Kepercayaan lokal dan keseimbangan bumi

Setiap makhluk di dunia ini memiliki tugas masing-masing. Seekor nyamukpun mempunyai tugas untuk menyebarkan penyakit malaria mengurangi jumlah manusia yang menjarah hutan hujan tropis. Makhluk gaib termasuk didalamnya, bukan karena penyebutan di depannya menggunakan “makhluk” tetapi aku meyakininya memang ada. Tidakkah terpikir bahwa gendruwolah yang menjaga pohon-pohon bambu, hutan-hutan rimba dan tebing-tebing jurang? Tuyul mencuri uang manusia sekedar untuk mengingatkan bahwa ingatlah untuk berbagi kekayaan kepada sesama bukan hanya menumpuk harta. Kuntilanak menculik anak-anak untuk mengurangi laju natalitas manusia agar tak memenuhi bumi dan hantu pocong yang selalu muncul di malam hari menjaga manusia agar tak keluyuran tak berguna di malam hari.

Kepercayaan lokal mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia. Saat penguasa di belantara Indonesia masih berupa kerajaan-kerajaan, tidak dipungkiri bahwa banyak sekali kepercayaan lokal yang berkembang. Bahwa kita tidak boleh sembarangan memasuki hutan karena di dalamnya terdapat kerajaan gendruwo yang akan menculik setiap orang yang datang mendekatinya. Atau pohon-pohon tua yang keramat yang selalu diberi sesaji setiap malam jumat kliwon. Terpikirkah bahwa kepercayaan lokal ini mempunyai makna penjagaan terhadap sumberdaya alam berupa hutan, air dan gunung-gunung yang juga berguna bagi umat manusia. Bukankah ini berarti perintah untuk menjaga pohon-pohon agar tidak ditebang secara sembarangan, tidak mengusik ekosistem hewan di hutan yang sebenarnya berimbas juga dengan kesejahteraan umat manusia. Tidak heran bahwa pada waktu itu kelestarian alam di bumi Indonesia masih benar-benar terjaga karena masyarakat pada waktu itu memberikan rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada makhluk gaib penunggu alam raya ini. Pada perkembangan selanjutnya, kepercayaan lokal ini diobrak-abrik oleh Jendral Daendels dengan membangun jalan Daendels membelah Pulai Jawa mulai dari Barat sampai ke Timur yang mengharuskan untuk melewati hutan-hutan rimba nan keramat. Masyarakat Jawa kala itu hanya bisa menangis dan melongo seakan tak percaya bahwa kuasa manusia bisa menakhlukkan makhluk gaib penunggu hutan yang mereka hormati seumur hidupnya. Apa yang terjadi? Harimau Jawa punah terlebih dahulu.

Harus diberi penghargaan yang sebesar-besarnya bagi mereka para pendahulu kita yang telah mengembangkan kepercayaan lokal. Tidakkah dibayangkan apabila tidak adanya kepercayaan lokal maka hutan-hutan dan gunung-gunung akan dibabat sedemikian mudahnya tanpa ada perasaan bersalah apapun. Mengenai sesaji yang diberikan kepada para penunggu hutan janganlah menjadi suatu permasalahan dosa dan tidak dosa, surga ataupun neraka. Kalaupun jin dan siluman itu memang ada, apa salahnya membayar sejenis pajak kepada mereka ketika kita memasuki wilayah mereka? Sejauh pajak itu cuma sesajen bunga-bungaan, buah-buahan, sejumput makanan, apa salahnya? Apalagi diracik indah dengan perasaan dan nilai seni yang tinggi. Kalau kita membayar pajak kepada pemerintah bukan berarti kita menyembah pemerintah atau menyekutukan Tuhan kan? Janganlah berlebihan atau menjadi sebuah ideologi untuk di pertaruhkan dengan berdarah-darah.

Saat modernitas, globalisasi dan pemahaman sempit tentang religi sudah membaur dalam diri kita, maka kepercayaan lokal semacam ini semakin lama semakin luntur. Permasalahannya bukan ritualnya tetapi makna yang terkandung di dalamnya. Bisa kita lihat saat ini bahwa penjarah hutan tidak lagi segan-segan untuk “blusukan” hutan rimba tanpa ada rasa takut sama sekali terhadap gendruwo penunggu hutan karena bulldozer mempunyai fisik lebih besar, suara yang lebih bergemuruh dan lampu sorot yang terang benderang. Tidak adalagi penghargaan terhadap alam ini, manusia menjadi seenaknya menginjak-injak bumi ini. Sikap mengeramatkan alam sejalan dengan sikap memeliharanya. Saat ini, mereka yang mempertahankan dan mempercayainya akan dicemooh bahkan dianggap musrik dan di cap sebagai penghuni neraka yang paling dalam padahal justru merekalah yang selama ini menjaga kelestarian bumi ini.

Seandainya semua orang di dunia ini memberikan penghargaan sebesar-besarnya diberikan kepada para makhluk gaib penunggu alam ini maka tidak diperlukan lagi organisasi WALHI, tidak ada lagi permasalahan Global Warming, tidak adalagi permasalahan pembalakan liar dan penambangan liar yang membabi buta. Terimakasih dan kuberikan rasa hormat sebesar-besarnya kepada para arwah penunggu hutan, laut, pantai, gua, sungai, pohon-pohon besar yang selama ini telah mendiami dan menjaganya untuk kelestarian bumi ini. Berikanlah selalu keseimbangan di bumi ini.

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

8 Responses to Kepercayaan lokal dan keseimbangan bumi

  1. ontnyrahus says:

    wah keren banget,,, saya setuju tuh dengan pendapat mas nugroho,,,

  2. igen says:

    kawan,
    pantheisme memberikan ruang2 ekspresi tanpa batas kepada setiap manusia untuk memuja masnifestasi-Nya di bumi ini. tapi sayangnya, logika berpikir manusia yang mengaku modern seringkali terkalahkan oleh urusan perut. parahnya lagi ketika local wisdom sepeti itu dibenturkan dengan ideologi monoteisme yang tanpa kompromi……

  3. reyden says:

    Waktu km cerita ke aku inspirasimu utk nulis ttg kepercayaan lokal, aku ud langsung bs ngebayanginnya..but surprisingly..this is really out of my head! aku ga nyangka km mengambil cara dan gaya cerita yg benar2 extra ordinary. stiap kalimatmu bukin yg baca jd “iya bener..bener..” ttg sesuatu yg ada di sekitar kami tp ga km sadari.simple but catchy.gaya bertuturmu hangat, pasti km co yg romantis ya, bahagia bgt tu yg jd cew mu😛. eh tp km sadar ga kl km jd pny tambah byk temen lho, dari dunia lain jg😛, nyalon aja jd capres..(ntar wapres nya kuntilanak, hii..) Mrk titp salam ke km bhw mrk berterima kasih bgt atas perhargaanmu yg tinggi ke mrk. blew job honey eh…good job honey! what’s next?

  4. Danny says:

    Mas, tulisannya kok se ide dengan saya ya…

  5. kalasenja says:

    enak bgy baca nya brenk,,kapan2 ceritain kepercayaan lokalnya di hutan kalimantan sana ya

  6. Bosman says:

    Udah jadi pemujamakhluk haluskah Pakdhe? Selamat…selamat…

  7. yuti says:

    hmm..
    ya beda lah antara pajak untuk pemerintah dan sajen untuk jin.. manusia dan jin sama2 ciptaan Tuhan. masing2 punya kehidupannya sendiri. jin tinggal di alam ghaib, invisible for us, kecuali dalam keadaan tertentu.
    kalau menurutku, kita hanya perlu meyakini keberadaannya tanpa perlu mengusik atau berhubungan dengan mereka.
    terlepas dari itu, pemeliharaan alam memang menjadi kewajiban manusia kan?

  8. totong says:

    itu dia mbreng….tidak semua orang berpikir dari perspektifmu.
    orang semakin pintar dan pandai beropini, dan semua jadi benar asalkan lihai menggiring orang unt meng’iyakan” pendapatnya.
    keseimbangan yg kau maksud kan tentang alam, sementara kalau membayangkan negara ini masih hijau royo2 bak permadani khatulistiwa, mungkin geologist kayak kita ini banyak yg nganggur… ;P lha kerjanya tergantung alam semua, tidak bisa tidak unt mengeksplorasi tanpa mengusik alam. dilematis, tapi bisa kita cuma me minimize kerusakan, menghilangkannya sama sekali adalah tidak mungkin. dan sampai sekarang, aku masih percaya sama yg gaib…tapi kalau sesajen, nggak dulu lah breng, NPWP aja belum diurus…..=), masa kasih pajak ke genderuwo, ntar kalo sesajennya kurang ada depkolektor gendruwo nyamperin ke rumah….hiiiiiiiii tatuuut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: