Praktek makelar lintas alam

Suatu ketika saya merencanakan perjalanan ke luar kota menggunakan kereta api, tetapi rencana saya tidak diimbangi dengan persiapan tiket hari keberangkatan. Pemikiran saya adalah pada hari itu kereta tidak akan penuh penumpang, pasti ada kursi kosong untuk saya karena memang bukan weekend. Alhasil setelah semua persiapan perlengkapan keluar kota sudah tertata rapi di dalam tas, saya meluncur menuju stasiun kereta api untuk langsung membeli tiket dan berangkat. Saya sisakan waktu 1 jam sebelum keberangkatan untuk membeli tiket dan sedikit berleha-leha di dalam stasiun. Semuanya sudah tergambar apik di dalam kepala, rencana-rencana esok hari di kota itu, perjalanan yang menyenangkan dan hal-hal yang menarik lainnya. Singkat cerita, sampailah saya di stasiun dan segera menuju ke loket pembelian tiket.

“Mbak, saya beli tiket kereta ke Jogjakarta untuk keberangkatan malam ini” sambil kusodorkan uang seharga tiket tersebut.

Dengan cuek mbak penjual tiket berkata: “Maaf mas, semua tiket untuk keberangkatan ke Jogjakarta untuk malam ini sudah habis, tinggal besok pagi, itupun tinggal yang bisnis”

Wheelhadalah…!!! Hancur semua angan-angan saya untuk keluar kota malam ini, musnah semua rencana esok hari, lemes, pucat pasi dan tiba-tiba tidak bertenaga seperti orang kurang darah. Dengan gontai aku cari tempat duduk terdekat untuk menenangkan hati, mencari-cari nomor yang bisa dihubungi untuk mengabarkan bahwa esok aku tidak bisa datang seperti yang kujanjikan. Kalo di stasiun tidak banyak orang mungkin aku akan berteriak sekeras-kerasnya karena rasa kecewa yang berlebihan. Ketika sedang sibuk melihat-lihat handphone tiba-tiba aku dikejutkan dengan sentuhan tangan di pundakku.

“Kehabisan tiket mas?” kata seorang bapak-bapak yang tersenyum ramah

Sambil terkaget melihat muka bapak itu aku bilang: “Iya pak, kehabisan, saya terlambat datang dan tidak beli tiket sebelumnya”

Sambil tersenyum bapak itu bilang: “Kalo mas mau saya bisa usahakan”

“Maksud bapak, bapak memberikan tiket yang sama seperti yang pihak kereta api keluarkan?” kataku lagi.

“Ini resmi mas, ada nomor tempat duduknya. Boleh dibilang ini adalah jatah untuk orang dalam. Tetapi memang harganya lebih mahal” kata bapak itu.

“Tidak apa-apa pak, kalo memang resmi maka saya akan beli walaupun lebih mahal” ujarku.

Akhirnya saya berangkat juga ke luar kota dengan menggunakan tiket dari bapak itu tanpa ada masalah apapun karena apa yang diucapkan bapak itu ternyata memang benar. Dalam hati saya berpikir bahwa semua hal di Indonesia ini bisa diusahakan oleh seorang makelar. Ambil contoh saja penerimaan anggota POLRI atau TNI, kabarnya untuk masuk kedalam lembaga tersebut harus mengeluarkan uang puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah. Penerimaan CPNS juga demikian, ada makelar yang berperan dalam penerimaan ini. Sekali lagi ini hanya kabarnya karena saya tidak mengetahui atau menyaksikan secara langsung. Setelah mengetahui hal semacam itu saya jadi berpikir, kalau semua hal bisa dimakelari, bagaimana dengan surga dan neraka. Apakah nantinya ada makelar di sana?

Suatu waktu, saya sudah waktunya dipanggil oleh Tuhan dan melalui Yaumul Hisab atau hari perhitungan. Setelah ditimbang-timbang, maka kata malaikat saya masuk kedalam neraka tingkat ke 7. Saya yang merasa tertib beribadah bin tidak berbuat onar di dunia selama hidup inipun protes kepada malaikat yang bertugas menimbang amal perbuatan saya.

“Hai tuan malaikat, apa tidak salah timbangannya koq saya dimasukkan ke neraka tingkat ketujuh? Coba di cek lagi deh” protes saya kepada malaikat.

Kemudian malaikat berkata: “Wahai manusia Nugroho Imam Setiawan, sebenarnya amalmu sangat cukup untuk masuk ke dalam surga tetapi ada kesalahan yang sangat fatal yang kau lakukan sebelum ajalmu tiba, selisih setengah detik sebelum ajalmu tiba”

“Apa itu tuan malaikat?” tanyaku pada malaikat

Malaikat kembali berkata: “Ketika kamu meregang nyawa jarimu menekan dan membunuh mati seekor lalat yang sedang mengandung bayi kembar, dan itu adalah dosa besar. Maka dari itu timbanganmu menunjuk kau untuk menempati neraka ke tujuh”

Dengan lunglai dan tanpa protes akhirnya saya menuruti apa kata malaikat tersebut untuk berjalan menuju neraka tingkat ke tujuh. Selang beberapa saat tiba-tiba malaikat itu kembali menghampiri saya di tengah antrian orang-orang yang menuju neraka tingkat ketujuh. Dengan berbisik dia berkata:

“Pssstt… sebenarnya saya bisa mengusahakan kamu untuk berada di neraka tingkat ke tiga saja asal kamu harus bantu saya” bisik malaikat.

“Apa yang bisa saya bantu wahai tuan malaikat?” tanyaku dengan terkaget-kaget.

“Kamu bisa pembukuan kan? Tolong bantu saya untuk merekap orang-orang yang masuk neraka, karena data saya amburadul. Tolong bantu saya ya, kamu bisa kan?”

“Bisa-bisa tuan malaikat” kataku lagi.

Wheelhadalah… ternyata praktek percaloan dan makelar rupanya tidak hanya di negara kita tercinta Indonesia tetapi ada juga prakteknya di surga dan neraka. Sekali lagi ini hanya imaji saya, inspirasi dari obrolan dengan sahabat tadi malam.

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

5 Responses to Praktek makelar lintas alam

  1. bosman says:

    berarti tuan malaikat itu enggak bisa excel ya brenx? ada proyek nih…kita bikin aja pelatihan excel buat malaikat gimana? biar databasenya jadi bagus? dan siapa tau kalo bikin pelatihan lu enggak cuma dikasi ke neraka tingkat tiga, tapi deket2 surga? lumayan kan brenx?

  2. nadya says:

    wah tulisanmu makin ekspresif n jenaka aja … suka!

  3. IwanTolet says:

    Bosman,
    Iya, tapi kita kayaknya harus mampus dulu bos. Lu siapin materinya dulu deh, ntar gw yang buat powerpointnya. Gimana? Setuju?

    Nadya,
    Sip…🙂

  4. saden says:

    breng, masalah imajinasi aku jd punya imajinasi jg ne ttg hari perhitungan,ini jg masih ada hubungan dengn tulisan mu yang dl2, ttg buku sejarah manusin itu segede apa.. kita kan slalu di kasih tau kl di hari akhir ntr di tunjukan catatan amalan kita, seperti apakah wujud catatan itu, apakas sebuah buku besar seleber benua amerika seperti katamau itu.. padahal jaman skarang aja udah ada flashdisk or hardish yang bs menyimpan data ber-Tera Gb. kl buat nulis catatan formatnya *.doc ato pembukuan amal dan dosa ber format *.xls kan udah gede bgt tu.. trus kita jd slalu di kasih tau kl tangan kita bs bicara dan ga b sbohong, apakan nantinya tangan ini muncul mulut? ato gmn,, padahal laptop mu aja udah ada fasilitas fingerprint, yang bs di bilang saat tanagn kita kita gesek di atasnya dia bilang “ini laptop gombreng” dan itu ga bs bohong,..
    nah kira kira teknologi semacam apakan yang bakal dipakai di hari perhitungan nanti???
    seperti apakah wujud catatan yang akan di tunjukan nanti.. masih kah berwujud buku tulisan tangan malaikat dengan font handwriting ?????

  5. iwantolet says:

    Berbicara mengenai akherat, ada istilah yang selama ini nyantol di kepalaku adalah “The God Way”. Sepertinya “Beliau” punya caranya sendiri dalam mengerjakan sesuatu bisa berarti tidak mengikuti teknologi sekarang atau malah lebih canggih yang pasti tidak akan menjadi kejutan buat kita nantinya. Dan, yang tertulis tidak selalu harus diartikan secara harafiah kan… Seperti tangan bisa berbicara atau hal-hal lain yang tidak masuk akal manusia… Sekali lagi, “The God Way”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: