Sampai Jumpa di Batas Lempeng

Sejauh kehidupan berjalan, akan banyak sosok-sosok yang datang dan pergi. Ada yang mengilhami dengan karakternya atau hanya sekedar numpang lewat tanpa pernah berarti apapun. Yang mengilhami akan selalu dikenang dan sedikit banyak berpengaruh terhadap kehidupan kita sedangkan yang numpang lewat akan mudah dilupakan. Hukum kepastian yang berlaku akan datang dan perginya sosok-sosok ini adalah “setiap ada perjumpaan selalu ada perpisahan” atau mengutip kata-kata seorang sahabat “bertemu itu sudah pasti untuk berpisah sedang berpisah untuk apa?”. Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan, apakah setelah berpisah untuk bertemu lagi? Belum tentu. Dan kita tidak pernah mengetahui akan jalannya kisah di masa depan.

Timbangan yang tidak adil selalu berlaku untuk Si Jumpa dan Si Pisah. Si Jumpa selalu lebih dihargai daripada Si Pisah, kecenderungan yang ada adalah setelah bertemu Si Jumpa maka akan lupa Si Pisah padahal Si Jumpa selalu jatuh cinta dengan Si Pisah tetapi Si Pisah belum tentu jatuh cinta dengan Si Jumpa. Seakan setiap perjumpaan selalu untuk selamanya maka ketika berjumpa dengan perpisahan sebagian besar tidak siap menerima dan selalu berakhir dengan kesedihan. Kenapa tidak sedihlah dahulu saat berjumpa baru bahagia setelah berpisah? Kenapa selalu tidak adil bagi Si Pisah, kesedihan selalu melingkupinya, hidupnya penuh dengan airmata, hanya sedikit orang yang menghargainya dengan kebahagiaan. Bagi yang menghargai akan perpisahan justru akan dicibir di dunia ini, dikatakanlah dia tidak berhati, padahal sepenuhnya dia sadar akan logikanya bahwa “bertemu itu sudah pasti untuk berpisah sedang berpisah untuk apa?”.

Seorang pemuda sangatlah bahagia ketika bertemu dengan kekasihnya, disyukurinya perjumpaan ini pada Sang Pencipta. Di dalam doanya selalu dipanjatkan untuk selalu didekatkan pada kekasihnya karena setiap perjumpaan selalu membuatnya melayang bahagia. Tak disadarinya bahwa Si Pisah selalu ikut dalam tiap doanya. Perjumpaan berjalan dengan mulus semulus Si Pisah yang selalu mengikuti dari belakang. Mereka terlena hingga pernikahan tiba, kebahagiaan akan perjumpaan selalu disyukuri setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik dan setiap waktu yang terus berjalan… Mereka tidak sadar bahwa akal bulus Si Jumpa telah mencuci otak mereka sehingga mereka akan terlena kebahagiaan perjumpaan dan melupakan akan keberadaan Si Pisah. Si Pisah yang pendiam tetapi pasti hanya tertawa-tawa kecil di sudut sana makin lama makin kuat dan membesar sampai suatu saat… Si Pisah yang telah bertambah kuat memutuskan untuk tiba-tiba muncul di antara kedua pasangan bahagia itu. Karena selama ini telah dihina dan dilupakan maka Si Pisah kali ini tidak main-main dibunuhnya Si Jumpa selama-lamanya di dunia fana ini untuk kedua pasangan itu. Sang Lelaki tiba-tiba menemukan istrinya meninggal secara mendadak karena serangan jantung. Lelaki tersebut bersedih dengan sangat hingga menumpahkan hujan airmata di hati dan raganya. Saat itu, dia baru sadar akan liciknya akal bulus Si Jumpa dan menyesali kenapa dahulu harus dipertemukan, kenapa rasanya sangatlah sakit ketika ditinggalkan, kenapa dia tidak kuat menerima perpisahan ini, kenapa dia tidak sadar akan adanya perpisahan, kenapa, kenapa dan kenapa? Dia memutuskan untuk menemui kekasihnya di dunia yang lain, padahal di dunia tersebut lebih banyak misteri lagi tentang perjumpaan dan perpisahan dan hukum dunia fana tidak berlaku lagi.

Dan masih banyak contoh yang lain yang mengalami hal ini. Perpisahan kekasih, sahabat, kolega kantor, keluarga, apapun itu hukumnya pasti “bertemu itu sudah pasti untuk berpisah sedang berpisah untuk apa?”. Kenapa tulisan ini berjudul Sampai Jumpa di Batas Lempeng? Karena batas lempeng tidaklah pasti, batas tersebut selalu bergerak mengikuti tarian bumi ini yang meregang dan mengerut. Saat kau mengatakan akan bertemu di batas lempeng kala ini, maka kala berikutnya batas tersebut akan selalu bergeser. Hukum yang tidak pasti mendukung kalimat “berpisah untuk apa?”. Dan kenapa selalu banyak pertanyaan dalam setiap tulisanku karena hidup selalu untuk bertanya, apakah kamu tidak bertanya dalam doamu? Apakah kamu tidak bertanya dalam hatimu? Bahkan sampai pada akhirnya nantipun aka nada pertanyaan yang harus kamu jawab dengan benar karena kamu tidak akan bisa salah mengatakannya. Dan sampai akhirnya Sampai Jumpa di Batas Lempeng kawan… 🙂

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

One Response to Sampai Jumpa di Batas Lempeng

  1. yuti says:

    jadi inget film The Butterfly Effect.. si pria akhirnya memilih kembali pada jaman ia pertama kali berjumpa dengan si wanita agar ia bisa segera berpisah sehingga perpisahan di masa depan tidak terjadi.

    perpisahan itu harus ada agar manusia lebih menghargai setiap perjumpaan dalam hidupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: