Mengemudikan Mobil di Jalan Eksplorasi

Eksplorasi dalam dunia tambang adalah kegiatan untuk mencari penyebaran bahan tambang guna mendapatkan data yang maksimal sehingga nantinya bisa dikembangkan ke dalam tahapan eksploitasi. Lingkup bidang ini biasanya dikerjakan oleh seorang ahli geologi dengan pembuatan peta geologi atau pemboran. Dilakukannya eksplorasi dikarenakan pada daerah tersebut belum terdapat data yang maksimal yang bisa menunjukkan keberadaan bahan tambang. Bisa dibayangkan bahwa sebagian besar daerah eksplorasi merupakan daerah yang jarang dijamah orang pada umumnya atau masih berupa hutan rimba.

Selepas kuliah, lingkup kerja saya adalah pada kegiatan eksplorasi dalam hal ini adalah eksplorasi batubara di kawasan hutan Kalimantan. Mulai dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan sampai Kalimantan Tengah. Memang tidak sepenuhnya daerah-daerah tersebut pernah saya obok-obok semua tapi saya pernah meringkuk, menjamah dan menghirup aroma hutan di daerah tersebut untuk mencari Si Emas Hitam. Bukan pengalaman kerja atau pembahasan tentang geologi batubara di daerah Kalimantan yang ingin saya ceritakan tetapi suasana jalan yang ditempuh ketika melakukan kegiatan eksplorasi di Kalimantan.

Kegiatan perambahan hutan biasanya dilakukan oleh dua sektor usaha bisnis kapitalis, yaitu penambangan dan industri kayu. Kenyataan yang ada saat ini industri kayulah yang lebih dahulu menjadi pionir merambah hutan di Kalimantan daripada kegiatan eksplorasi bahan tambang. Oleh karena itu, pada saat kegiatan eksplorasi sering ditemukan bekas jalan logging atau sisa-sisa tebangan kayu hutan di sepanjang kiri-kanan jalan. Entah merupakan kegiatan legal logging atau illegal logging. Jalan-jalan inilah yang sering dimanfaatkan lagi menjadi jalan eksplorasi untuk mencari bahan tambang ketika kegiatan logging sudah tidak aktif lagi. Jalan yang sudah ada dibuat tidak mengikuti kaedah baku pembuatan jalan. Inti dari jalan logging adalah jalan yang dibuat menuju daerah hutan dimana banyak ditemukan kayu-kayu yang cukup besar dan ekonomis untuk ditebang. Lebar jalanpun hanya cukup untuk melintas 1 buah mobil saja dengan kiri-kanan berupa parit yang dalam atau bahkan berupa jurang. Sering dijumpai jalan logging menanjak cukup tegak dengan grade jalan lebih dari 12% ((beda tinggi / jarak) x 100%) atau tikungan yang sangat tajam yang tidak memperhitungkan gaya sentrifugal sehingga mempunyai potensi kecelakaan yang tinggi ketika dilintasi. Hal ini didukung juga oleh morfologi asli pulau Kalimantan yang saat ini masih dipengaruhi oleh struktur geologi yang sebagian besar didominasi oleh pegunungan lipatan yang cukup intensif. Atau bisa disebut juga bahwa batuan yang menyusun pulau Kalimantan bentuknya terlipat-lipat seperti kue lapis yang ditekan karena pengaruh gaya endogenik sehingga membentuk morfologi deretan pegunungan dan lembah yang ada saat ini. Komposisi batuan penyusun cekungan barito ataupun cekungan Balikpapan yang melampar luas sepanjang pulau Kalimantan sebagian besar berupa batulempung-batupasir. Dengan komposisi batuan seperti ini membuat jalan-jalan di dalam hutan Kalimantan menjadi sulit dilintasi ketika musim hujan tiba. Karena sifatnya yang impermeable maka batulempung akan menjadi alas yang licin kala hujan datang sedangkan sifat batupasir yang mempunyai permeabilitas tinggi akan menjadi musuh dalam selimut ketika hujan datang. Batupasir tidak akan menjadi licin tetapi akan mudah untuk mengamblaskan mobil yang melintas di atasnya karena pori dalam batupasir akan terisi air dan membuat sifat dalam tubuhnya menjadi lembek.

Apabila perusahaan tambang mengambil alih jalan logging maka perawatan jalan ini menjadi lebih baik walaupun masih bisa dibilang jauh dari jalan yang nyaman. Beberapa rambu-rambu mulai dipasang pada jalan-jalan yang berpotensi menghasilkan kecelakaan. Minimal satu buah dozer mutlak harus ada di area eksplorasi. Selain untuk kegiatan operasional pengeboran seperti pembuatan lokasi pemboran atau memindahkan peralatan pemboran, dozer juga bertugas merawat jalan juga membantu mobil-mobil kecil yang terjebak di dalam area eksplorasi.

Saat kondisi jalan kering menjadi seperti jalan yang digunakan pada perlombaan rally sedangkan pada saat kondisi basah setelah hujan akan seperti jalan yang digunakan pada perlombaan offroad. Saat kondisi keringpun jalan eksplorasi cukup berbahaya dilintasi apalagi kondisi basah. Banyak accident report yang dibuat karena beberapa mobil eksplorasi mengalami tip over atau jatuh terbalik dan biasanya terjadi saat kondisi jalan basah setelah hujan. Saat jalan basah, rem mobil tidak akan berfungsi lagi. Malah disarankan untuk tidak mengerem saat jalan turunan karena mobil akan tetap meluncur dan ini sangat berbahaya. Disarankan untuk memasang double berat dan berjalan pada putaran gigi rendah. Pengemudi yang cakap mutlak menjadi syarat untuk mengemudi di jalan ini. Selain itu, tiap mobil wajib dilengkapi peralatan bengkel praktis, kotak P3K, alat pemadam api ringan, webbing beserta sakle, lebih baik lagi bila dilengkapi winch atau katrol untuk menarik mobil pada benda mati seperti pohon besar. Selain perlengkapan dalam mobil, perlengkapan fisik mobil juga harus dipenuhi. Mobil yang akan melintasi jalan ini haruslah mobil yang dilengkapi dengan double gardan atau empat penggerak roda yang lebih dikenal dengan 4WD (four wheel drive). Mobil harus berwarna cerah dan dilengkapi dengan rotary lamp yang selalu dinyalakan, peta, kompas, radio tangan atau radio mobil, ban rimba, stiker reflector di sekeliling mobil, bendera buggy whip agar terlihat oleh alat berat dan saat mengemudi baik siang maupun malam lampu mobil harus selalu dinyalakan. Alhasil mobil cukup meriah seperti mobil yang akan ikut karnaval. Batas kecepatan di daerah eksplorasipun di atur maksimal 40km/jam. Walaupun persyaratan sudah dipenuhi semua, tetapi maut tetap tidak bisa dihindari yang bisa dilakukan adalah mengurangi resikonya.

Mengemudi saat malam hari mempunyai tingkat resiko lebih tinggi. Jarak pandang yang terbatas menjadi alasan utamanya selain itu kondisi pengemudi yang mengantuk juga bisa menjadi penyebab kecelakaan. Keuntungan mengemudi malam di area eksplorasi adalah sering berjumpa dengan hewan-hewan penghuni hutan yang langka atau jarang ditemui dan hanya beraktivitas di malam hari. Kucing hutan, orangutan, ular, landak, babi hutan, beruang madu, burung enggang, musang, monyet ekor panjang, kancil, kijang dan rusa masih sering dijumpai di hutan-hutan di Kalimantan. Saat hujan datang di malam hari merupakan mimpi buruk bagi pengemudi mobil di area eksplorasi, selain tingkat resiko kecelakaan yang tinggi kemungkinan besar pengemudi juga terjebak di dalam area hutan karena mobil tidak bisa bergerak kemana-mana lagi. Saat kondisi kering jarak tempuh 1 km mungkin hanya ditempuh dengan waktu 10 menit, tapi apabila kondisi hujan maka jarak tempuh 1 km bisa berjam-jam bahkan tidak jarang tidak bisa dilewati. Saat kondisi seperti ini maka fungsi radio mobil akan sangat berperan untuk meminta bantuan dozer atau traktor di sekitar lokasi untuk menarik mobil. Webbing dan sakle yang selalu tersedia di mobil menjadi tali yang kuat saat mobil harus ditarik. “Bertelur” adalah istilah yang digunakan dalam percakapan radio saat menggambarkan kondisi mobil yang amblas di suatu area. “Banyak kulit pisang bertebaran” untuk menggambarkan bahwa kondisi jalan sangat licin. Saat operator dozer sudah melakukan perawatan jalan maka dia akan berkata bahwa “kulit pisang sudah dipunguti di jalanan” sehingga mobil-mobil kembali dapat melintasi jalanan tersebut.

Tidak semua pengemudi mobil familiar dengan medan seperti ini. Pengalaman mutlak diperlukan untuk melintasi jalan-jalan eksplorasi. Ada saat-saat dimana kita harus menentukan kapankah mengganti double ringan ke double berat atau kapan saat kita harus mengerem atau malah menambah kecepatan di jalan turunan karena saat kondisi panik mendera malah akan berakibat fatal pada kendaraan maupun diri sendiri. Hal ini akan memacu adrenalin pengemudi karena kemudi serasa tidak bisa dikendalikan lagi dan mobil seperti mempunyai keinginan sendiri dalam menentukan jalannya. Ada training khusus untuk menambah pengetahuan dalam mengemudi di jalan eksplorasi yaitu “defensive driving”, tak jarang instrukturnya merupakan perelli atau offroader tingkat nasional.

Mengemudikan mobil di jalan eksplorasi resikonya memang tinggi tetapi harus dilaksanakan untuk menuju lokasi kerja bagi seorang exploration geologist. Saat sebuah kewajiban kerja dilaksanakan dengan suka cita maka akan banyak menemukan pengalaman dan pemaknaan di dalamnya. Tetapi yang terpenting dan jangan sampai dilupakan adalah “JANGAN LUPA CUCI MOBIL !!!”

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

10 Responses to Mengemudikan Mobil di Jalan Eksplorasi

  1. yuti says:

    hmm.. let me guess.. kalo mobil amblas udah diderek kodenya ‘telur sudah menetas’ ya? hehehe..
    selain hati2 menjaga keselamatan diri, keselamatan hewan2 juga harus diperhatikan lho.. kasian buruang kalo pakruang mati ketabrak traktor.

  2. poponezta says:

    Sepertinya, di jalan semacam yang tergambar dalam tulisan ini, hanya ada sedikit kemungkinan saat terjadi kecelakaan : selamat total, terluka (berat/ringan), tewas.

    Sebenarnya jalan di manapun seperti rimba yang tergambar dalam tulisan ini. Di tengah ruas-ruas jalan ibukota pernah ada sepedamotor tertimpa muatan menara crane. Tewas seketika. Dua mobil bahkan terjun bebas dari ketinggian di sejumlah pusat perbelanjaan.
    Di jalanan pertambangan, seorang pengemudi amatir paling banter melabrak hewan, pohon, atau kendaraan berat–yang kata gombrenk, sebesar rumah susun.

    Di ibukota, lebih banyak kemungkinan. Pengemudi mobil yang amatir bisa menabrak pengendara roda dua, orang turun dari bis, pedagang asongan, sampe masuk ke parit-parit gorong-gorong. Malah ada mobil yang melayang melewati devider jalan dan terhantam mobil yang melintas dari arah seberang.
    Suatu kali saya pernah melihat adegan gaplok-gaplokan dua pengendara sepeda motor di antara dua kendaraan mereka yang masih terkapar di jalanan (dalam kondisi saling menyangkut). uniknya, kejadian itu sampai bikin macet lalu lintas hingga seorang preman melerai perkelahian.

    Sama-sama rimbanya. Musuhnya juga sama: ketidaktrampilan dan kondisi di luar kuasa (force Majeur).
    .

  3. nadya says:

    tau ngga, tulisanmu ini sampe kebawa mimpi lho … mimpinya serem banget pas bangun aku ngos2an

  4. iwantolet says:

    Kadangkala ketika nyetirpun aku sampai ngos2an juga saat maut datang mendekat.

  5. totong says:

    nyetir apa mbonceng?
    mesti “bertelor” sisan “neteske” kalo kamu yg nyetir =)

  6. iwantolet says:

    mbonceng ki nek numpak motor mas🙂 Istilah kerennya navigator, He.. he… he… Nyetir nuu..

  7. totong says:

    halah, yg kumaksud ya navigator itu…kan istilah ngGodeane mbonceng….pas lah sama jiwamu yg adventure sedikit kemayu itu, bisa melatih adrenalin daripada ngos2an buat yg lain🙂

  8. Andry - basah says:

    Josh tenan brenk, story mu ini…

    untung ga ada ft flying camp tenda biru…

    bisa terharu ak akan masa lalu ketika ak mengalaminya…

  9. nablaa says:

    tak ingin lagi kuremehkan pekerjaan seorang supir.. taruhanne nyawa je..

  10. ardhian says:

    Sip sip sip…..sudah melewati masa itu dengan suksesss…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: