Menjadi Priyayi di tengah jaman Bill Gates

Priyayi sangatlah identik dengan kelas masyarakat Jawa. Julukannya didasarkan atas darah keturunan dengan raja-raja penguasa Jawa, penganugerahan gelar oleh kerajaan karena pengabdiannya sebagai abdi dalem atau pengabdiannya sebagai pegawai pemerintahan kala itu. Selain dari kelas priyayi, masih ada kelas masyarakat Jawa selain priyayi yaitu kawula alit (masyarakat kecil) yaitu kelas masyarakat Jawa yang tidak mempunyai garis keturunan langsung dengan raja-raja Jawa juga tidak mempunyai profesi yang layak disebut priyayi, mereka biasanya dari kalangan petani atau pekerja biasa. Menjadi seorang priyayi merupakan kebanggaan yang tiada duanya karena pada masanya merupakan kelas utama dalam struktur masyarakat Jawa di bawah seorang Raja. Masyarakat Jawa lain di luar kepriyayian akan mendukung status ini dengan menyanjungnya seakan priyayi adalah kelas manusia unggul daripada yang lain. Mereka akan memiliki panggilan “Den” dari Raden atau “Ndoro” dari Bendoro. Dalam bahasa Jawa, ada tingkatan kelas penggunaan bahasa mulai dari yang paling rendah sampai tertinggi adalah Ngoko, Kromo Madya, Kromo Inggil. Saat kelas masyarakat di luar priyayi (kawula alit) ketika akan berbicara dengan para priyayi haruslah menggunakan bahasa yang paling halus yaitu Kromo Inggil sedangkan para priyayi apabila berbicara dengan kelas masyarakat Jawa di bawahnya cukup dengan Kromo Madya atau Ngoko saja.

Menjadi priyayi bukan semata-mata hanya menyandang julukan tetapi haruslah berimbas pada praktek kehidupan seorang priyayi. Priyayi mempunyai norma-norma sendiri yang berlaku bagi kelasnya. Tutur kata, sikap, dan gaya hidup haruslah mencerminkan kewibawaan kepriyayiannya. Untuk meresmikan gelar yang ia sandang sebagai priyayi seperti Kanjeng Raden Tumenggung atau gelar yang lain mesti melewati beberapa tahapan dan persyaratan yang telah ditentukan oleh pihak kraton. Bahkan para priyayi mempunyai permainan sendiri bagi kaumnya kala itu yaitu ceki dan pei (permainan kartu cina). Menyandang kelas priyayi adalah menerima segala konsekuensi baik dan buruknya. Para priyayi biasanya menjadi panutan bagi masyarakat di sekitarnya, mereka akan dipandang menjadi seseorang yang memiliki kebijaksanaan bagaikan tangan kanan seorang Raja. Menurut Umar Kayam dalam novelnya Sang Priyayi, menjadi priyayi adalah menjadi orang yang terpandang di masyarakat bukan jadi orang kaya. Priyayi itu terpandang kedudukannya karena kepinterannya. Kalau mau jadi kaya ya jadi saudagar, jadi bakul (pedagang) saja.

Priyayi adalah sebuah tradisi kebudayaan yang turun temurun di kalangan masyarakat Jawa. Mereka yang mengerti akan menghormatinya dan menjalaninya. Sebuah konflik melawan sebuah tradisi tertuang dalam novel Sang Priyayi karya Umar Kayam. Diceritakan disana bahwa Sastrodarsono membangun dinasti priyayi bagi keturunannya sebagai pegawai gupermen menjadi seorang guru di sebuah sekolah. Dia layak mendapat julukan seorang priyayi karena pekerjaannya dan masyarakat sekitarnya pun menyanjungnya sebagai seorang priyayi dengan memanggilnya sebagai “Ndoro Guru Sastrodarsono”. Dia juga menerapkan pola hidup priyayi dalam setiap kehidupannya, dirumahnya yang kala itu layak disebut paviliun tinggal juga beberapa anggota keluarganya yang ngenger (numpang hidup). Bagian belakang rumahnya adalah pekarangan yang luas yang bisa dijadikan tegalan sawah kala musim tanam tiba. Bahasa krama inggil haruslah digunakan ketika berbicara dengan Ndoro Guru. Pokoknya Ndoro Guru Sastrodarsono adalah seorang priyayi tulen yang terhormat dan harus dihormati kalangan manapun. Konflik mulai timbul ketika terjadi pemindahan pemerintahan dari gupermen (Belanda) ke tangan Nippon (Jepang). Segala macam sistem pemerintahan mulai diubah dari rasa Belanda menjadi “rasa” Nippon. Tidak mudah karena “rasa” Belanda telah bercokol lama di negeri ini. Perubahan ini berlaku pula untuk sistem pendidikan di sekolah-sekolah termasuk sekolah tempat Ndoro Guru Sastrodarsono bekerja menjadi guru. Setiap upacara diharuskan menyanyikan lagu kebangsaan Nippon, semua murid diharuskan bercukur gundul pelontos, setiap pagi diharuskan membungkuk ke arah utara untuk menghormati Tenno Heika (kaisar Jepang) yang diyakini masih keturunan dewa, sebelum memulai pelajaran juga harus melakukan taiso (olahraga ringan). Hal ini menyulitkan Ndoro Sastrodarsono yang sudah sepuh (tua) karena harus terus membungkuk-bungkuk juga membuatnya kurang nyaman karena Ndoro Guru adalah seorang priyayi yang terhormat. Pemerintahan Nippon buta akan tradisi yang berlaku di masyarakat Jawa, mereka pukul rata bahwa semua masyarakat Jawa adalah sama, sama-sama orang terbelakang dan tidak layak dihormati. Ndoro Guru Sastrodarsono enggan untuk melakukan kegiatan bungkuk-membungkuk ke arah utara, alhasil Ndoro Guru Sastrodarsono didatangi oleh tentara Dai Nippon yang tanpa sopan santun langsung membentak-bentak dengan kata-kata kasar bahkan tanpa ba-bi-bu langsung menempeleng kepala Ndoro Sastrodarsono. Bisa dibayangkan bahwa seorang priyayi yang terhormat yang biasanya untuk berbicara dengannya pun harus dengan kromo inggil tetapi dibentak-bentak dengan kata-kata kasar. Seorang priyayi yang terhormat yang menatap matanya pun tidak diperkenankan sekarang ditempeleng beberapa kali di kepalanya. Ndoro Guru Sastrodarsono betul-betul terpukul hingga menangis sesenggukan karena merasa harga dirinya sudah tidak ada lagi. Dia adalah seorang priyayi guru tetapi di mata Dai Nippon dia adalah orang Jawa yang terbelakang. Seumur hidup Ndoro Guru Sastrodarsono tidak akan melupakan pengalaman itu.

Konflik tradisi tersebut merupakan gambaran mengenai konflik budaya Jawa dengan budaya yang lain yang datang. Apabila menilik saat ini malah semakin banyak konflik antar tradisi yang terjadi. Arus globalisasi semakin membanjir dan tidak mungkin terbendung lagi sementara tradisi kebudayaan Jawa mesti ditegakkan. Walaupun demikian masih banyak orang yang fanatik terhadap tradisi Jawa. Seorang priyayi yang masih mempunyai garis keturunan dengan raja-raja Jawa mencantumkan gelarnya di akta kelahiran atau mensertifikasikan gelar tersebut dengan stempel resmi keraton dan membayar iuran rutin perbulan untuk perawatan kraton. Saat ini hampir tidak ada keuntungan yang positif apabila tetap mempertahankan status kepriyayiannya malahan mendapatkan cemoohan karena dianggap feodal atau sombong. Tetapi pada kantong-kantong pemukiman kraton baik Surakarta maupun Yogyakarta status priyayi ini masih berlaku, mereka akan senantiasa mempertahankan tradisi itu turun-temurun. Panggilan “Den (Raden)” dan “Ndoro (Bendoro)” acap kali terdengar.

Menilik perkembangan jaman sekarang ini, status priyayi tidak lagi diperdulikan. Yang lebih dihormati adalah orang-orang yang berprestasi dan menonjol di bidang yang ia geluti. Tidak peduli dia dari kelas masyarakat apa, entah dari kawula alit ataupun dari priyayi semuanya sama dan layak untuk dihormati tidak dengan panggilan “Den” atau “Ndoro” tetapi dengan penghargaan berupa beasiswa, honor atau jabatan atas kemampuan untuk berkreasi dan mencipta. Dalam novel Sang Priyayi diceritakan saat masuknya satu budaya dari Jepang ke Indonesia kala itu saja sudah menimbulkan konflik apalagi di jaman Bill Gates ini. Saat jarak tidak lagi menjadi masalah dengan adanya internet sehingga semua budaya bisa masuk dengan mudahnya. Mempertahankan kepriyayian serasa naïf tetapi tergantung dari tujuannya mempertahan status kepriyayian tersebut. Tidak ada salahnya dengan mereka yang terus mempertahankan tradisi tetapi untuk jaman Bill Gates ini asal bertujuan untuk mengenalkan budaya Jawa ke masyarakat luas atau bahkan ke luar negeri bahwa Indonesia mempunyai kebudayaan yang maha luas. Bukan karena mempertahankan kepriyayiannya agar bisa seenaknya sendiri dengan orang lain dan memaksa mereka untuk terus memanggil “Den” atau “Ndoro”. Di Jaman Bill Gates ini menjadi priyayi tidak harus mempunyai garis keturunan langsung dari kraton Surakarta maupun Yogyakarta tetapi dari pola pikir, tingkah laku, moral dan wibawanya yang mencerminkan seorang priyayi tidak peduli dia dari kawula alit ataupun dari belahan Indonesia manapun. Mari kita ramai-ramai menjadi seorang Priyayi yang betul-betul mriyayeni🙂

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

2 Responses to Menjadi Priyayi di tengah jaman Bill Gates

  1. nadya says:

    “Priyayi yang betul-betul mriyayeni ” wuahhh abot … opo kuwi Byenx?

    ooo dirimu tu darah biru to😛

  2. yuti says:

    Jadi ingat Tukimin Sastrosuwignyo.. Mungkin sebagai kura2, dia nggak mampu menanggung beban memiliki nama seperti seorang priyayi ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: