Dunia Tambang

Dunia tambang memang masih menjadi candu bagi para pencari kerja. Tidak hanya orang-orang yang berpengetahuan di bidang ilmu kebumian tetapi juga semua cabang ilmu yang terkait di dalam penyelenggaraan tambang. Pada dasarnya dalam penyelenggaraan tambang, pekerjaan itu hanya dibagi menjadi dua, Field worker atau Office worker. Bisa berada di salah satunya atau lintas pekerjaan pun bisa, semua tergantung profesi yang digeluti.

Beberapa waktu lalu aku membaca majalah tambang terbitan Australia AuSIMM Bulletin edisi Januari / February 2008. Dengan gamblang disitu disebutkan bahwa terjadi booming mahasiswa/i di Australia yang mengambil jurusan yang berhubungan dengan pertambangan, baik itu geology, mining, geodety, etc. Yang menarik lagi adalah jumlah peminat wanita pun ikut bertambah. Mungkin begitu pula yang terjadi di Indonesia, di kampusku sendiri (Geology UGM) secara kasatmata terlihat penambahan jumlah peminat baik pria maupun wanita. Tapi aku belum bisa membuktikan ini secara data ilmiah.

Masih berdasarkan majalah tambang tersebut, ada beberapa faktor yang menarik perhatian para mahasiswa/i atau calon pencari kerja ini. Iming-iming gaji yang tinggi, fasilitas yang diberikan perusahaan, banyak peluang kerja, teknologi pertambangan yang berkembang cepat, peduli terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini didukung dengan media yang memberikan informasi berupa iklan perusahaan tambang atau berita-berita yang terkait di dalamnya. Di Indonesia sendiri, seperti diketahui bahwa masih banyak bahan tambang di negara ini yang belum terjamah untuk di eksplorasi atau di eksploitasi. Hal itu juga bisa menjadi daya tarik pencari kerja karena banyaknya peluang di sana. Di luar semua itu, dampak dari adanya perusahaan tambang juga sangat diketahui jelas oleh para mahasiswa/i atau pencari kerja; dampak sosial, dampak lingkungan atau minimnya hubungan sosial dengan dunia luar karena resiko berada di daerah terpencil.

Semua impian dan harapan tersebut bisa berubah ketika sudah masuk ke dalam dunia tambang. Hal yang biasanya menjadi benturan adalah kesulitan untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Seperti yang telah diketahui, bahwa dunia tambang mempunyai jam kerja yang berbeda dengan industri-industri lainnya. Pekerjaan eksplorasi atau eksploitasi dikerjakan dalam 24jam non stop tanpa kompromi dikarenakan efektivitas kerja penggunaan alat berat. Penggunaan alat berat lebih menguntungkan apabila dioperasikan daripada di standby kan. Alhasil, bukan alat yang melayani manusia tapi manusia yang melayani alat. Konsekuensinya adalah jam kerja dan waktu istirahat yang tidak sesuai dengan hari kerja/libur dari kalender nasional, hari kerja/libur disesuaikan sendiri oleh perusahaan tetapi tetap tidak menyimpang dari kaedah perundang-undangan tenaga kerja. Ini berarti, sementara orang lain makan ketupat setelah sholat idul fitri, seorang pekerja tambang harus kembali bekerja.Hal ini sebenarnya sudah diketahui oleh para pencari kerja tetapi akan lebih mudah mengatakan bahwa itu bukan masalah daripada menjalaninya secara langsung.

Tidak ada hak yang tidak dipenuhi, semuanya jelas hitungannya. Ada perhitungan uang lembur apabila kerja di hari libur atau ada hitungannya jumlah hari kerja dalam 1 bulan. Tetapi apakah semua itu bisa menggantikan momen-momen indah dalam hidup yang digantikan dengan hari kerja ? Mungkin inilah sebabnya seorang pekerja tambang mempunyai penghasilan yang lebih besar dari pada bekerja di industri lainnya. Penghasilan inilah yang menggantikan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga dan momen-momen indah yang terlewat dalam hidup.

Apakah masalahnya menjadi terselesaikan dengan membawa keluarga ke lingkungan kerja? Belum tentu. Seperti yang diketahui selama ini bahwa daerah eksplorasi dan eksploitasi biasanya berada di daerah yang belum banyak terjamah oleh manusia alias daerah terpencil yang akses dan fasilitas pendukungnya kurang lengkap. Walaupun sudah dibangun sedimikan rupa oleh perusahaan sehingga semua fasilitas kehidupan nyaris ada dan terpenuhi, tetaplah hanyalah sebuah artificial semata. Lingkungan yang sebenarnya adalah lingkungan industri tambang 24jam nonstop. Seluruh penghuni lingkungan tersebut adalah para pekerja tambang semua, semua yang berkepentingan tinggal di daerah itu adalah untuk bekerja dan bukan untuk hidup membangun atau mendidik sebuah keluarga. Setelah perusahaan tersebut habis kontrak konsensinya atau gulung tikar maka lingkungan tambang tersebut lama-kelamaan akan ditinggalkan dan menjadi kota mati karena tidak ada kepentingan lagi untuk melanjutkan hidup disana. Contoh yang nyata adalah daerah Sangatta Lama. Dulunya adalah kota yang cukup ramai dengan segala fasilitas pendukungnya dibangun oleh Pertamina distrik Sangatta. Setelah Pertamina mulai menekan aktivitas produksinya disana didukung juga dengan hadirnya perusahaan batubara Kaltim Prima Coal yang membangun perkotaan baru Sangatta Baru / Swarga Bara maka Sangatta Lama saat ini menjadi kota yang redup tanpa aktivitas yang berarti dan menjadi daerah terkucil dan terpencil. Masa kejayaan itu telah sirna.

Masih dari majalah yang sama, survei yang dilakukan di Australia menyebutkan bahwa pekerja tambang yang optimis rata-rata mempunyai keinginan bekerja di tambang paling lama 10-15th saja. Yang dimaksud optimis adalah mereka-mereka yang mempunyai dedikasi yang kuat terhadap dunia tambang. Tetapi tidak sedikit pula yang bertahan hingga hari tua hidup bahagia dengan anak dan cucu mereka apapun yang terjadi. Mereka inilah yang bisa beradaptasi dengan sempurna dan sudah jatuh cinta terhadap bumi baru yang mereka injak untuk dijadikan tanah airnya yang nyata. Kunci utama untuk hidup di dunia tambang adalah “Kemampuan untuk menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

15 Responses to Dunia Tambang

  1. nadya says:

    hiks, mengharukan….

  2. iwantolet says:

    Setiap profesi kupikir ada sisi mengharukannya, tergantung dari sudut mana kita melihatnya

  3. Bosman Batubara says:

    miner niyeeee….???

  4. yuti says:

    hmm.. sangatta sama sidoarum gede mana?

  5. iwantolet says:

    Kalo sangattanya sendiri mungkin sebesar kecamatan godean tapi penduduknya ga rapet kaya di Godean. Kalo sangatta baru kira-kira cuma sebesar sidoarum blok 3.

  6. dwi bimo says:

    tambang bikin kulit item brenk .. hehehehe

  7. Fajar says:

    ah, kita bekerja sesuai gaji pokok aja lah ….😀

    short dialogue:
    A: Apa rencana anda 5 tahun ke depan?
    B. Rig geologist, mungkin di daerah Bengalon
    A: Oke, bagaimana dengan 10 tahun ke depan?
    B: Saya orang yang konsisten. Tentu rig geologist …
    A: Pun untuk 15-20 tahun ke depan?
    B: Tentu … tentu … anda pikir saya ini siapa? Tentu rig geologist …

    Ah, what a sweet memory of Sangatta …

  8. desi says:

    kisahnya menarik, mas saya sadur cerita diatas sebagai Informasi Pencari Kerja di blog saya, matur nuwun semoga bisa memberi manfaat kepada sesama

  9. hendi by says:

    dunia tambang memang penuh kisah, dramatis, keras, akan tetapi juga merupakan pekerjaan yang dianggap gentle bagi kaum pria karena bukan hanya pemikiran tapi juga tenaga yang dibutuhkan. banyak orang sukses bekerja ditambang bisa berdiri tegak bak ayam jago yang bangun di pagi hari, but bagi yang orang lain dunia tambang seakan hanya sebuah dunia yang penuh dengan hari yang melelahkan, membosankan, dan bahkan dianggap terlalu memaksakan diri dalam bekerja. what efer you thinks, pilih duniamu sendiri..

  10. Edy says:

    bagus tu artikel n argumennya tentang dunia tambang, tapi ko menurut saya sih kita sendiri yang menentukan klo kita mau kerja dimana tentu saja didukung dengan background pendidikan yang akan kita pilih jurusan pertambangan kah misalnya. tapi emang sih saat ini indonesia sendiri lapangan kerja didunia pertambangan kan sedang boomingnya dengan gaji yang lumayan gede dibandingkan dengan yang lain, bahkan saat ini banyak pekerja tambang yang paling lama cuman kerja ampe 2 th aja uda resign katanya “kan, ada perusahaan yang berano nawar tinggi….” atau “ah…fasilitasnya cuman dikit sih” ato ” bonusnya kok gede tempat lainnya..”. klo kita liat lapangan kerja yang lain selain tambang kan jarang yang berani ninggalin pekerjaan yang dia miliki sekarang… mungkin belum ada yang mau ngasih tawaran kerja tempat lain mungkin….atau bahkan kita harus training dulu diperusahaan tersebut ampe lama baru jadi karyawan tetap..

  11. Yusuf Usman Temenggung says:

    Setiap profesi suka tidak suka selalu ada dampak pada lingkungannya, terutam Geology dan Mining Engineer yang membabat diatas juga mengeruk kedalam. Ada hal yang harus kita perhatikan bahwa mengendalikan alam ini dengan pengetahuan yang ada. Tapi memang banyak yang tidak dapat mengukur kemampuan kita sehingga hampir semua kita selalu kemaruk dan gila puji.
    Terserah dari sudut pandang mana kita melihat.
    Trims (Pratisi Tambang)

    • Nugroho says:

      setuju pak, berkembangnya kehidupan umat manusia akan selalu berdampak pada lingkungan tempat dia hidup. Yang harus dipecahkan adalah bagaimana kita meminimalisir resiko yang ada

  12. Levy says:

    Gw setuju ama artikelnya…Gw jg pkrja tmbg.emang ia sih banyak momen indah yang telah terlewatkan selama krj ditmg..tapi gw sgt suka dgn pekerjaan ini…krn pnh dengan tantangan motipasi dan teknolinya cangih ,

  13. galuh love physics says:

    semoga aku bisa bekerja di pertambangan / perminyakan..amiin..aku akan take risk..bekerja, bekerja, and bekerja dulu….uang banyak, udah tua,fisik udah gak kuat wiraswasta deh….hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: