Narasi Dalam Hidup

Narasi adalah gaya penulisan yang bercerita. Entah apapun cerita yang akan disampaikan oleh sang narator. Cerita itu bisa merupakan cerita komedi, romantika atau tragedi. Tidak penting apapun cerita yang dipilih oleh sang narator tetapi yang terpenting adalah bagaimana lakon itu menjalani cerita dari sang narator. Sang lakon tidak bisa menolak karakternya karena dalam sebuah narasi, sang narator menentukan semua jalan hidup dari si lakon. Komedi, romantika, atau tragedi harus dijalani oleh si lakon dan tidak akan ada pemilihan penawaran dari sang narator. Ini berarti juga hidup-mati dari sang lakon tergantung di atas pena sang narator. Harapannya adalah sang narator benar-benar merupakan seorang narator yang bijak sehingga tidak sembarangan ia memutuskan hidup dari si lakon. Atau justru menghidupkan lagi si lakon yang telah mati. Atau lagi, menghidupkan kemudian mematikan kemudian menghidupkan lagi, mematikan lagi begitu berulang-ulang. Apapun jalan ceritanya terserah keputusan sang narator.

Tidak ada kaidah baku dalam penulisan narasi, semuanya sah-sah saja. Andaikata sang narator  ingin menciptakan sebuah makhluk setengah manusia, setengah handphone pun bisa. Dengan kepala layaknya layar handphone seri terbaru touchscreen dan anggota tubuh yang dipenuhi oleh nomor-nomor telepon dan huruf-huruf yang acak tersebar tidak lupa lubang anus yang berbentuk seperti colokan charger. Intinya tidak ada kaidah dalam penulisan narasi, tapi sejauh ini belum pernah ditemukan narasi yang melakonkan setengah manusia dan setengah handphone (semoga tidak pernah ada dan tidak akan ada).

Pernahkan membayangkan bahwa hidup kita ini bagaikan sebuah narasi ? Semuanya sudah dituliskan dengan jelas dalam sebuah buku yang berjudul nama kita masing-masing. Buku itu tidak tebal, jumlah halamannya hanya sebanyak umur kita saja. Seandainya kita hidup selama 65 tahun maka buku kita hanya 65 lembar saja. Ini berarti 1 lembar sebanding dengan 1 tahun umur kita. Font yang ada dalam Buku Aku itu (Sebut saja namanya Buku Aku) kira-kira berukuran 8 dengan jenis font italic handwritting. Jadi kalau anda penderita mata minus yang parah terpaksa memakai kacamata bila ingin membacanya. Tapi percayalah, anda tidak akan pernah diperbolehkan untuk membaca Buku Aku itu oleh sang narator. Ini adalah privasi sang narator, membaca Buku Aku milik anda sendiri saja tidak diperbolehkan apalagi membaca Buku Aku milik orang lain. Hukumnya Haram !!

Apabila setiap detil kegiatan kita tertulis dalam Buku Aku itu, bisa dibayangkan betapa besarnya Buku Aku tersebut. Contohnya, hal yang paling simpel saja yang pernah dilakukan oleh seseorang adalah tidur. (Misal namanya adalah Imaji) Di dalam buku itu akan tertulis :

Imaji tertidur lelap pada jam 12 menit ke 17 detik ke 45 di atas kasur busa berseprai biru muda dengan tangan dan kaki terlentang kepala menoleh ke arah kiri dan mulut ternganga mengeluarkan sedikit liur yang membasahi seprai di sekitar mulutnya dan mengeluarkan dengkuran seperti suara gergaji kayu di setiap hembusan nafasnya. Pada jam 12 menit ke 18 detik ke 32 masih dalam keadaan tidur, Imaji mengubah posisi dengan kaki kiri ke atas menempel di tembok dan tangan kiri menempel ke tembok sedangkan tangan kanan masih pada posisi semula sehingga kedua tangannya membentuk huruf L. Mulutnya sudah tidak ternganga lagi dan suara dengkuran terdengar lebih pelan

Bisa dibayangkan berapa banyak tulisan dalam setiap lembarnya, padahal satu lembar sebanding dengan 1 tahun hidup si lakon. Maka Buku Aku akan sebesar benua Australia untuk lakon yang hidupnya 65 tahun atau sebesar benua Afrika untuk lakon yang hidupnya 85 tahun. 

Sesungguhnya ada narator-narator kecil dalam hidup kita. Narator itu adalah kebiasaan, jadwal, atau peraturan yang dibuat oleh perseorangan atau sebuah institusi. Saat kita bekerja dalam sebuah perusahaan yang mempunyai peraturan jam masuk kerja karyawan maka peraturan itu bisa menjadi narator dalam hidup kita. Dalam 6 hari kedepan kita harus bangun pukul 04.30 dan berangkat kerja pukul 6.00 kemudian pukul 12.00-13.00 waktunya makan siang dan kembali pulang pukul 18.00. Begitu terus sampai pada saat hari libur tiba atau telah memasuki jatah masa cuti kita. Dan itu harus dijalani selama 1th kedepan, 2th kedepan bahkan puluhan tahun kedepan. Dan kita adalah lakon dari sebuah narasi perusahaan.

Kembali ke Buku Aku. Tidak ada yang lebih tinggi tingkatannya narator dalam kehidupan kita daripada sang narator penulis Buku Aku. Setiap detil dari hidup kita tercantum dalam Buku Aku yang masing-masing mempunyai alur cerita yang berbeda-beda yang ditentukan berdasarkan hak prerogratif sang narator. Saat harus menjalani sesi cerita komedi atau romantika  merupakan anugerah yang terindah bagi kita. Hidup kita akan diisi oleh gelak tawa, bahagia dan romantisme cinta yang membuai. Tetapi saat harus menjalani sesi cerita tragedi, hidup kita akan terisi oleh ratapan tangis dan kesedihan yang tiada henti. Apabila sang narator mempunyai gaya penulisan tragedi, maka celakalah kita karena sepanjang hidup kita akan penuh dengan kesedihan dan lelehan airmata dan kemungkinan besar di akhir ceritanya, kita akan mati dengan sengsara dan menderita tanpa dikenang oleh sang narator sekalipun. Maka berdoalah agar kita tidak mendapat narator yang mempunyai gaya penulisan tragedy. Tapi ingat, saat berdoapun itu juga ditulis oleh sang narator…

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

2 Responses to Narasi Dalam Hidup

  1. yutikutikulalabeibeh says:

    apakah kalau si lakon tidak pernah berdoa itu juga keputusan sang narator?

    *iseng blogwalking & FSwalking mas..*

  2. iwantolet says:

    wong berdoa aja ditulis sama narator koq, apalagi nda berdoa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: