Dugem Ala Petani

Dalam lintasan jalur kereta api Bandung – Jogjakarta, kita akan disuguhkan pemandangan yang niscaya penuh dengan warna hijau yang terbentang luas di sepemandangan mata. Adalah persawahan yang apabila dihitung luasnya bisa beratus ribu hektar mencirikan bahwa negara kita adalah negara agraris. Apabila ada salah satu penumpang kereta seorang turis dari negara eropa atau Amerika pasti mereka akan berdecak kagum dan lampu kamera akan selalu menyala untuk mengabadikan pemandangan hijau persawahan.

Ironisnya adalah para penggarap sawah (petani) yang hadir di sumber penghasilannya tersebut selalu tampak kumal dengan pakaian yang tak jarang sobek-sobek dengan citra kemiskinan yang tampak jelas membayangi mereka. Bisa jadi ini hanyalah sebuah pakaian kerja yang notabene selalu mereka gunakan pada lingkungan kerjanya yang selalu kotor dengan lempung dan tanah sehingga tidak bisa menjadi premis mayor menghubungkan dengan kemelaratan.

Dugaan saya mengenai kemelaratan bukan semata-mata tidak berdasar. Rumah saya di Jogjakarta berada di sekitar lingkungan persawahan sehingga potret dunia petani sudah tergambar jelas di benak saya sejak saya kecil. Cobalah sekali-kali kunjungi rumah-rumah mereka dan  yang akan anda dapatkan adalah rumah-rumah sederhana yang tidak bisa disamakan dengan hasil jerih payah dari profesi pedagang atau karyawan kantoran.

Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Petani adalah seorang produsen makanan pokok di Indonesia, jangan main-main lho, mereka ini menguasai hulu dengan segala bisnisnya. Mulai dari manajemen perawatan tanaman, kualitas produk, manajemen pupuk, dan penjualan produk jadi. Petani adalah seorang bisnisman seperti profesi seorang direktur pabrik alat masak atau tambang batubara. Tapi mengapa profesi petani tidak bisa menghasilkan kesejahteraan yang sama seperti profesi yang lain?

Bayangkanlah apabila petani sama sejahteranya dengan para direktur produsen barang mentah maka terkadang anda akan menemui anak-anak mereka berkeliaran di tempat-tempat dugem bersama dengan dengan anak-anak Babah Cina penguasa distributor onderdil motor tiruan atau anak-anak Taucik Arab  dan India penguasa industri garmen, tak jarang ada beberapa anak petani yang berkencan dengan artis nan aduhai seperti Tias Mirasih, Marsyanda, Nia Ramadhani, dll. Mereka melenggang kangkung di dunia elitis hanya karena mereka anak petani dan bapak mereka (petani) menikmati jerih payahnya dengan mobil-mobil mewah setara Mercy atau BMW dengan rumah bak istana seperti di sinetron-sinetron. Kalau membayangkan hal ini jadi teringat lagu Slank dulu yang bercerita tentang dunia petani juga, dan jawabannya adalah… “Nggak mungkin, nggak mungkin”

Disimpulkan bahwa keuntungan menjadi petani tidaklah terlalu mensejahterakan meraup uang yang banyak simbol kapitalisme padahal produknya (padi) adalah makanan pokok kita sehari-hari. Juragan pulsa saja bisa kaya raya koq karena pulsa saat ini mungkin hampir sama seperti beras yang dibutuhkan orang terus menerus untuk menunjang hidupnya.

Dalam perbincangan dengan seorang sahabat yang dibesarkan langsung dari dunia petani, kondisi yang menimpa petani dikarenakan ketidakjelasan harga yang ditetapkan pemerintah atau harga yang dipermainkan oleh para tengkulak sehingga mereka dipermainkan oleh harga pasar. Harga jual tidak sebanding dengan biaya bibit, pupuk dan tenaga yang dikeluarkan. Kalau kondisi ini berlangsung terus menerus maka yakinlah bahwa kedepannya pemandangan hijaunya persawahan di Indonesia lambat laut akan menghilang digantikan dengan bisnis properti yang lebih menjanjikan dengan penghuninya adalah pengusaha-pengusaha onderdil motor, bandar narkoba, dan artis-artis nan bohai seperti Sarah Ashari, Luna Maya, Dian Sastro dan Ivan Gunawan (Lho…???)

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

15 Responses to Dugem Ala Petani

  1. nadya says:

    howalah breng breng …. suwe banget ga apdet ….
    jadi inget lagunya slank yang itu, “ga mungkin ga mungkin ….”😛

  2. zefka says:

    Mbreng, keluarga gw jg seorang petani, dan hidup gw sampe sekarang pun masih berinteraksi dengan petani.
    Pendapat gw nih….
    kebanyakan mereka yg bertani kalo panen pasti langsung menjual sebagian atau seluruh hasil panennya untuk modal menanam berikutnya. Sebagian lagi untuk biaya hidup selama menunggu masa panen berikutnya. Gak ada penghasilan lain yg bisa membantu biaya hidup sehari hari. Inilah yg mungkin jg jadi penyebab petani dari dulu ya gitu2 aja. Kadang mereka gak mau maju,maunya padi dan jagung aja yg ditanam. Gak mau tanam semangka, melon, cabe, tomat ataupun bawang merah yg harganya relatif tinggi dibanding produk pertanian lain. Alasan yg disampaikan biasanya : gak tau cara nanam dan ngerawatnya, gak ada modal dsb… alasan ini sebenarnya hanya mengada ada saja. sekarang dia bisa tanam padi.. tahu ilmunya dari mana? belajar/nanya kan. Kalo alasan gak ada modal : buktinya mereka bisa nanam padi di musim berikutnya setlah panen. Modal tanam padi dibanding dengan semangka, tomat, cabe dll…. gak jauh beda kok (gw dan keluarga punya pengalaman ttg hal ini)

    Kemungkinan besar mereka gak berhasrat untuk lebih maju krn terlalu lama dininabobokan oleh kondisi alam di desa yg nyaman banget. Sayuran, buah tinggal petik dan bahkan sering di beri gratis oleh tetangga dan kondisi2 nyaman yg lain…

    bersambung di http://zefka.wordpress.com

    • Nugroho says:

      dengan kondisi yang serba susah sekarang apakah mereka masih merasa di nina bobokan oleh alam? Saya kira ada yang tidak beres dalam perlindungan hak-hak petani oleh pemerintah

  3. nang says:

    Akhirnya aktif meneh kowe, tak kiro wis terlena dengan suasana mbandung dan mojang-mojangnya, opo disiksa-siksa dosen, dadine wis gak mau nilis meneh.

    urun komen yo mbreng
    Salah satu yang bikin petani susah maju, selain permainan harga adalah karena banyaknya keturunan. kalo dari komiknya Larry Gonnick, ketika tanah pertanian masih luas, keturunan yang banyak bisa membantu dalam mengelola lahan yang masih berhektar-hektar, ini yang akhirnya mengeluarkan semboyan “banyak anak banyak rejeki”.

    Jaman sekarang (khususnya di daerah jawa) ketika lahan sawah sudah semakin menipis, keturunan petani yang banyak itu selanjutnya hanya dapat 1/4 – 1/10 petak dari sawah punya orangtuanya. hasil pertanian selanjutnya jika dibandingkan dengan kebutuhan jaman sekarang yang mulai macem-macem (TV, Pulsa, Motor, dll) jadi tidak imbang lagi.

    ini aku rasain sendiri sebagai wong ndeso. mbahku punya sawah yang lumayan luas, tapi ketika dibagi-bagi dengan anaknya yang lumayan banyak, akhirnya dapetnya tinggal sepetak-sepetak aja.

    satu lagi yang bisa jadi penghambat adalah sikap nerimo yang masih tinggi. kalo ditanya “kenapa sih gak coba tanaman yang lain, atau nambah penghasilan dengan cara yang lain”, salah satu jawabannya “dengan cara begini aja udah bisa hidup kok mas, anak-anak saya juga bisa sekolah, yaah walaupun cuma sampai SMA”. Ini yang kadang dilematis, sikap nerimo ini kadang bisa disikapi sebagai sikap syukur atau puas, tapi kadang juga bisa dianggap tidak mau keluar dari zona nyaman, yang akhirnya jadi gak mau maju.

  4. Pingback: Petani jg Bisa “Dugem” vs Gairah Kemajuan « Z E F K A

  5. yuti says:

    kenapa hayo?
    kalo modal, benernya selalu ada bantuan dari pemerintah.. trus bisa pinjam bank juga. tapi kadang inovasi & teknologinya mandek. petani yang tambah pinter ya terbatas yg mau maju aja.
    tenaganya juga udah sepuh2. kalo udah pada bau tanah, mana mungkin punya visi yg bagus? anak muda sekarang dikit bgt yang mau jadi petani ato belajar teknologi pertanian *gyahaha.. aku iklan.. :p* ga keren dan ga prospek katanya..
    trus lahan terbatas. gara2nya lahan pertanian banyak yg ga terproteksi jd banyak diubah jadi perumahan. padahal utk sejahtera, 1 petani perlu sekitar 4 hektaran..
    so, jgn mbangun rumah dari lahan sawah. dan jangan lupa belilah produk lokal..!! *hah, koyo iklane prabowo*

  6. yuti says:

    eh iya, aku bukan sarjana pertanian ding.. aku sarjana pangan. :p
    sarjana pertanian ada dimanapun perusahaan yg mau mempekerjakan mereka..
    mungkin perlu disurvey ya.. berapa persen yang bekerja sesuai kuliahnya..

  7. igen says:

    aku petani batubara

    • iwantolet says:

      ketika masa panen tiba, banyak buruh tani dadakan yang membantu para empunya lahan untuk memanen hasil pertaniannya. kamu bukan petani batubara lebih tepatnya buruh batubara. jangan sok naik pangkat jadi petani ah…

      • yuti says:

        emange batubara ditandur??
        ga lepas tanggungjawab kok.. cuma menguranginya dikit :p

        lha iki, kenapa nelayan disebut petani ikan hayoo… kan ikan juga ga ditandur. huehehehe
        /iwan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: