Selamat Membaca

ThinkBagi saya membaca adalah sebuah hobi dan hiburan dikala mengisi waktu selain tentunya sebagai sumber ilmu pengetahuan. Jangan sungkan-sungkan untuk memberikan referensi bacaan bagi saya karena akan dengan senang hati saya membacanya atau jangan susah-susah mencari sebuah hadiah dikala saya berulang tahun karena cukup dengan sebuah buku lah saya bisa mendapatkan kebahagiaan entah apa yang terjadi apabila saya tidak diperbolehkan lagi membaca buku, mungkin bisa menjadi gila atau lebih baik tak usah hidup sama sekali.

Tetapi hal itu tidak berlaku bagi sebagian orang, banyak yang merasakan bahwa pekerjaan membaca adalah sebuah siksaan dimana kondisi tubuh dipaksa untuk berkonsentrasi pada mata dan pikiran sementara anggota tubuh yang lain menjadi statis. Hal inilah yang dirasakan oleh Si Ciku; seorang teman, sahabat dan kekasih; yang susahnya minta ampun jika disuruh membaca padahal saya sangat maniak membaca. Yang paling ekstrem adalah sampai mengajaknya ke toko buku atau pameran buku pun harus dengan paksaan.

Si Ciku hanyalah contoh dari karakter orang yang alergi terhadap membaca yang berada di sekitar saya, di luaran sana tentu saja masih banyak orang yang merasakan hal serupa. Menurut saya permasalahannya hanyalah karena mereka belum menemukan sebuah bacaan yang pas yang membuat mereka menjadi kecanduan terhadap membaca dan menemukan ritme bagaimana membaca yang menyenangkan karena saya dahulu juga alergi terhadap membaca. Waktu itu membaca adalah sebuah paksaan akademik jika akan menyambut musim ujian, karena sifatnya temporary dan lebih banyak paksaan sehingga materi yang saya baca tidak akan tahan lama di otak ini hanya selesai ketika waktu ujian dengan tujuan mendapat nilai bagus tanpa ada pengkayaan ilmu. Tentu saja hal ini merugikan karena jikalau sewaktu-waktu kita dituntut untuk mengulang kembali mata pelajaran tersebut setelah sekian tahun tidak akan tersisa satu memoripun dari hasil bacaan kita waktu itu karena tubuh kita paham bagaimana membedakaan membaca dengan sepenuh hati atau dengan paksaan. Itulah yang saya rasakan sekarang saat beberapa mata kuliah dasar kembali mengulang pelajaran SMA dulu.

Menyenangi membaca baru saya temukan ketika duduk di bangku perkuliahan, saya masih ingat novel pertama yang saya baca sekedar ikut-ikutan trend ketika teman-teman saya yang lain juga membacanya. Adalah Bumi Manusia, salah satu judul buku dari tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang banyak digunjingkan dan dibaca oleh teman-teman saya dikala terjadi euforia kebebasan pers setelah sekian tahun buku tersebut diberedel oleh orde baru. Secara kebetulan saya menemukan buku tersebut dalam rak buku koleksi bapak saya. Karena penasaran maka saya baca buku tersebut dan akhirnya menjadi kecanduan untuk membaca judul buku lainnya dalam tetralogi Pulau Buru, lebih luas lagi pada semua karya Pramoedya Ananta Toer, lebih luas lagi pada semua pengarang buku yang menurut saya karyanya enak untuk dibaca seperti Eiji Yoshikawa, Paulo Colhoe, Haruki Murakami, Ayu Utami, Andrea Hirata, dan masih banyak penulis lainnya sehingga tak terasa dua buah lemari buku sudah tidak cukup lagi menampung semua buku di kamar.

Alergi membaca kemungkinan bisa disebabkan oleh traumatis dalam memilih bacaan atau kejenuhan ketika paksaan membaca di bangku sekolah atau perkuliahan membuat wajah buku seperti wajah paksaan para guru atau pengajar. Padahal tidak seperti itu, seperti pula pepatah terkenal mengatakan “Don’t judge a book by it’s cover” karena kita tidak pernah tahu apa isi buku tersebut kecuali kita berani untuk memulai membacanya. Traumatis dalam membaca kemungkinan karena saat kita memulai membaca ternyata buku yang kita baca tidak semenarik yang kita bayangkan atau yang kita inginkan sehingga muncul rasa lelah, kecewa dan perasaan sia-sia ketika kita telah membeli buku itu atau meluangkan waktu untuk membaca sehingga perasaan skeptis muncul pada semua buku. Kunci dari sebuah buku adalah pada bab awalnya, apabila pada bab tersebut bisa mengajak pembaca untuk mau masuk lebih dalam dalam lembaran-lembaran buku dan bab-bab selanjutnya lengkap dengan imajinasi para pembaca, maka penulis tersebut cukup sukses untuk mengajak para pembacanya menghayati isi buku tersebut dan cukup sukses pula mencetak para pembaca-pembaca budiman yang baru. Ringkasan buku yang berada pada halaman belakang cover bisa menjadi panduan mengenai isi dari buku tersebut membantu para pembaca untuk memilih buku mana yang sekiranya menarik untuk dibaca.

Jangan sepelekan dengan aktifitas membaca. Membaca tidak mudah, butuh konsentrasi, waktu dan pikiran ekstra untuk menyarikan isi bacaan tersebut. Yang tersusah adalah menjadi tetap konsisten walaupun bacaan tersebut menjadi membosankan dan bertele-tele sehingga membuat kita lelah dalam membaca tetapi kita harus menyelesaikan bacaan tersebut dan berpikir bahwa barangkali pada akhir dari bacaan tersebut akan ditemukan kejadian menarik lainnya. Yang terakhir, membaca adalah sebuah anugerah bahkan seorang kolega mengatakan bahwa ‘membaca itu semewah mercy’ dan merugilah bagi orang-orang yang tidak suka membaca, Selamat Membaca!!

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

14 Responses to Selamat Membaca

  1. agn says:

    kalo gw biasanya cuman abis setengah tuh buku terus ditinggal.. hahah… beli buku Karl May “dan damai di bumi” tahun 2004.. sampai skrg belum selesai… malahan udah beli yg baru..

  2. Nugroho says:

    ya ampun padahal aku lagi seneng2nya baca seri Winnetou (karl may) yang sekarang makin sulit dicari karena dimana2 habis. Tapi emang membaca juga masalah selera koq, tidak bisa dipaksakan. Selamat membaca gun🙂

  3. Untukku, membaca itu canduuu… sulit skali untuk branjak dari buku bila sudah terlarut di dalamnyaa,, lupa makan lupa mandi..hahaa. Tapi akhir2 ini, untk menaikkan mood membaca ko susah yaaa.. suda banyak novel2 rekomendasi yg belum sempat terbaca…

    *iwan tolet teblunggg,, suda kukomen,, ga gratis tapinyaaa,,BAYAR!!!!!

  4. Octa says:

    dulu saya juga malas membaca. baru suka membaca beberapa tahun terakhir ini. Awal mulanya saya suka membaca buku- buku motivatif dan inspiratif. Lalu kemudian berkembang membaca buku-buku tentang agama.

    Gara-gara membaca, sekarang malah jadi suka menulis.

    Membaca itu memang membuat kita lebih percaya diri dan kreatif.

    • iwantolet says:

      salam kenal mas/mbak octa🙂
      Membaca dan menulis itu seperti suami – istri. Ketika sudah banyak membaca, keinginan hati pasti ingin berbagi dengan orang lain dan salah satu caranya adalah dengan menulis. Dengan menulis pula membuktikan kita kalau sudah pernah membaca dan tau apa yang dibacanya. Publis or perish

  5. annelis says:

    apa persamaan dan perbedaan membaca dengan masuk gua brenk?

    • iwantolet says:

      wah pertanyaan yang susah nih. persamaannya situasinya sunyi, perbedaannya di fisik. Masuk gua butuh fisik prima, kalau baca kan ga perlu fisik yang penting mata dan otak jalan terus

  6. nadya says:

    kalo masuk gua gw ga mau ikut, kalo baca gw masih mau ikut😉

    hahaha aku paling seneng deh kalo orang suka baca, tapi kalo ga suka ya ga usah dipaksa😛

  7. igen says:

    i n i b u d i.
    i n i u n t u n g
    u n t u n g a d a b u d i
    seingatku buku “syeh siti jenarku” msh blm kau kembalikan.
    “arus balik” jg dipinjam bosman durung dibalekke.
    “mata ketiga” dipinjam taufiq blm kembali
    aq duwe seri lengkap winnetou I-IV.kara ben nemsi II n III
    ini tantangan buatmu the geology of indonesia-ne mbah van bemmelen coba kowe narasikan ke novel. pasti menarik.
    novel “negara kelima” n “rahasia meede” karya es ito apik tenan brenk. kaya data sejarah. cerita soal atlantis n rahasia harta karun voc
    “negeri van oranje” novel ttg 5 mhs indonesia yg lg s2 d belanda. seru abis.kocak…..
    karo bojoku saiki aq diajak berorgasme di ranah strukturalisme,posmodermsme,paradigma,dll…bacaan wajib mhs s2 vs kuli batubara wkwkwk….

  8. yuti says:

    mbak ciku belum nemu buku yg cocok aja kali mas..
    lha nek aku jaman SD-SMP dulu bestfriendnya pak penjaga perpus.. saking tiap istirahat ke perpus. tp SMA kok jadi mulai males ya, apalagi kuliah.. ke perpus cuma setor nama biar kalo di cek dosen keliatan rajin :p
    tp akhir2 ini kok jarang nemu buku yg bisa bikin aku baca terus menerus sampe ga berhenti..😦
    buku yg terakhir kubaca: The Year of Living Dangerously-nya CJ Koch. nemu di rak buku tua bapakku.. ceritanya mayan, settingnya tahun 1965. i think you’ll like it. kynya edisi indonesianya barusan aja dicetak..

    • iwantolet says:

      katanya sih kalau membaca itu ada titik jenuhnya. tapi aku ga setuju tergantung tujuan apa kita membaca. Kalau membaca ketika masa sd, smp, sma jelas tujuannya supaya nilainya bagus ketika sudah tidak ada tuntutan lagi maka kegiatan membaca otomatis stop. Sedangkan membaca karena keinginan pribadi atas rasa ingin tahu maka hasilnya akan berbeda dan akan makin sering rajin membaca

      • yuti says:

        ah, ga stuju kalo baca buku biar nilai bagus. krn waktu itu buku yg kubaca di perpus bukan buku pelajaran. jaman SD bacanya buku macam lima sekawan.. SMP jg masih sejenis.. buku pelajaran itu dibaca cuma kalo mau ujian mas.. :p
        jadi mikir juga, mungkin jatah quality time-ku dengan buku2 itu sudah direnggut oleh internet & komputer..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: