Nusantara Sudut Pandang Vlekke

Membaca Nusantara seperti membaca sebuah surat yang tidak pernah ditujukan kepada diri kita tetapi bercerita tentang kehidupan masa lalu kita yang tidak pernah kita sadari dan sedikit kita ketahui. Ini adalah tentang bagaimana seorang Vlekke yang bercerita tentang Nusantara kepada para saudara-saudaranya di negeri barat sana. Bukan kepada kitalah Vlekke bercerita. Mengenai baik dan buruknya sejarah Nusantara adalah sudut pandangnya-lah yang paling utama karena dialah sang penulis dan penulis sudah sewajarnya menjadi penguasa bagi tulisannya.

Taufik Abdullah dalam tinjaunnya mengungkapkan bahwa Bernard H.M. Vlekke adalah gurubesar di bidang international relations dari Universitas Leiden. Indonesia bukanlah wilayah keahliannya. Bukunya bukanlah hasil penelitian primer, melainkan berdasarkan sumber sekunder. Paling mencolok dalam tiap tulisannya adalah setiap kondisi Nusantara yang diceritakannya selalu dibandingkan dengan kondisi Eropa waktu itu. Hal inilah yang membuat menarik membaca buku ini. Ketika kita dikerucutkan dengan keadaan sebuah dunia dimana terdapat beberapa raja yang menguasai sebuah pulau di sebelah Tenggara Benua Asia, keadaan global juga dijelaskan sebagai pembanding dimana para penakluk lautan berkulit putih mulai berduyun-duyun datang untuk mencari sebuah dunia baru demi raja, status, agama, kejayaan, pangan, kekayaan, ilmu pengetahuan dan masa depan.

Nusantara yang digunakan Vlekke merujuk pada istilah yang diperkenalkan oleh Ki Hadjar Dewantara (1889-1959) yang mengingatkan pada kejayaan masa silam negara Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah. Khususnya ketika Indonesia dikuasai oleh Majapahit dengan kendali patih besarnya Gadjah Mada. Nusantara oleh kerajaan Majapahit (1293-1389) menginspirasi pergerakan nasional Indonesia yang mendambakan model kesatuan politik tersebut hingga terbentuklah negara kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan lahirlah anak bangsa seperti kita semua.

Sejarah Indonesia oleh Vlekke diceritakan mulai dari asal-muasal bangsa Indonesia sampai dengan perang revolusi dengan penekanan sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia. Tidak sedikit cerita sejarah Indonesia pada Nusantara yang sama sekali berbeda dan tidak pernah kita temukan pada buku sejarah versi Indonesia-sentris. Sekali lagi diingatkan bahwa Nusantara ditulis oleh Vlekke yang ditujukan bagi khalayak negara Barat dengan perspektif kolonial.

Dalam bukunya tersebut, Vlekke menjelaskan bahwa kesuksesan Belanda menguasai Nusantara bukan karena negeri kincir angin tersebut mempunyai armada perang yang kuat tetapi karena periode masukknya Belanda ke Nusantara adalah periode dimana kerajaan-kerajaan di Nusantara saling berperang karena konflik internal maupun eksternal dengan dasar perebutan kekuasaan. Belanda datang pada saat yang tepat sebagai penonton dan wasit yang tidak adil dengan memihak secara diam-diam salah satu kelompok yang mempunyai potensi untuk menang dan kemudian dikuasainya dengan cara politik balas budi atau dikondisikan untuk tergantung dengan armada perang Belanda.

Bagaimana pandangan Vlekke mengenai kitab-kitab Jawa kuno seperti Pararaton, Negarakertagama dan Babad Tanah Jawi hasil tulisan para pujangga Jawa terkenal seperti Empu Prapanca? Adalah tidak lebih dari sekedar omong kosong belaka. Dengan pandangan scientist barat yang dimilikinya, tidak serta merta dengan mudah dia menerima bahwa pemisahan kerajaan Kediri dan Jenggala di Jawa Timur adalah hasil dari tuangan air sebuah kendi dari angkasa oleh Mpu Bharada yang tidak dapat menyelesaikan tugasnya karena jubahnya tersangkut di pohon sehingga membentuk Sungai Brantas yang membelok tiba-tiba di Selatan mengelilingi Gunung Kawi. Baginya kitab-kitab sejarah Jawa ini hanyalah sebuah pencampuradukkan fakta dan fantasi yang isi paling utamanya adalah puja dan puji bagi seorang raja yang sedang berkuasa ketika kitab tersebut ditulis.

Penjelasan menarik lainnya dari Vlekke mengenai periode Islamisasi raja-raja Jawa lebih bukan karena mereka memilih Islam karena mereka suka dengan agama tersebut tetapi karena situasi politik yang mendorong mereka untuk berbuat demikian. Para raja-raja Jawa dihadapkan pilihan sulit antara memilih bersekutu dengan Portugis atau bekerjasama dengan Johor dan Demak yang berarti harus memilih Kristen atau Islam. Mereka lebih bersekutu dengan kerajaan Islam karena mereka tidak mau bersekutu dengan Portugis yang terkenal dengan kecurangan-kecurangannya di bidang perdagangan rempah-rempah dan raja-raja Jawa tersebut enggan untuk mengganti budaya Jawa dengan budaya baru yang dibawa oleh orang kulit putih. Islam yang hadir di Nusantara waktu itu adalah Islam yang sangat demokratik, damai dan toleran sehingga berbondong-bondong raja-raja Jawa memeluk Islam.

Mengenai jihad, Vlekke mencatat istilah jihad pertamakali didengungkan pada akhir abad ke 17 ketika kerajaan Mataram dan Banten jatuh ke tangan Belanda. Yang paling besar lahir di bumi Mataram pada 1825 ketika seorang pangeran Jawa (Diponegoro) yang seharusnya menjadi seorang raja terpaksa melepaskan tahtanya karena campur tangan Belanda yang menyerahkan tahta kepada adik Diponegoro. Diponegoro kemudian menyerukan perang kepada Belanda dengan mendengungkan istilah jihad melawan “kafir londo”. Selama pertempuran tersebut, 15.000 serdadu pemerintah Belanda gugur, diantaranya terdapat 8.000 orang Eropa. Di pihak pribumi, 200.000 orang Jawa meninggal akibat perang, kelaparan dan penyakit. Pada 1830 Diponegoro akhirnya dapat ditangkap dan diasingkan ke Sulawesi setelah dikhianati dalam perundingan.

Yang tertulis di atas hanyalah segelintir ulasan mengenai apa yang tertulis dalam buku Nusantara. Tidak banyak sejarah pulau-pulau lain selain Jawa-Sumatera yang diulas dalam buku ini kemungkinan karena kurangnya literatur pada waktu itu yang menceritakan tentang sejarah pulau-pulau tersebut sehingga seakan-akan pulau-pulau lain di Indonesia tersebut hanyalah sebagai pemeran figuran semata. Nusantara diterbitkan pertama kali pada 1943. Melihat waktu penerbitan buku tersebut tentunya banyak sekali sejarah yang masih harus direvisi atau dikembangkan lagi seiring dengan perkembangan jaman dan ilmu pengetahuan.

Catatan penting yang harus di cermati adalah selain semangat inspirasi Nusantara model Majapahit, penyatuan negara kepulauan Indonesia hingga akhirnya dapat merdeka dikarenakan perasaan senasib sepenanggungan dalam merasakan penderitaan dijajah oleh Belanda selama berabad-abad lamanya. Apakah hanya dengan dijajah kita bisa merasa senasib-sepenanggungan dan merasa satu lagi membangun negeri kita tercinta ini? Tanyalah pada diri kita masing-masing.

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

10 Responses to Nusantara Sudut Pandang Vlekke

  1. nadya says:

    tenang aja byenkz, besok kalo aku udah menjajah belanda aku juga bakal kirim surat ma sodara2 di indonesia, membanding2kan dengan indonesia, intinya tentang betapa belanda itu jauh ketinggalan dari indonesia ….😛

  2. andi says:

    Mas Nugroho,

    Mantap nih coretannya.. hmm.. emang sih ya indonesia ini harus dibandingkan sama negara negara eropa.. supaya apple to apple.. tapi klo sekarang ini.. ya g tau deh.. kayaknya g lagi tuh.. hiii.. segedar ngedumel aja..

  3. quartenary says:

    ya kalau dulu ga dijajah belanda sih kayaknya kita gak akan jadi satu negara. Walaupun sudah digagas Majapahit, toh Majapahit runtuh sebelum datangnya Walanda kan?

  4. Rindu says:

    indahnya sejarah …

  5. dildaar80 says:

    Penjajahan Belanda sebagai pemicu namun kalau rasa bersatu tak kuat pasti bubar. Pemicu penting tapi tidak mutlak menjadi faktro terpenting.

    2. Kita butuh pemersatu baik paksaan maupun kelembutan. Dan paksaan tersebut ialah kekuatan dan kelembutan Jawa…dalam mengelola Indonesia diakui atau tdk..

  6. Pingback: Nuju Sejarah Jawa (1) | KAWURYAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: