Memperjuangkan Kursi Dekat Jendela

Apa arti sebuah perjalanan menuju ke tempat tujuan? Menurut saya sebuah perjalanan adalah bagaimana kita melewati proses dalam perjalanan tersebut. Apabila kita melewati proses perjalanan tersebut dengan lancar maka harapan dan tujuan kita ketika sampai di tempat tujuan pasti dimulai dengan perasaan yang tenang dan hasilnya pasti akan lebih baik. Yang saya bicarakan adalah perjalanan transportasi dari suatu tempat menuju ke tempat lain menggunakan armada transportasi baik melalui jalan darat, laut maupun udara.

Begitu pentingnya sebuah proses perjalanan tersebut maka saya selalu memilih tempat duduk yang menurut saya nyaman. Kenyamanan bagi saya adalah tempat duduk yang dekat dengan jendela, alasannya; 1) Apabila dalam perjalanan saya mengalami kebosanan maka setidaknya dengan melihat pemandangan melalui jendela hal tersebut akan terobati. 2) Apabila dalam perjalanan saya terhinggap virus kantuk maka kepala ini tidak akan susah mencari sandaran, cukup dengan bersandar di jendela tersebut. 3) Saya tidak akan terganggu dengan penumpang di samping saya yang sering keluar-masuk tempat duduk. 4) Dengan mudahnya saya dapat melihat dan melambaikan tangan apabila ada pengantar atau penjemput saya di tempat keberangkatan atau tempat kedatangan. 5) Yang terakhir, saya senang dengan hobi fotografi, terkadang duduk dekat jendela memberikan kesempatan bagi saya untuk dapat mengabadikan momen perjalanan melalui jendela. Untuk itulah mengapa saya selalu meminta tempat duduk dekat jendela ketika membeli tiket sebuah perjalanan.

Yang membuat saya mangkel adalah ketika penumpang di samping tempat duduk saya, yang jelas-jelas memegang tiket bahwa tempat duduknya tidak di dekat jendela tetapi sudah lebih dulu menduduki tempat duduk di dekat jendela yang jelas-jelas sudah saya booking. Tipikal penumpang seperti inilah yang membeli tiket tanpa memperhatikan tempat duduk, hanya asal beli saja. Lebih bikin mangkel lagi, ketika saya konfirmasi dengan cueknya sambil merem menyandarkan kepala di samping jendela dia berkata, “Alah… sama aja koq mas, duduk dekat jendela atau di gang toh juga sampai tujuan juga”

Batinku, “BIANGANE KOWE”

Kalau sudah seperti ini biasanya saya akan memanggil pihak representatif armada yaitu pramugari, kondektur, kernet atau siapapun itu yang bertanggung jawab untuk menjelaskan kepada orang yang buta huruf (ga bisa baca no tempat duduk di tiket) untuk duduk sesuai dengan yang tertera di tiket. Hasilnya, sepanjang perjalanan kami tidak saling menyapa atau kalau hati saya sedang enak saya ajak ngobrol duluan atau juga kalau dia sadar akan kesalahannya maka dia akan meminta maaf dan kekakuan perasaan itu menjadi leleh dengan sendirinya.

Sekali waktu muncul sifat usil saya, ketika itu saya sedang naik pesawat Mandala Airlines jurusan Balikpapan – Jogjakarta. Seperti biasanya tempat duduk di samping jendela sudah ada penunggunya, seorang ibu-ibu setengah baya. Dengan sopan saya konfirmasi tiket ke beliau, “Maaf Bu, sepertinya di tiket saya tertera kalau tempat duduk saya di dekat jendela. Boleh saya lihat tiket ibu kalau mungkin ada kesalahan administrasi”

Dengan wajah ketus, dia mengeluarkan tiketnya dan ketika saya dan ibu itu melihat bersama no tempat duduk yang tertera di tiket, jelas-jelas tertulis bahwa seharusnya ibu tersebut duduk di gang dan bukannya di dekat jendela. Yang selanjutnya terjadi adalah dengan cepat beliau memasukkan lagi tiketnya di dalam saku jaket dan berkata, “Saya yang lebih dulu sampai di sini, jadi saya berhak memilih tempat duduk”

Mengatasi hal tersebut dengan tenang saya berkata, “Bu, apakah ibu tahu bahwa nama yang tertera di tiket dan no tempat duduk sudah masuk dalam database Mandala Airlines sehingga jika sewaktu-waktu pesawat ini mengalami kecelakaan dan semua penumpangnya tewas dan tidak dapat di identifikasi tetapi masih berada di tempat duduknya maka pilihan identifikasi korban adalah nama yang tertera di tiket dan no tempat duduk dalam database Mandala. Yang akan terjadi selanjutnya adalah mayat saya akan dibawa ke tempat keluarga ibu dan mayat ibu akan dibawa ke tempat keluarga saya. Inilah mengapa saya selalu duduk sesuai dengan no tempat duduk yang tertera di tiket”

Seketika itu juga ibu tadi minta tukar tempat duduk dan sepanjang perjalanan, beliau selalu berdoa dan bertasbih sedangkan saya tertidur pulas dengan kepala bersandar pada jendela. Teriakan alhamdulillah dari ibu tersebut membangunkan saya ketika pesawat sudah landing di bandara Adisucipto Jogjakarta dengan selamat dan lancar.

Tidak semua penumpang yang saya temui sepanjang perjalanan mengacuhkan no tempat duduk, banyak juga yang dengan elegan duduk sesuai dengan no tempat duduknya dan membiarkan tempat duduk di samping jendela kosong untuk saya tempati kemudian. Atau dengan hormat dan ijin meminta saya untuk bertukar tempat duduk, kalau yang ini saya lebih menghargai. Kalau anda, tipikal penumpang yang mana?

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

4 Responses to Memperjuangkan Kursi Dekat Jendela

  1. yuti says:

    biasanya sih kalo pesen tiket aku minta deket jendela. emang enak window seat sih.. bisa senderan di jendela & lihat2 pemandangan. tapi kalo pas kebetulan dapet jejer om2 genit.. gyaaaa.. mending aisle seat bgt.. biar bisa cepet kabur..!!

  2. Fajar Alam says:

    lha kowe yo dideketi om2 genit juga tho mbreng?

    luar biasa …!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: