Tidak mu(r)dah pindah rumah di Jepang

Akhirnya saya pindah rumah untuk yang kedua kalinya di Jepang atau tiga tempat tinggal yang berbeda. Kali ini rumah beneran, bisa dibilang apartemen atau orang Jepang bilang apato. Lha sebelumnya apa? Sebelumnya bisa dibilang hanyalah sebuah asrama.

Asrama yang saya huni pertama kali ketika menginjakkan kaki di Jepang adalah asrama yang disediakan oleh JICA. Mengenai hal ini saya telah menjelaskan dengan detil di tulisan saya sebelumnya di sini. Genap 10 hari saya tinggal di asrama tersebut akhirnya saya pindah ke asrama mahasiswa di dekat Ito Campus Kyushu University namanya Ito Dormitory. Alasannya karena asrama JICA hanyalah fasilitas sementara untuk menampung partisipan JICA dalam menerima briefing dan training sebelum hidup sesungguhnya di Jepang. Alasan yang lain adalah Kyushu University sudah menyediakan asrama bagi mahasiswanya untuk tinggal dekat dengan kampus tetapi tentunya tidak gratis karena tidak ada yang gratis di Jepang.

 

Fasilitas asrama ini tidak jauh berbeda dengan asrama yang disediakan JICA sebelumnya. Hanya saja ukurannya lebih kecil. Ukuran satu kamar sekitar 3×5 m2 yang di dalamnya terdapat kamar mandi dan dapur mini. Kalau di Indonesia mungkin bisa disebandingkan kamar kos dengan kamar mandi dalam. Tidak luas tapi cukup untuk tinggal seorang diri. Asrama ini juga dilengkapi dengan lift, ruang bersama tiap lantai, aula besar di lantai dasar, internet, ruang cuci pakaian dan petugas penjaga asrama yang standby melayani dari pukul 08.00 hingga pukul 20.00 waktu Jepang. Di asrama ini saya menempati kamar di lantai 6 dengan nomor kamar 622. Biaya sewa kamar perbulan sebesar 23.000 Yen belum termasuk penggunaan internet, listrik dan air. Hitung punya hitung, total yang harus saya bayar perbulan rata-rata 30.000 Yen. Berbeda lagi harga sewa kamar untuk keluarga, kabarnya untuk biaya sewa kamar saja 60.000 Yen. Sayangnya asrama ini hanya boleh ditempati oleh mahasiswa baru maksimal 6 bulan setelah kedatangan, setelahnya diharuskan untuk pindah karena akan digunakan lagi oleh mahasiswa baru yang akan dating kemudian. Atas dasar itulah saya memutuskan untuk pindah selain utamanya karena istri saya akan menyusul ke Jepang sehingga saya membutuhkan tempat yang lebih luas tentunya.

Daerah Susenji kurang lebih 4 km dari kampus tempat saya belajar adalah lokasi tempat tinggal pilihan saya selanjutnya. Selain akses-nya mudah sehingga saya bisa menggunakan sepeda untuk pulang-pergi, fasilitas kotanya juga cukup lengkap. Mulai dari rumah sakit, bank, mall, supermarket, toko barang bekas dan akses transportasi baik bus maupun kereta yang mudah dijangkau. Kekurangannya adalah sampai saat ini belum ada keluarga Indonesia yang tinggal di lokasi tersebut dan tidak ada kursus bahasa Jepang terdekat di daerah tersebut.

Apartemen yang saya pilih bernama Tokieda Koporasu dengan luas kamar 42.82 m2 saya menempati lantai satu dengan nomor kamar 102. Fasilitas di dalamnya berupa dua kamar tidur, ac, kamar mandi, dapur, balkon, jaringan telepon dan internet, dan ruang cuci pakaian. Sebagai catatan, di Jepang biasanya antara kamar mandi dan toilet terpisah dan sebagaialas ruang tidur berupa tatami. Tatami terbuat dari anyaman batang padi yang biasanya didalamnya diisi dengan serutan kayu dengan ukuran perlembarnya 1.82 x 0.91 m2 dengan ketebalan 6 cm. Selanjutnya jumlah tatami ini biasanya dijadikan satuan hitungan bagi luas kamar tidur. Kita bisa bilang bahwa luas kamar tidur saya adalah 6 tatami atau setara dengan 10 m2 dan orang Jepang akan dengan mudah membayangkannya.

Bangunannya terbuat dari beton dan dibangun pada tahun 1988. Cukup tua, tapi begitu masuk bayangan tua tidak terlihat karena dindingnya dilapisi wallpaper yang baru dan beberapa fasilitasnya telah diganti baru pula oleh agen apartemen.

Oh ya… dalam menyewa apartemen di Jepang, kita tidak bisa menyewa secara langsung kepada pemilik apartemen tersebut atau pindah tangan dari penghuni sebelumnya karena semuanya harus dilakukan oleh agen apartemen terpilih dan kamar dalam apartemen tidak diperjualbelikan. Prosesnya cukup rumit tidak seperti menyewa apartemen atau kamar kos di Indonesia yang cukup bertemu dengan pemilik rumah, bayar, dan beres. Untuk kontrak awal dibutuhkan: 1) Shikikin yaitu uang deposit yang nantinya akan kembali kalau tidak ada kerusakan pada kamar apartemen, besarannya 3-4x uang sewa per-bulan. 2) Reikin yaitu uang terima kasih yang diberikan kepada pemilik apartemen, besarannya 1-2x uang sewa per-bulan. 3) Service charge yaitu uang yang diberikan kepada agen apartemen, besarannya 1x uang sewa per-bulan. 4) Uang sewa apartemen itu sendiri dan 5) Asuransi yang besarnya bervariasi antara 10.000 – 20.000 Yen per-tahun. Untuk kasus saya, uang sewa apartemen saya per-bulan sebesar 42.000 Yen, jadi bisa dihitung sendiri berapa yang harus dibayar pada awal kontrak.

Tahap selanjutnya adalah mengaktifkan layanan air, listrik dan gas dalam rumah baru dengan menghubungi perusahaan penyedia layanan tersebut. Tidakrumit, tinggal menghubungi via telpon dan dengan senang hati petugasnya akan dating untuk mengaktifkan atau tinggal menunggu waktunya maka akan aktif dengan sendirinya. Permasalahannya tidak banyak orang Jepang mampu berbahasa inggris dan semua dokumen ditulis dalam huruf kanji sehingga semua proses tersebut menjadi rumit karena kita harus dibantu oleh orang Jepang yang mampu berbahasa inggris untuk menjadi penerjemah.

Sebagai informasi, kamar yang disewakan dalam apartemen tersebut belum termasuk perabotan dan furniture sehingga kita harus membeli sendiri untuk mengisi apartemen yang kosong melompong. Mulai dari meja-kursi makan, kulkas, kompor, mesin cuci, korden, meja setrika, tv, lemari, rak, futon dan lainnya. Untuk melengkapi semua itu, kembali lagi toko barang bekas menjadi andalan utama bagi para mahasiswa penerima beasiswa karena harga baru tak terjangkau lagi.

Apa itu futon? Kasur tidak umum dipakai di Jepang, kalaupun ada harganya sangat mahal. Orang Jepang jika tidur menggunakan futon dan futon mudah dijumpai di supermarket daripada kasur. Futon terdiri dari empat bagian yaitu shikibuton (alas), kakebuton (cover), mofu (selimut), dan makura (bantal). Yang menarik adalah makura atau bantalnya orang Jepang biasanya diisi bukan dengan kapas, busa atau silicon tapi semacam sedotan plastik yang dipotong kecil-kecil (saya tidak tau namanya). Teman saya pernah terluka wajahnya saat pertama kali menggunakan bantal tersebut karena potongan sedotan itu kadang runcing ujungnya dan melukai kulit ketika kita tidur banyak bergerak kepalanya.

Masih mengenai pindah rumah, beruntung-nya saya karena ada teman kuliah saya dari Jepang yang senantiasa membantu segala proses ini termasuk mengangkut barang pindahan karena dia mempunyai mobil pribadi. Di asrama lama, saya harus membuat laporan kepindahan setidaknya 1 bulan sebelumnya, memutus layanan listrik dan air, dan membersihkan kamar lagi seperti semula ketika awal saya tempati. Nantinya, maksimal 2 minggu setelah kepindahan ke apartemen yang baru, saya harus membuat laporan kepindahan untuk mengganti alien registration (ktp) saya di Jepang dengan alamat yang baru.

Melihat proses dan biaya kepindahan rumah ini, rasanya pikir-pikir untuk pindah rumah lagi di Jepang kecuali ada sesuatu hal yang memang penting. Bisa disimpulkan bahwa memang tidak mu(r)dah pindah rumah di Jepang.

 

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

12 Responses to Tidak mu(r)dah pindah rumah di Jepang

  1. bosman says:

    selamat menempati rumah baru ya Mas…, hati2 dengan bantalnya,🙂

  2. Rio Purba says:

    wah order satu set Mbrenk Futonnya.. biar serasa nyewa apartemen di jepang😀

  3. ehemmm btw selamat menempati rumah baru ya mas, walopun nggak kenal. kenalan dulu dech😀

  4. dhila13 says:

    mas iwaan.. gmn di jepang.. eh, masih di jepang? kena tsunami tak? semoga ttp selamay yaa

    • iwantolet says:

      Terimakasih dhila atas perhatiannya. Alhamdulillah aman, Fukuoka prefecture cukup jauh dari pusat gempa dan dampak radioaktif juga tidak menyebar sampai sini sehingga aktivitas tetap berjalan seperti biasa.

  5. mylongjourney says:

    Aku akan merasakannya sebentar lagi. T.T
    Mohon bantuannya
    Yoroshiku

  6. salam hangat dari Indonesia

  7. santhy says:

    ….kaya’nya kenal neeeh….keren Pak blognya, info2nya amat bermanfaat….apalagi klo ditambah peta recycle shop di Fukuoka…..hehehhehe

  8. santhy says:

    …masalah bantal yg isinya sedotan, itu msh mending Pak, drpada sy isi bantal dormy : kerikil!!!….:)

  9. Dito says:

    asrama JICA ki nng Kitakyushu to?
    aq ndhisik melu JICA di dekek ning Kitakyushu je, terus disewakke kamar ning Fujisaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: