Legalisasi Paranoia

Bagi para penggemar film pasti pernah menonton film epik yang cukup terkenal karya agung Mel Gibson “BraveHeart”. Di dalam film itu diceritakan mengenai perjuangan William Wallace melawan tirani penjajahan Inggris di Scotlandia. Digambarkan bahwa penguasa Inggris pada saat itu dibuat kewalahan dengan perlawanan rakyat Scotlandia yang dipimpin oleh William Wallace. Ending nya adalah dengan tertangkapnya William Wallace dan pihak Inggris menghukum William Wallace di sebuah lapangan yang disaksikan oleh rakyat Scotlandia sendiri. Tubuhnya dicincang dan kepalanya dipenggal kemudian di gantung di gerbang kota agar bisa disaksikan oleh semua orang. Praktik sadis seperti ini dilakukan agar tidak ada orang yang mengikuti William Wallace yang dianggap melanggar hukum yang dibuat oleh Inggris (penjajah). Diharapkan rakyat Scotland akan ketakutan dan mereka akan berpikir dua kali untuk melakukan pemberontakan serupa.

 

Disadari atau tidak, praktek yang dilakukan oleh Inggris dalam film tersebut adalah praktek paranoia. Yaitu membuat ketakutan bagi rakyat Scotlandia agar tidak ada yang melanggar peraturan yang dibuat Inggris. Lebih khususnya agar tidak mengikuti pemberontakan yang dilakukan William Wallace karena apabila ada pemberontakan lagi maka hukumannya sudah jelas seperti yang dialami Wallace.

 

Hanya contoh dalam sebuah film, praktek paranoia seperti ini juga dilakukan oleh sebuah negara ataupun sebuah institusi untuk menegakkan peraturan. Dibenarkan atau tidak, praktek seperti ini cukup efektif untuk diterapkan. Apa yang terjadi? Masyarakat yang hidup dalam sebuah negara atau institusi tersebut akan beraktifitas atau bekerja dengan penuh ketakutan supaya tidak melakukan kesalahan. Mereka tidak lagi berpikir bekerja secara maksimal tapi justru bekerja dengan rasa kehati-hatian yang berlebihan lebih menuju ketakutan agar tidak mendapatkan hukuman dari naungan (institusi atau negara tempat mereka hidup atau bekerja) mereka.

 

Di dalam sebuah perusahaan, hukumannya jelas tidak seperti di dalam film Brave Heart. Pemecatan, pemotongan gaji, atau surat teguran merupakan hukuman dari tindakan indisipliner. Hukuman itu memang tidak mengambil nyawa seseorang tetapi ini menyangkut dapur di dalam keluarga. Kalau sampai terjadi pemecatan maka tidak ada lagi pemasukan untuknya dan masa depan keluarganya akan menjadi tidak jelas. Hal ini cukup meresahkan bagi sebagian besar karyawan.

 

Sosialisasi hukuman bagi tindakan indisipliner lebih banyak terjadi antar diskusi karyawan secara tidak resmi. Masing-masing dari mereka menyebarkan ketakukan antar karyawan yang lain sehingga iklim ketakukan akan mewabah diantara karyawan. Inilah yang diharapkan oleh perusahaan, perusahaan hanya melakukan sosialisasi awalnya kemudian eksekusinya dilakukan oleh karyawannya sendiri. Yang terjadi adalah pekerjaan malah tidak tuntas dan maksimal dan rasa tidak percaya diri menjangkiti setiap karyawan. Kemajuan individu karyawan terpancung dan tercipta rasa hormat yang terlalu berlebihan kepada atasan sampai menuju ke arah menjilat agar posisinya aman dalam perusahaan. Mereka yang datang dengan percaya diri, sedikit demi sedikit akan berubah menjadi penakut sesuai dengan iklim pekerjaan yang ada. Tidak ada lagi karakter-karakter yang timbul dari cara dia bekerja semuanya bersikap seperti robot dan hanya terucap “Yes Sir” dari mulutnya. Perintah dari atasan bagaikan sebuah titah dari raja atau bahkan seperti wahyu bagi karyawan. Perintah tersebut tidak dicerna kembali benar dan salahnya, apabila benar maka yang disanjung adalah atasan tetapi bila salah maka tidak akan dibahas atau justru dilimpahkan ke karyawan tersebut. Apabila tidak melaksanakan perintah atasan maka seakan-akan dia melakukan dosa besar dan akan dimasukkan ke dalam api neraka. Tidak ada lagi logika yang bekerja, yang ada hanyalah ketakukan semata. Jika sampai ke taraf ini, maka inilah puncak keberhasilan paranoia yang dibentuk oleh perusahaan kepada karyawannya yang sebenarnya merupakan awal kehancuran perusahaan tersebut.

Tidak akan ada lagi individu karyawan yang cemerlang yang bisa merubah sudut pandang kemajuan perusahaan. Perusahaan hanya menciptakan robot-robot tak berhati dan tak pernah menggunakan otaknya untuk berpikir. Ketakutan dan paranoia terus disebar wabahnya hingga sampai ke hati dan otak. Pilihannya hanya satu : “Take it or leave it

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

3 Responses to Legalisasi Paranoia

  1. tatacuit says:

    hola iwan,, apa mas iwan yaaaa??? hahaha…
    mu tanya dunk,, gimana sih caranya bikin blog kyk gitu… tampilannya mxdnya.. punya gw di wordpress MEMBOSANKAN.. huhu

  2. Bosman Batubara says:

    Wah gombyenx ini tampaknya mulai punya refleksi nih. Pernah mencoba karya2 filsafat/sejarah michel foucault byenx? Salah satu tema sentralnya adalah tentang pengawasan terhadap tubuh. teoriny dibangun berdasarkan peristiwa yang terjadi di penjara di salah satu bagian di eropa. arsitektur penjara tersebut sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu kondisi “sebuah pengawasan yang tak kontinyu melahirkan perasaan diawasi secara kontinyu bagi para penghuninya”. penjara panoptikon. kayaknya cocok buanget dengan tulisanmu. hehehehehe….

  3. igen says:

    mas gombyenk……
    merindukan tanah jawi, nggih? sangatta memang cuma cocok buat kerja. buakan buat hidup menjadi manusia yang manusiawi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: