakkah dibayangkan apabila tidak adanya kepercayaan lokal maka hutan-hutan dan gunung-gunung akan dibabat sedemikian mudahnya tanpa ada perasaan bersalah apapun. Mengenai sesaji yang diberikan kepada para penunggu hutan janganlah menjadi suatu permasalahan dosa dan tidak dosa, surga ataupun neraka. Kalaupun jin dan siluman itu memang ada, apa salahnya membayar sejenis pajak kepada mereka ketika kita memasuki wilayah mereka? Sejauh pajak itu cuma sesajen bunga-bungaan, buah-buahan, sejumput makanan, apa salahnya? Apalagi diracik indah dengan perasaan dan nilai seni yang tinggi. Kalau kita membayar pajak kepada pemerintah bukan berarti kita menyembah pemerintah atau menyekutukan Tuhan kan? Janganlah berlebihan atau menjadi sebuah ideologi untuk di pertaruhkan dengan berdarah-darah.

Saat modernitas, globalisasi dan pemahaman sempit tentang religi sudah membaur dalam diri kita, maka kepercayaan lokal semacam ini semakin lama semakin luntur. Permasalahannya bukan ritualnya tetapi makna yang terkandung di dalamnya. Bisa kita lihat saat ini bahwa penjarah hutan tidak lagi segan-segan untuk “blusukan” hutan rimba tanpa ada rasa takut sama sekali terhadap gendruwo penunggu hutan karena bulldozer mempunyai fisik lebih besar, suara yang lebih bergemuruh dan lampu sorot yang terang benderang. Tidak adalagi penghargaan terhadap alam ini, manusia menjadi seenaknya menginjak-injak bumi ini. Sikap mengeramatkan alam sejalan dengan sikap memeliharanya. Saat ini, mereka yang mempertahankan dan mempercayainya akan dicemooh bahkan dianggap musrik dan di cap sebagai penghuni neraka yang paling dalam padahal justru merekalah yang selama ini menjaga kelestarian bumi ini.

Seandainya semua orang di dunia ini memberikan penghargaan sebesar-besarnya diberikan kepada para makhluk gaib penunggu alam ini maka tidak diperlukan lagi organisasi WALHI, tidak ada lagi permasalahan Global Warming, tidak adalagi permasalahan pembalakan liar dan penambangan liar yang membabi buta. Terimakasih dan kuberikan rasa hormat sebesar-besarnya kepada para arwah penunggu hutan, laut, pantai, gua, sungai, pohon-pohon besar yang selama ini telah mendiami dan menjaganya untuk kelestarian bumi ini. Berikanlah selalu keseimbangan di bumi ini.