Pijatan Kaki Terakhir untuk Yang Kakung

Saya tidak akan pernah bisa lagi memanggil nama Yang Kakung, sebutan yang selalu saya sampaikan kepada beliau sedari kecil. Hanya satu nama Yang Kakung dan itu kupersembahkan untuk beliau, tidak ada yang lain di dunia ini. Yang Kakung adalah adik ketiga dari nenekku. Ayahku adalah keponakan satu-satunya yang beliau miliki karena ayahku anak tunggal dari nenek dan adik kedua nenekku (Yang Gito almarhum) tidak memiliki keturunan.

Sebuah penghargaan yang teramat besar ketika saya dapat merasakan kasih sayang yang sama seperti yang beliau berikan kepada putra-putrinya. Entah sebuah kebetulan atau takdir, ketika pertama kali menghirup nafas di dunia, saya ada di antara beliau di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Kata ibuku, tali pusarku masih tertanam di Jakarta.

Samar-samar masih teringat waktu kecilku berada di pangkuannya di atas kursi goyang di Rumah Cempaka Putih. Yang Kakung menggunakan sarung bali berwarna merah, tenang dan damai kurasakan. Seringkali kulewatkan liburan sekolah dasar hingga SMA untuk berkunjung Jakarta. Perbaikan gizi dan merasakan liburan nan indah yang tidak pernah bisa kurasakan di Yogyakarta. Karena tak bermodal apa-apa, selalu kepersembahkan pijatan tangan terbaikku di kaki Yang Kakung. Yang Kakung tersenyum dan menikmati pijatan sambil terpejam. Kalau usilnya keluar dilemparnya biji salak kepada saya setelah dagingnya habis beliau makan. Jika sedang tak sibuk dan musim liburan sekolah datang, kami selalu beramai-ramai untuk bertamasya di seputaran Jawa. Museum Ambarawa, Bledug Kuwu, Pantai Tanjung Lesung dan masih banyak lagi lainnya.

Bagiku, Yang Kakung adalah sosok inspirasi. Dari beliau aku bisa melihat pentingnya jalinan keluarga. Tak bisa kubayangkan kalau tak ada beliau maka keluarga besar kami tidak akan sedekat ini hingga sekarang. Dari beliau aku bisa melihat kesuksesan, yang membuatku belajar tekun hingga mampu meneruskan ke jenjang S3. Dari beliau aku bisa melihat sebuah kasih sayang yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata. Sifatnya yang jenaka, ramah dan suka memberi telah memberiku banyak ilmu dan bekal hidup hingga sekarang. Entah sudah berapa banyak bantuan moral maupun materiil yang beliau berikan kepada saya sekeluarga. Berjuta-juta pijatan kaki kepada beliau tak akan pernah bisa membalas segala kebaikannya.

Ketika berita itu datang saya sedang melakukan perjalan ekskursi geologi di daerah Kumamoto (Kyushu bagian selatan) bagian dari program S3 di Universitas Kyushu Jepang.  Belum genap 1 bulan di Jepang membuat akses informasi kepada saya sangat minim. Hanya berbekal telepon genggam dengan provider dari Indonesia membuat saya memiliki keterbatasan sinyal untuk menerima telpon ataupun sms.

Yang Kakung berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 5 Oktober 2010 pukul 3.30 WIB dikarenakan sakit keras. Karena terlambat 2 jam dari waktu Indonesia maka pada saat itu di Jepang pukul 5.30. Sinyal telepon baru saya dapat pukul 11.30 waktu Jepang dan datanglah berita tersebut. Lemas dan tak berdaya, seketika itu tak bisa kutahan lagi air mata ini. Tak bisa kuhantarkan beliau ke persinggahan terakhir hanya doa yang bisa kupanjatkan dari sini.

Kini Yang Kakung telah berada di sisi Allah SWT, semoga amal kebaikan di dunia diterima di sisi-Nya. Amiin. Doa kepada beliau terus aku panjatkan dari sini. Semangat dan kasih sayang beliau akan selalu mendapingiku untuk menjalani hidup. Semoga keluarga yang ditinggalkan; Yang Ti, Mas Tomy, Mbak Widya, Mas Ditto dan Mas Haryo diberikan ketabahan hati untuk menerima. Amiin. Selamat jalan Yang Kakung, Selamat jalan Pak Kanjeng. Kupersembahkan berjuta pijatan kaki melalui doa yang tak kunjung berhenti.

 

Cucunda tercinta,

Ito Dormitory Kyushu, 10 Oktober 2010, 13.53 Waktu Jepang

 

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

6 Responses to Pijatan Kaki Terakhir untuk Yang Kakung

  1. bosman says:

    ikut berduka ya mas brenk, u Yang Kakung tercinta.

  2. Insya Allah Eyang Kakung lebih bahagia di sisiNya mas,, =)

  3. ema says:

    Bagus wan..bener bagus bgt..semoga sukses ya sekolahmu🙂

  4. Mas Tommy says:

    Dear Iwan,
    Terima kasih kamu telah memberikan kenangan yg paling indah untuk eyang Kakung.
    Beliau pasti tersenyum melihat kamu berhasil dunia akhirat.

  5. widya says:

    Dear iwan, eyangti’ juga ikut baca … kita lagi kumpul juga malem ini, ada momi, mb ema, mas ardi dan ditto … Baguss bgt, aku sedihh bgt bacanya, makasiii yaa iwan, ternyata eyang kakung kenangan eyang kakung bener2 membekas di kenangan kamu …. bighug **

  6. iwantolet says:

    Terimakasih semuanya, semoga amal ibadah Yang Kakung diterima di sisi Allah SWT. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: