Mundur sebagai rakyat

pemiluJadwal contrengan tinggal menghitung hari sudahkah kalian menentukan pilihan kalian? Atau tidak peduli dengan tidak memilih karena tidak memilih adalah sebuah pilihan. Ya, saya akan memilih untuk itu saya harus mudik sebentar ke Jogjakarta karena hanya disanalah saya tercatat sebagai pemilih yang sah. Sebagai seorang WNI, cukup baik kan saya🙂 padahal belum tentu, toh kalian juga tidak akan tau apa yang akan saya lakukan di bilik suara koq.

Yang saat ini saya pikirkan adalah, kira-kira gimana ya perasaan para caleg ataupun pengurus partai menjelang detik2 menentukan ini? Apakah mereka sedang menghitung jumlah hutang karena nombok biaya kampanye? Apakah mereka sedang bertapa di bawah pohon rindang bakar kemenyan sambil komat-kamit supaya jin iprit mempengaruhi bolpen agar nyontreng sendiri? Apakah mereka malah sedang mempersiapkan dana tambahan untuk serangan fajar? Apakah mereka sedang mengumpulkan massa untuk antisipasi apabila kalah nanti siap bakar-bakaran? Atau apakah mereka justru istirahat berleha-leha di rumah bersama keluarganya karena sudah yakin menang? Yang pasti sedikit yang justru mengulas lagi janji-janji mereka yang telah mereka ucapkan untuk dilaksanakan setelah kemenangan nanti.

Mungkin saya memang skeptis, berburuk sangka, suudzon atau apapun itu yang pantas disandang buat pemikiran saya dalam mengikuti arus terhadap kejujuran para caleg dan program-program partai ini. Bagi yang suka lucu-lucuan bisa dilihat di www.janganbikinmalu2009.com. Sudah capek dan lelah mendengarkan janji-janji mereka ditambah lagi track record yang buruk para anggota dewan yang terhormat mulai dari tindakan asusila, korupsi, kolusi, arogansi, dll. Pikiran saya seperti terpatok bahwa kedepannya tidak akan jauh beda dengan sekarang walaupun tokohnya berbeda, situasi yang akan memaksa mereka untuk berbuat sama. Membuat yakin para pemilih kepada janji mereka, beberapa dari mereka malah berani bersumpah mati, sumpah pocong, hukum mati, mundur dari jabatan, dll. Tapi apa artinya kata-kata bila sudah berkuasa.

Vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Mereka sangat membutuhkan suara kita untuk meloloskan posisi mereka, untuk itulah semua langkah akan dilakukan guna mendapatkan suara sebanyak-banyaknya. Iklan yang gencar dilakukan di media-media, ini adalah teknik komunikasi massal harapannya persepsi masyarakat akan berubah seiring dengan iklan visual yang diberikan terus menerus. Bersyukurlah bahwa negara kita masih menganut asas demokrasi, bagaimana jika dibalik demikian; demokrasi hanyalah sebuah proses yang terpenting kan hanya tujuannya (Pancasila), maka sudah pasti bahwa dengan dalih tujuan seorang pemimpin akan dipilih tanpa proses demokrasi. Kebalikannya, bila terlalu mementingkan tujuan maka segala cara akan dihalalka untuk mencapai tujuan itu. Yang terlalu-terlalu memang tidak baik. Tapi bagaimana bila nantinya mereka tidak menepati janji sesuai dengan program yang dikampanyekan? Apakah mereka bersedia bertanggung jawab dengan mundur sebagai pejabat terkait? Kalau mereka tidak mau mundur, maka jalan terakhir adalah kita yang mundur sebagai rakyat biar yang ada di negara ini hanya pemimpin saja, dan mereka saling nggombali satu dengan yang lain.

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

8 Responses to Mundur sebagai rakyat

  1. annelis says:

    ikutan donk mas mundur sebagai Rakjat

  2. popon says:

    Mundur sebagai rakyat. Istilah yang bagus.

  3. Nugroho says:

    sosial grade tertinggi sekaligus terendah dalam siklus politis adalah sebagai rakyat, kira-kira kalau kita mundur sebagai rakyat status kita jadi apa ya?

  4. agung says:

    kulo nuwun mas nug. ikutan baca2 yo…boleh toh..?
    “kira-kira kalau kita mundur sebagai rakyat status kita jadi apa ya?”
    jadi pensiunan rakyat mas nug. cuman ndak tau dapet tunjangan gak??…
    –aku ora nyoblos mas nug.–:)

  5. zefka says:

    kalo mereka (legislatif dan eksekutif, red.) tanpa ada rakyat ya bubarlah negeri ini. mereka mo mewakili sapa? ato kita gak perlu mewakilkan diri kita ke orang lain ya? kalo perlu ngomong ya kita berpendapat aja langsung. Tapi ntar yg bikin undang2/peraturan2 sapa? bingung kan… sistem pemerintahan kita emang seperti ini mbreng, sistemnya sih bagus. mungkin kontrolnya yg perlu ditingkatkan.
    maaf terlalu panjang mbreng hehee🙂

  6. jw says:

    lha kalo rakyatnya mengundurkan diri, mereka mewakili dirinya, omnya yang konglomerat, pakdhenya yang pengumpul harta rakyat atau mertuanya yang sedang diincar KPK.
    Tapi kalau agak adhem mikirnya, ada juga kok yang baik-baik. Coba saja diperhatikan. Cirinya begini lho: setelah jadi pejabat, dia tinggalkan posisinya di partai. Di partai itu gak pernah terjadi rebutan jabatan, karena padha takut. Kalau ada masalah selalu cek dan ricek (gak emosional …). Terus rata-rata pedidikannya bagus, jadi gak waton bicara. Coba direnung-renung ….nanti kan terinspirasi

  7. Nugroho says:

    pemilu legislatif sudah lewat, tercatat dalam email dari kawan ada 23 orang caleg yang “mengingkari kenyataan”. Pertanyaannya, bagaimana kalo 23 orang caleg ini duduk di kursi parlemen? mau dibawa kemana negeri ini. Semoga mereka yang terpilih memang yang kompeten untuk menduduki kursi panas tersebut. Amiin

  8. nadya says:

    hahahahha … aku paling seneng deh baca postingan yang kamu menggerutu model gini … hidup gitu lhoch, bravo!
    aku rakyat bukan ya?😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: