Antara aku, kasur, kursi, lantai dan berandaku

3 tahun semenjak kelulusanku S1 Geologi UGM selalu kulewatkan dengan bekerja di luar kota. Pada lingkup kerja yang berhubungan dengan profesiku, perusahaan biasanya memberikan fasilitas mess kepada karyawannya. Sudah beberapa kamar mess kurasakan, karena aku sering pindah-pindah perusahaan (koq masih tetep pengen pindah lagi ya :P). Yang terakhir ini adalah yang paling baik diantara kamar-kamar mess yang pernah kurasakan.

Ukuran kamar kira-kira 4x4m, dinding triplek kayu tebal dengan cat krem dan lantai karet tempelan warna hijau muda. Perusahaan kali ini tidak main-main memberikan fasilitas bagi karyawannya. Di dalam kamar juga diberi fasilitas kasur spring bed, lemari, meja dan kursi, rak buku, cermin, dan pendingin ruangan. Ada dua buah pintu di dalam kamar. Pintu utama menghubungkan kamar dalam 1 barak, sedangkan pintu belakang mengarah ke taman belakang dengan beranda yang cukup eksotik. Jaringan televisi juga diberikan tetapi jaringan internet harus diurus sendiri hingga aku bisa ngenet terus sepanjang hari di kamarku ini.

Sebenarnya kamar messku ini merupakan salah satu bagian dari sepuluh kamar mess yang lain dalam 1 barak. Aku tinggal di barak A10 yang terdiri dari 10 kamar dan kamarku kebetulan nomor 10 juga. Lengkap sudah, Barak no 10 dengan 10 kamar dan kamarku no 10, angka yang cantik bukan? Dalam 1 barak diberi fasilitas bersama berupa ruang tamu berpendingin udara lengkap dengan sofa, karpet, dan televisi. Di bagian belakang juga disediakan dapur dan kulkas. Listrik disini hampir tidak pernah mati karena menggunakan jaringan yang berbeda dari lingkungan sekitar. Di kota ini (Sangatta-Bengalon, Kalimantan Timur) listrik sering padam mendadak. Biasanya terjadi di siang hari, ironis bukan? Sumberdaya alam energi di kota ini cukup melimpah hingga dapat menghasilkan produksi 40juta ton batubara pertahun tetapi pasokan listriknya sering padam dengan dalih krisis energi. Tidak masuk akal tetapi itulah yang terjadi di negara ini. Kurang becus dalam mengelola energi mulai dari hulu hingga hilir. Ah… koq jadi berkeluh kesah tentang negara ini…

Di kamar inilah segala macam aktifitasku berada. Mulai dari melepas lelah setelah bekerja, ngenet, nonton televisi, makan-minum, push up, sit up, menangis, tertawa, feeling blue, dan semua hal yang berlaku dalam kehidupan manusia. Munculnya beberapa ide untuk menulis blog, puisi, cerpen juga berlaku di kamar ini. Dekorasi kamar ini kutata semau seleraku, yang pasti berserakan buku-buku dan majalah di sana-sini dan aku sering menaruh-naruh sembarangan alat-alat tulis yang cukup sering aku harus berputar-putar untuk mencarinya ketika akan berangkat kerja. Tidak banyak celah antara aku, kasur, kursi, lantai dan berandaku. Hanya di tempat-tempat itulah aku berada saat di kamarku. Saat nerima telepon, saat chating, saat tiduran, saat baca buku atau hal-hal lain keseharianku.

Akhir-akhir ini aku tidak banyak keluar kamar. Mungkin karena sebelumnya aku merasa lelah bolak-balik Sangatta-Bandung-Jogja untuk menyelesaikan urusan kuliahku selanjutnya. Pengen ngadem aja di kamar sembari mendengarkan Jazz Bosanova atau menikmati secangkir kopi panas dengan novel atau membaca dan menulis blog. Sesekali keluar untuk istirahat atau sedikit bersosialisasi diluar jadwal kerjaku. Aku mulai menikmati masa-masa terakhirku di kamarku ini. Kamar no 10 di barak 10.

Antara aku, kasur, kursi, lantai dan berandaku. Semuanya tiba-tiba menjadi romantis saat aku sedang menghitung hariku berada di kamar ini. Tinggal 1 minggu, tinggal 3 hari, tinggal 1 hari, tinggal 1 jam, dst. Rasanya susah sekali untuk tidak mengenangnya. Walaupun hanya 1 tahun aku berada di kamar ini, tetapi rasanya ingin hidup 1000 tahun lagi hanya untuk berada di kasur, kursi, lantai dan beranda kamar ini. Hanya untuk mendengarkan music, membaca, minum kopi, tertawa, menangis dan tertidur pulas.

Antara aku, kasur, kursi, lantai dan berandaku. Aku takut saat itu menjadi gelap kala aku mengingatnya kembali setelah puluhan tahun kutinggalkan.

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

7 Responses to Antara aku, kasur, kursi, lantai dan berandaku

  1. yuti says:

    you don’t realize the value of something until you’re about to lose it..
    kita baru menghargai air ketika musim kemarau datang. kita baru menghargai sehat ketika sakit. kita baru berhemat ketika BBM semakin langka..

    dasar MANUSIA..!! :p

  2. nadya says:

    klangenan ni ceritanya😛 hahaahaa ….

  3. igen says:

    aq ora iso dolan ning barakmu maning brenx…ketika aq tiba2 nongol dan kau dg berbaik hati segera mengleuarkan segala camilan n minuman kotak buat menjamuku….sebenarnya itu tak perlu kau lakukan sebab aku pengen lebih dari itu hehehe……..

  4. Bosman says:

    lho….??? bukannya itu kamar gua brenx? Anyway, warisan2 yang gua percayakan ke lu kamu wariskan sama siapa lagi?

  5. totong says:

    S-2 ITB mbreng? bagus lah, aku akan setia menunggu blog2mu yg lebih berwarna, gak lagi tentang kesepian, keluh kesah dan sikap nglegowo-mu di perantauan. harapanku blog2 barumu mulai bercerita tentang mojang2 geulis nu bodas, rambut panjang yg diponi kesamping, tengtop (piye si nulise?) dan celana model pensil…….wow ngeunah pisan….
    gutlak kawan, selamat berpetualang!!!

  6. Seno says:

    Ah kau brenk
    macam balita saja kau menangisi kamar kau sendiri
    kenapa tak ceritakan saja kamar kos kau di bandung, pasti lebih mak nyus..

  7. emh

    selesai jga baca nya
    bis pnjang pisan

    iia tu sich dritanya lou sering mati lampu mah
    sabar ja lah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: