A Little Java in Sunda Island

Menghuni sebuah kota baru pada awalnya pasti tidaklah mudah, perlu adaptasi yang cukup melelahkan. Harus tahu budaya, kultur, kebiasaan, tingkah laku, jalanan, dan lokasi-lokasi strategis yang sekiranya penting buat kita menjalani hidup. Setidaknya ada 5 kota di Indonesia yang pernah menjadi persinggahanku cukup lama selain di Yogyakarta tentunya. Yang pertama adalah Solo, kota ini menjadi tempat persinggahanku karena kedua orangtuaku berasal dari sana, mau tak mau aku harus ikut hidup cukup lama di kota Solo. Yang kedua adalah Jakarta, di kota inilah aku dilahirkan, ada semacam ikatan batin antara diriku dengan kota ini walaupun sampai dengan saat ini aku tidak pernah menikmati hidup di Jakarta. Yang ketiga adalah Banjarmasin, kota ini kuhuni cukup lama karena boleh dibilang di kota inilah aku pertama kali menetap untuk bekerja, walaupun aku pernah bekerja sebelumnya di kota lain tetapi tidak pernah menetap lama. 1,5 tahun kulewati hidupku di Banjarmasin, saya kira angka yang cukup untuk bisa membuktikan bahwa saya pernah hidup disana. Yang keempat adalah Sangatta, setidaknya 1 tahun kulewati hidupku di sini, tak lain dan tak bukan hanyalah untuk bekerja di perusahaan tambang yang berada di sana dan kota ini menjadi tempat persinggahanku sebelum akhirnya aku bersinggah di kota kelima yaitu Bandung.

Bandung adalah kota persinggahanku yang kelima, aku harap ini menjadi tempat persinggahanku terakhir hingga akhirnya aku menetap di mana kelak, karena aku bukan tukang ramal nasib. Setidaknya sudah tergambar 2 tahun hidupku akan kulewati di kota ini karena kurikulum S2ku tepat berakhir 2 tahun kedepan. Seperti biasa, tidak mudah melewati hidup pertama kali di kota yang asing. Walaupun secara geografis terletak di pulau Jawa, satu pulau dengan kota asalku di Yogyakarta, tetapi aku tidak pernah berkunjung di kota ini sebelumnya, bahkan melintaspun tidak pernah. Hanya mendengar kabar dari kawan atau kerabat yang pernah berkunjung di kota ini. Untungnya tidak banyak hal negatif yang kudengar, rata-rata mereka mengagumi wisata dan iklim dari kota ini yang sangat cocok sebagai tempat refresing mengusir kepenatan. Tetapi yakinlah, bukan karena dasar itu aku memilih Bandung sebagai tempat dimana aku meneruskan kuliahku, tetapi karena dasar yang lain, yah tidak jauh-jauh dari urusan akademik.

Ketika urusan akademik sudah tidak menjadi masalah, dalam hal ini aku sudah menemukan ritme belajarku, jadwal kuliah yang stabil, adaptasi lingkungan kampus yang sudah terlewati maka aku digelisahkan oleh permasalahan adaptasi duniawi. Memang belum semua tempat eksotik kukunjungi di Bandung ini, tetapi aku sudah menemukan suatu titik jenuh. Kota ini menawarkan sejuta wisata, sejuta makanan nikmat, sejuta pemandangan, sejuta barang indah, sejuta tubuh molek dan sejuta hal-hal menarik duniawi lainnya tetapi aku tetap merasa sepi. Obrolan-obrolan ringan, kelakar-kelakar sedikit tabu, persaudaraan dan kekeluargaan terasa jauh di kota ini. Berjuta-juta keindahan tadi tidak bisa memberikan penawar bagi penyakit hati itu.

Suatu ketika seorang sobat yang juga merantau di Bandung tetapi lebih senior dariku (lebih lama tinggal di Bandung) berkunjung padaku dan memperkenalkan sebuah lingkungan baru di tengah hiruk-pikuknya kota Bandung. Sebuah persinggahan khas ala jogja dan sekitarnya di sudut kota Bandung, hanya ada satu-satunya katanya. Ya, sebuah angkringan, angkringan yang mungkin ribuan jumlah di kota Jogja tetapi akan menjadi minoritas di kota Bandung. Namanya adalah Angkringan Gelap Nyawang kerena terletak di jalan Gelap Nyawang, lengkap dengan bentuk dan sajiannya yang sesuai dengan imajiku ketika aku berada di Yogyakarta. Seperti yang kuduga, akan banyak pendatang di kota Bandung yang berasal dari Jawa Tengah-Timur yang mempunyai penyakit hati yang sama denganku dan angkringan inilah yang menjadi pelipurnya. Seperti sebuah oasis di padang pasir yang tandus, aku menyebutnya “A Little Java in Sunda Island” karena pengunjungnya sebagian besar dari etnis Jawa dan masih mempertahankan ciri khas bicara, bercanda dan rasa kekeluargaan ala Javanisme. Bukan berarti sara membandingkan masalah ras, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada nostalgia tersendiri dari dalam sudut hati kecil tiap manusia akan kampung halamannya lengkap dengan tradisi dan budayanya di tanah rantau.

angkring1Dari obrolan angkring (mengutip sebuah acara televisi di stasium TVRI Jogja) banyak sekali risalah yang didapat darinya. Mulai dari politik, budaya, berita nasional maupun internasional yang dikemas dalam obrolan ringan nan mencerdaskan. Oleh karena itulah sering terdengar tawa keras riuh redam dari sebuah bangku yang mengelilingi meja yang tersaji hidangan khas Jawa. Sate usus, sate ndog, nasi kucing, gorengan, wedang jahe, kopi, teh dan beragam penganan lainnya yang di komandoi oleh Mas Agus sang penjaga angkringan. Kapan buka dan kapan tutup? Dari jam 5 sore sampai “sak enteke” (sehabisnya makanan), ini berarti jam tutupnya masih terbuka lebar tetapi biasanya pukul 1 dini hari semua hidangan sudah ludes maklumlah dari ratusan pendatang dari Jawa Tengah dan sekitarnya yang mempunyai penyakit hati sepertiku hanya dilayani oleh sebuah gerobak angkringan. Mereka berdatangan dari semua sudut kota Bandung, yang paling jauh mungkin sobat saya itu, dia tinggal jauh di selatan kota Bandung dan bersemangat sekali untuk menikmati hidangan angkringan yang berada di utara kota Bandung hanya untuk mencari suasana Javanisme. Yah, sebegitu besarnya pengorbanan untuk mendapatkan penawar penyakit hati.

Dari kumpulan pelanggan dan penikmat hidangan angkringan ini terbentuklah komunitas-komunitas kecil berdasarkan hobinya masing-masing. Setauku sudah ada 2 even yang hadir dari pertemuan di angkringan ini, semuanya berdasarkan kegemaran olahraga yang sama, yaitu badminton dan futsal. Ada hari khusus bagi komunitas angkringan untuk bermain badminton dan futsal bersama, inilah salah satu contoh kegiatan positif dari komunitas angkringan. Saya kira masih banyak hal-hal lain yang dicetuskan dari obrolan-obrolan di angkringan ini. Sebagian besar pengunjung angkringan didominasi oleh para mahasiswa ITB karena lokasinya berada di dekat kampus ITB juga harganya sesuai dengan kantong mahasiswa. Maka dari itu, boleh jadi dari angkringan ini terlahir calon-calon pemimpin besar nasional maupun internasional yang merakyat seperti juga sifat khas angkringan yang merakyat. Yang terakhir, semoga angkringan ini bisa menjadi obat untuk penyakit hatiku setidaknya sampai 2 tahun kedepan dan sampai jumpa di obrolan angkringan berikutnya.

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

7 Responses to A Little Java in Sunda Island

  1. bendoth says:

    ealah le uripmu kok kayane mesakke banget to…nek kesepian yo teko muter2 mbandung ping 10 dijamin jos

  2. yuti says:

    emange java & sunda beda pulau?
    masih bersyukurlah kamu nggak sekolah di suriname po timbuktu.. :))

  3. irma says:

    wih,angkringan..jadi kangen surabaya..=)
    salam kenal deh buat masnya..

  4. aji says:

    pie kabare janu karo didit… apa masih ada komunikasi dengan mereka… pasti dah pada sukses ya?

  5. wachid says:

    assalamu’alaikum…
    mas gombreng..

  6. Dito says:

    aq rong tahun luwih, meh 3 tahun ning Bandung… rasane beda pergaulane, ra koyo Djokdja, cen paling penak ning Djokdja😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: