Kesadaran Berbahasa

Bahasa berperan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa tidak hanya urut-urutan alphabet yang tanpa makna, tetapi bahasa bisa membawa makna tersendiri dengan pengolahan vokal dan gayanya. Cobalah untuk mengumpat ANJING pada orang Jawa akan berbeda pengaruhnya apabila anda mengumpat ASU pada orang Jawa, begitu juga sebaliknya sebaliknya pada suku atau daerah-daerah tertentu yang memiliki bahasa berlainan. Atau ucapkan kata MATAMU dengan santun dan dengan penegasan vokal dan volume yang tinggi pasti artinya akan berbeda. Ini hanya sekelumit contoh betapa rumit dan njlimetnya pelajaran bahasa.

Sekiranya bahasa diciptakan dari pengalaman individu tertentu dalam mendeskripsikan sesuatu dari panca indranya termasuk juga perasaan. Sebenarnya tidak ada yang pasti dalam tiap bahasa, semuanya tergantung dari masing-masing individu tetapi ada penyamarataan konversi yang telah disetujui dari masing-masing golongan manusia sehingga mempunyai satu bahasa yang digunakan secara bersama. Bahasa juga dipahami tidak harus di vokalkan. Adanya bahasa tubuh, bahasa angin, bahasa bumi, bahasa hewan dan bahasa-bahasa lainnya yang bisa kita pahami. Bahkan sebagian besar ilmu di dunia ini sebenarnya adalah mempelajari bahasa. Geologi adalah ilmu yang mempelajari bahasa bumi dan batuan, ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bahasa perputaran uang, politik adalah ilmu yang mempelajari bahasa kekuasan dan ilmu-ilmu bahasa lainnya. Jadi sebenarnya ilmu yang paling susah itu adalah ilmu bahasa itu sendiri karena cakupannya sangatlah luas.

Interpretasi satu bahasa bisa berbeda-beda penafsirannya satu orang dengan orang yang lain. Bahasa kitab suci akan diartikan berbeda oleh pengikutnya yang akan membuat ratusan macam golongan dalam satu kepercayaan. Nantinya tiap golongan itu sendiri akan mengklaim bahwa merekalah yang menafsirkan bahasa yang paling benar dan yang di luar penafsiran mereka adalah salah dan patut dipersalahkan bahkan salah itu tidak punya hak untuk hidup di dunia. Untuk golongan yang seperti ini justru mereka mendahului dari Sang Khalik yang menciptakan bahasa kehidupan, bukannya salah dan benar diciptakan oleh-Nya.

Dalam berbahasa aturannya adalah kita harus paham bahasa yang kita gunakan. Bahasa bukan hanya susunan alphabet yang divokalkan tetapi harus dimaknai. Untuk bisa memaknai bahasa maka kita harus benar-benar dalam kondisi sadar sepenuhnya. Kondisi sadar adalah kondisi dimana kita mengetahui batasan antara kematian dan kehidupan. Ketika kesadaran tak bertanya maka kehidupan dan kematian tak saling menggugat. Itulah hebatnya bahasa, bisa membuat orang menjadi tidak sadar dan menggunakan bahasa tersebut untuk berada dalam kondisi yang tidak mementingkan antara hidup dan mati tetapi apakah dia memaknai bahasa tersebut masih dipertanyakan. Mungkin inilah yang mereka rasakan ketika meledakkan dirinya sendiri, mereka menggunakan bahasa darah.

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

6 Responses to Kesadaran Berbahasa

  1. zefka says:

    teori diatas kayaknya hanya utk bahasa2 yg udah “matang”.
    Sekarang lagi coba mahamin bahasa bayi nih… maklum zefka baru belajar bicara. bahasanya lebih susah dipahami dan dipelajari, harus banyak interaksi dulu dengan dia baru ntar mengerti maksud celotehannya.

  2. dwi says:

    dengan kata lain bahwa semua itu bisa di bahasakan…..

  3. fe says:

    TANGAN-TANGAN BERTEBARAN ITU , MAKSUDNYA RAGAM BAHASA GITU ? BENTUK E….. NEH-ANEH PAK LIK ….NGUAK NGERTI KULO….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: