Sejarah (mental) itu kembali terulang?

Saat cutiku kemarin di Jogjakarta aku selalu sempatkan untuk mampir ke toko buku. Aku memilih toko buku yang ada di Mall Ambarukmo Plaza karena sekalian cuci mata setelah beberapa lama terhalang oleh debu tambang. Atas referensi sahabat aku memilih beberapat buku dan salah satunya adalah Selamatkan Indonesia – Agenda Mendesak Bangsa penulis Moh. Amien Rais. Dengan bahasa yang khas Pak Amien yang lugas, buku ini sangat menarik untuk membuka kembali wacana apa yang sedang terjadi di Indonesia. Begitu pelik tetapi itulah kenyataannya, aku kira memang benar pada halaman awal ditulisnya bahwa buku ini dipersembahkan untuk Semua anak bangsa yang masih peduli dengan martabat dan harga diri bangsa. Dan aku coba ringkas kembali menurut versiku :

Those who fail to learn the lessons of history are doomed to repeat them. Mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulang pengalaman sejarah itu. (George Santayana)

Sejarah telah menuliskan bahwa Indonesia pernah terjajah sekitar 350 tahun oleh Belanda. Dalam 3,5 abad itulah kekuatan ekonomi dan politik kepulauan nusantara telah dikuasai oleh penjajah Belanda yang diwakili oleh korporat dagangnya VOC. Sumberdaya alam dan manusia negeri ini telah diperas habis-habisan tanpa imbalan yang setimpal. Hutan rimba belantara yang memayungi tanah Indonesia dibuka untuk kepentingan perdagangan rempah-rempah dan jalur-jalur penyaluran ekonomis. Kemana larinya keuntungan itu? Tak lain mengalir ke kerajaan Belanda yang letaknya ratusan kilometer disana. Pada 1669 VOC telah menjadi “perusahaan swasta” terbesar di dunia dengan memiliki 150 kapal dagang, 40 kapal perang, 50.000 karyawan, angkatan darat swasta sebesar 10.000 prajurit, dan pembayaran deviden sebanyak 40%.

Mengapa VOC begitu Berjaya menjarah kekayaan alam Indonesia sampai sekitar 3 abad? Alasannya karena pemerintah Belanda kala itu memberikan dukungan politik sepenuhnya. VOC diberi hak monopoli dagang di Hindia Timur dan dibantu menyingkirkan para pesaing dari Eropa seperti Inggris dan Portugal. Piagam dari pemerintah Belanda diberikan kepada VOC yang berarti bukan saja untuk memonopoli dagang tetapi juga wewenang untuk menduduki wilayah mana pun yang dikendaki dan menjajah penduduk asli sesuai dengan tuntutan pasar dan kebutuhan politik VOC sendiri.

Diluar itu, ada alasan yang lain mengapa VOC berhasil menjajah Indonesia. Elite atau penguasa Indonesia waktu itu seperti para raja tidak semuanya melakukan perlawanan bersama rakyat untuk memukul balik kekuatan imperialis-kolonialis tetapi justru sebagian dari mereka melakukan konspirasi dengan pihak penjajah. Pahlawan-pahlawan Indonesia seperti Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Cik di Tiro, Pangeran Diponegoro tentu telah berbuat yang terbaik untuk kepentingan nusantara akan tetapi masih ada juga lapisan aristokrasi yang cenderung berdamai dan mensubordinasikan diri di bawah kompeni dan penjajah Belanda malahan mengumpulkan pajak atas nama Pemerintahan Hindia Belanda. Contohnya adalah Amangkurat I dan II yang menggantikan Sultan Agung sebagai raja Mataram justru mempermudah jatuhnya sebagian wilayah Jawa Barat ke tangan VOC pada akhir abad 17. Saat Amangkurat II diganti oleh Pemerintah Belanda dengan pamannya Pakubuwono I, konsensi tanah yang lebih luas lagi diberikan pada Pemerintah Belanda. Pada tahun 1755 wilayah kerajaan Mataram telah mengkerut kecil. Seluruh pulau Jawa telah jatuh ke tangan Belanda kecuali daerah Jogjakarta dan Surakarta, itupun dipecah menjadi dua kerajaan, kesultanan dan kasunanan. VOC dan Pemerintahan Belanda akan kesulitan menguasai Indonesia apabaila elite pada masa itu tidak membuka pintu lebar-lebar bagi VOC dan Pemerintahan Belanda. Untuk itulah selama 3 abad lebih mentalitas anak bangsa telah rusak parah dan menjadi mental inlander bahkan hingga saat ini.

Secara harafiah, inlander berarti pribumi atau anak negeri. Dalam zaman penjajahan, istilah inlander digunakan secara sinis-sarkastik buat anak-anak bangsa yang penakut, merasa inferior di depan penjajah Belanda. Selalu jadi pecundang serba nrimo, bodoh, potongan dan jahitannya memang pantas untuk dijajah dan dihina. Mental inlander adalah musuh dari dalam tubuh sendiri suatu bangsa. Adalah bangsa tersebut merasa begitu kerasan dengan mentalitas terjajah, dengan perasaan rendah diri serta penyakit yang selalu kalah. Pada perkembangan selanjutnya, mentalitas ini akan membuahkan kebingungan, kelemahan dan kehilangan percaya diri.

VOC mungkin sudah tidak ada lagi di muka bumi ini tetapi korporasi dagang versi lain masih bercokol di muka bumi ini. Jiwa penjajah masih ada di beberapa bangsa. Saling mencaplok sumberdaya alam antar bangsa dengan modus kejahatan kerah putih masih dapat kita saksikan hingga kini. Korbannya adalah negara-negara bermental inlander yang selalu membuka lebar untuk masuknya penjajahan dibalik tabir korporasi dagang dengan cara melemahkan sendi ekonomi, politik dan pertahanan negara. Negara yang bermental inlander akan menjadi bulan-bulanan negara-negara yang lain, uang sudah menjadi raja bagi semua keinginan, semuanya bisa dibeli termasuk harga diri dan mental sebuah negara mulai dari pemimpinnya hingga rakyatnya.

Saat ini kita dapat menyaksikan secara langsung satelit palapa (indosat) yang selalu memantau segi kehidupan Indonesia selama 24jam non stop dikuasai oleh asing, pulau-pulau Indonesia makin mengecil untuk disumbangkan ke negara tetangga yang makin luas dan makin maju, larinya kayu-kayu hasil illegal logging ke negara tetangga untuk disahkan menjadi miliknya kemudian dijual kembali ke Indonesia, gempuran habis-habisan korpotokrasi perusahaan asing di Indonesia yang menguasai sendi-sendi kehidupan Indonesia dan masih banyak lagi. Kehidupan Indonesia saat ini bukanlah ditentukan oleh tangannya sendiri tetapi sudah ditentukan oleh kekuatan lain di luar tubuh Indonesia.

Saat ini nasionalisme yang tersisa hanyalah ketika ada pertandingan olahraga antara Indonesia dengan negara lain. Nasionalisme olahraga adalah nasionalisme simbolik karena bersifat kasatmata. Bila bangsa diibaratkan sebuah rumah di pinggir jalan raya, olahraga bagaikan pagar depan yang langsung dilihat oleh setiap pengguna jalan raya. Obsesinya adalah bagaimana pagar tersebut bisa terlihat selalu bersih, mengkilat dan terawat sehingga ketika perabotan rumah dicuri orang di depan mata si pemilik rumah maka tidak dipedulikan. Kita bela merah putih hanya bersifat simbolik saja tetapi ketika kekayaan alam kita dikuras dan dijarah, ketika sektor ekonomi seperti perbankan dan industry vital dikuasai asing dan bahkan ketika kekuatan asing sudah bisa mendikte pertahanan Indonesia kita hanya diam membisu. Sejarah menuliskan bahwa bangsa Indonesia mengalami penjajahan Belanda sekitar 3,5 abad lamanya dan sudah cukup berhasil untuk membuat mental bangsa ini menjadi mental Inlander. Apakah sejarah penjajahan ini akan kembali terulang?

There are seven sins in the world: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, and Politics without principle. Ada 7 macam dosa di dunia : Kekayaan tanpa kerja, Kesenangan tanpa nurani, Pengetahuan tanpa watak, Perdagangan tanpa moralitas, Ilmu tanpa kemanusiaan, Ibadah tanpa pengorbanan dan Politik tanpa prinsip. (Mahatma Gandhi)

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

3 Responses to Sejarah (mental) itu kembali terulang?

  1. Yuti says:

    berat ya?
    mental inlander ini sudah merasuk ke tulang manusia Indonesia.
    trus gimana dong solusinya?

  2. iwantolet says:

    Pertama-tama adalah perbaikan moral bangsa terlebih dahulu lalu harus diselesaikan dengan bertahap atau harus dengan revolusi yang besar-besaran mulai dari pemberantasan korupsi, penegakan hukum yang seadil-adilnya sampai dengan peninjauan kembali perundang-undangan tentang penanaman modal asing.

  3. Yuti says:

    Ya itu.. tahap pertamanya yg susah kan..
    perbaikan moral bangsa nggak cukup dengan diberi pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. ada yg bilang kita perlu ‘shock theraphy’. tapi shock theraphy macam apa lagi??? apa selama ini masih kurang?
    trus tentang korupsi. kamu sendiri pernah bilang kalo kita ada di lingkungan korup, sangat mungkin lama2 kita bakal ikut korup untuk jadi ‘normal’, seperti yang lainnya. hehe, itu berarti never ending corruption kan? rantainya perlu diputuskan..

    ngomongin kayak ginian emang gak ada habisnya ya.. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: