Tidak mu(r)dah pindah rumah di Jepang

Akhirnya saya pindah rumah untuk yang kedua kalinya di Jepang atau tiga tempat tinggal yang berbeda. Kali ini rumah beneran, bisa dibilang apartemen atau orang Jepang bilang apato. Lha sebelumnya apa? Sebelumnya bisa dibilang hanyalah sebuah asrama.

Asrama yang saya huni pertama kali ketika menginjakkan kaki di Jepang adalah asrama yang disediakan oleh JICA. Mengenai hal ini saya telah menjelaskan dengan detil di tulisan saya sebelumnya di sini. Genap 10 hari saya tinggal di asrama tersebut akhirnya saya pindah ke asrama mahasiswa di dekat Ito Campus Kyushu University namanya Ito Dormitory. Alasannya karena asrama JICA hanyalah fasilitas sementara untuk menampung partisipan JICA dalam menerima briefing dan training sebelum hidup sesungguhnya di Jepang. Alasan yang lain adalah Kyushu University sudah menyediakan asrama bagi mahasiswanya untuk tinggal dekat dengan kampus tetapi tentunya tidak gratis karena tidak ada yang gratis di Jepang. Read more of this post

Berburu Barang Bekas di Jepang

Memiliki sebuah barang yang kita inginkan merupakan keinginan setiap orang. Apalagi barang tersebut merupakan barang yang sangat dibutuhkan dan mempunyai nilai penting untuk mendukung kelancaran aktivitas kita sehari-hari. Tinggal di Jepang yang terkenal dengan tingginya biaya hidup ini harus pintar menyiasati kebutuhan hidup termasuk membeli barang-barang kebutuhan hidup apalagi bagi kaum penerima beasiswa yang besarannya sangat pas untuk “sekedar” hidup di Jepang ditambah lagi kalau bawa anak-istri bisa jadi “alakadarnya” hidup di Jepang. Read more of this post

Buku Baru Bukan Bajakan

Bagi para pelajar, text book adalah sebuah sumber informasi, peta dasar, pembenaran, dasar teori atau lebih ekstrem-nya seperti sebuah kitab suci. Sistem belajar dengan metode pertemuan di kelas dengan jumlah waktu yang terbatas tidak akan menjadi sempurna apabila tidak disertai membaca text book. Keterbatasan otak manusia, kemampuan menyerap ilmu dan menyampaikannya bagi seorang pengajar menjadikan text book sebuah alternatif wajib yang harus dibaca bagi para pelajar maupun pengajar. Untuk mendapatkan sebuah text book original biasanya kita bisa meminjam di perpustakaan atau membeli secara langsung melalui toko buku biasa atau toko buku online.

Permasalahannya adalah bagi para pelajar atau pengajar khususnya di Indonesia, untuk membeli dan memiliki secara pribadi sebuah text book membutuhkan biaya yang sangat besar. Harga sebuah text book baru berkualitas terbitan blackwell, springer atau yang lain apabila di kurs-kan ke rupiah berkisar antara Rp.500.000 hingga Rp.2.000.000. Alternatif lain yang biasa dilakukan oleh pelajar maupun pengajar adalah fotokopi dari text book asli yang didapat dari perpustakaan atau cara lain yang lebih elegan adalah print ulang dari softcopy bajakan hasil scan dengan halaman muka di print berwarna sehingga tampak seperti asli. Untuk alternatif yang terakhir tersebut yang biasa saya lakukan karena masalah finansial tentunya. Yang paling aman tentu saja tidak memiliki secara pribadi tetapi selalu meminjam dari perpustakaan kala membutuhkan. Anehnya lagi, khususnya di Indonesia masih banyak perpustakaan yang juga meminjamkan fotokopian text book asli yang entah sudah mendapat ijin atau belum dari penulis maupun penerbitnya. Untuk yang berduit tapi tidak banyak, bisa juga membeli second hand melalui toko buku online. Read more of this post

Jangan Sampai Berbuih

Sebuah sayatan tipis adalah dasar dari semua analisis geologi yang berhubungan dengan identifikasi mineral. Begitu pentingnya hingga kesempurnaan sebuah sayatan tipis menandai keberhasilan suatu penelitian. Begitu pentingnya hingga seorang ahli geologi selayaknya mampu membuat sebuah sayatan tipis sendiri.

Di Indonesia ketersediaan alat pembuat sayatan tipis tidak begitu banyak dan memiliki tenaga kerja yang melimpah maka pekerjaan pembuatan sayatan tipis selalu saya limpahkan kepada teknisi yang handal. Dengan harga bervariasi Rp. 25.000 hingga Rp.150.000 per-sayatan maka maksimal dua minggu, seluruh sayatan tipis sudah ada di tangan saya untuk siap di teliti di bawah mikroskop. Hasil sayatan tergantung harga tentunya. Untuk yang harga Rp. 25.000 sudah barang tentu tidak begitu bagus dan ukurannya sangat mini. Sedangkan untuk yang mahal, tingkat prosentase sebuah sayatan mendekati kesempurnaan cukup tinggi.

Di Kyushu University Jepang, seorang mahasiswa diwajibkan untuk membuat sayatan tipis sendiri yang sudah barang tentu sebelumnya diberikan training bagaimana cara membuatnya. Giliran saya tiba, sebuah sampel batuan metamorf Ultra High Pressure & Temperature berupa Garnet-Cordierite-Silimanite dari hasil ekskursi kemaren di daerah Higo Metamorphic Terrance Jepang haruslah saya analisis dan pekerjaan membuat sayatan tipis itu akhirnya dimulai juga. Read more of this post

Pijatan Kaki Terakhir untuk Yang Kakung

Saya tidak akan pernah bisa lagi memanggil nama Yang Kakung, sebutan yang selalu saya sampaikan kepada beliau sedari kecil. Hanya satu nama Yang Kakung dan itu kupersembahkan untuk beliau, tidak ada yang lain di dunia ini. Yang Kakung adalah adik ketiga dari nenekku. Ayahku adalah keponakan satu-satunya yang beliau miliki karena ayahku anak tunggal dari nenek dan adik kedua nenekku (Yang Gito almarhum) tidak memiliki keturunan.

Sebuah penghargaan yang teramat besar ketika saya dapat merasakan kasih sayang yang sama seperti yang beliau berikan kepada putra-putrinya. Entah sebuah kebetulan atau takdir, ketika pertama kali menghirup nafas di dunia, saya ada di antara beliau di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Kata ibuku, tali pusarku masih tertanam di Jakarta. Read more of this post

Konnichiwa

Konnichiwa adalah kata-kata populer yang sering diucapkan orang Jepang. Pada dasarnya adalah ucapan selamat siang tetapi menjadi kata-kata umum menggantikan halo atau ucapan selamat bertemu. Bagi saya, konnichiwa kali ini berarti selamat bertemu kembali dengan Jepang untuk yang kedua kalinya. Kedatangan ke Jepang kali ini saya harus singgah dulu di Jica Center cabang Kyushu untuk mengikuti training selama 9 hari baru kemudian menetap di Asrama Ito dekat kampus Kyushu University. Read more of this post

Mendaki Buku

Gunung Tampomas di Sumedang memang tidak seberapa tinggi dibandingkan dengan gunung-gunung di Jawa Tengah atau Jawa Timur seperti Gunung Slamet atau Gunung Semeru tetapi bagi saya yang sudah lebih dari lima tahun pensiun dari kegiatan naik gunung terasa sangat melelahkan dan menguras fisik. Ketinggian Gunung Tampomas kurang lebih 1684 m di atas permukaan laut dengan titik pendakian dimulai di sekitar Desa Conggeang. Perjalanan itu adalah rangkaian dari kegiatan survei untuk menyingkap tabir sejarah geologi Gunung Tampomas bersama rombongan dari Teknik Geologi UGM yang berkolaborasi dengan Kyushu University Jepang. Read more of this post