Posts filed under 'Tentangku'

Woalah Ternyata Sheila On 7

Apa jadinya bila anda bertemu dengan artis terkenal? Gugup, senang, histeris, menangis, biasa aja atau malah guling-guling? Itu semua terjadi jika anda mengenal dengan jelas artis idola anda. Jika sang artis sempurna dengan penyamarannya mungkin anda akan bersikap biasa saja dan berlaku cuek terhadapnya tanpa memperdulikan siapa dia.

Ini terjadi sekitar 6 tahun yang lalu, ketika sepupu jauh saya yang seorang musisi dari Jakarta berkunjung di rumah saya di Jogjakarta. Mengapa saya baru menulis cerita ini sekarang? Karena saya baru mengingatnya kembali ketika lebaran kemaren bertemu kembali dengannya pada forum silaturahmi keluarga di Solo. (more…)

6 comments September 24, 2009

Selamat Membaca

ThinkBagi saya membaca adalah sebuah hobi dan hiburan dikala mengisi waktu selain tentunya sebagai sumber ilmu pengetahuan. Jangan sungkan-sungkan untuk memberikan referensi bacaan bagi saya karena akan dengan senang hati saya membacanya atau jangan susah-susah mencari sebuah hadiah dikala saya berulang tahun karena cukup dengan sebuah buku lah saya bisa mendapatkan kebahagiaan entah apa yang terjadi apabila saya tidak diperbolehkan lagi membaca buku, mungkin bisa menjadi gila atau lebih baik tak usah hidup sama sekali.

Tetapi hal itu tidak berlaku bagi sebagian orang, banyak yang merasakan bahwa pekerjaan membaca adalah sebuah siksaan dimana kondisi tubuh dipaksa untuk berkonsentrasi pada mata dan pikiran sementara anggota tubuh yang lain menjadi statis. Hal inilah yang dirasakan oleh Si Ciku; seorang teman, sahabat dan kekasih; yang susahnya minta ampun jika disuruh membaca padahal saya sangat maniak membaca. Yang paling ekstrem adalah sampai mengajaknya ke toko buku atau pameran buku pun harus dengan paksaan. (more…)

14 comments September 15, 2009

Di Bandung kita bertemu dan berpisah

“Aku di Bandung, kapan kita ketemuan? Pokoknya nanti kita harus ketemu di Bandung. Sabtu-Minggu aku libur. Nanti kita kontak-kontakkan lagi”

Begitu kata Wahyu di telepon padaku saat dia berada di Bandung untuk latihan terjun payung lanjut. Memang dia adalah salah satu anggota TNI Angkatan Udara dengan pangkat Lettu.

3 tahun kulewati bersamanya ketika kami berada dalam seragam putih abu-abu. Selalu memilih tempat duduk paling belakang di kelas dan aku selalu berada di depannya. Tak ada kegiatan yang tak kami lewati bersama, kami adalah rangkaian yang tak terpisah bersama sahabat yang lain. Tumbuh bersama mencari jati diri dalam gelegak darah jiwa muda kami. (more…)

8 comments April 7, 2009

Detektif Bumi vs Detektif Kasus

agen-rahasialima-sekawan-patung-dewaSewaktu kecil dahulu, saya senang sekali membaca buku Detektif Cilik Hawkeye Collins dan Amy Adams atau serial Lima Sekawan. Kini yang terbaru ada komik dengan tema detektif yang serupa dari Jepang yaitu Detektif Conan dan Detektif Kindaichi tetapi untuk komik bergambar ini saya tidak terlalu mengikuti cuma sebatas tahu saja. Komik atau buku bergenre detektif biasanya usungan temanya adalah mengungkapkan sebuah kasus pencurian, pembunuhan atau hal-hal lain yang kemungkinan kasus dan tersangkanya masih terbuka lebar. Maksudnya, kasus tersebut bisa melibatkan semua pihak bahkan pelapor sekalipun, kita tidak akan pernah tahu hasil akhirnya dan hanya menebak kira-kira siapakah pelakunya dari data-data yang diberikan. Biasanya data yang diberikan sangat terbatas dan datanya bisa dari barang bukti, tempat kejadian perkara atau hasil wawancara dengan orang-orang yang terlibat. Otak dan memori kita akan selalu diasah untuk selalu waspada dan peduli dengan semua data-data atau petunjuk yang diberikan. Bahkan di dalam buku Hawkeye Collins dan Amy Adams, sketsa tempat kejadian perkara digambarkan dan disajikan dengan detil, oleh karena itu perlu sebuah konsentrasi dalam mengutip hasil wawancara dan pengamatan detil hasil sketsa tempat kejadian perkara, dengan prinsip sekecil apapun data tetap merupakan sebuah petunjuk. Kalau analisis kita benar dan menemukan pelakunya sesuai dengan hasil analisis si detektif dalam buku, maka senang dan bangga sekali rasanya, disinilah serunya membaca buku-buku bertema detektif. (more…)

5 comments December 2, 2008

A Little Java in Sunda Island

Menghuni sebuah kota baru pada awalnya pasti tidaklah mudah, perlu adaptasi yang cukup melelahkan. Harus tahu budaya, kultur, kebiasaan, tingkah laku, jalanan, dan lokasi-lokasi strategis yang sekiranya penting buat kita menjalani hidup. Setidaknya ada 5 kota di Indonesia yang pernah menjadi persinggahanku cukup lama selain di Yogyakarta tentunya. Yang pertama adalah Solo, kota ini menjadi tempat persinggahanku karena kedua orangtuaku berasal dari sana, mau tak mau aku harus ikut hidup cukup lama di kota Solo. Yang kedua adalah Jakarta, di kota inilah aku dilahirkan, ada semacam ikatan batin antara diriku dengan kota ini walaupun sampai dengan saat ini aku tidak pernah menikmati hidup di Jakarta. Yang ketiga adalah Banjarmasin, kota ini kuhuni cukup lama karena boleh dibilang di kota inilah aku pertama kali menetap untuk bekerja, walaupun aku pernah bekerja sebelumnya di kota lain tetapi tidak pernah menetap lama. 1,5 tahun kulewati hidupku di Banjarmasin, saya kira angka yang cukup untuk bisa membuktikan bahwa saya pernah hidup disana. Yang keempat adalah Sangatta, setidaknya 1 tahun kulewati hidupku di sini, tak lain dan tak bukan hanyalah untuk bekerja di perusahaan tambang yang berada di sana dan kota ini menjadi tempat persinggahanku sebelum akhirnya aku bersinggah di kota kelima yaitu Bandung. (more…)

6 comments November 22, 2008

Mulai ngeblog lagi

Mungkin ada jeda 3 bulanan dari tulisan blog terakhir saya, yup, itu adalah fase adaptasi. Perlu ada adaptasi dengan lingkungan baru, ini berarti adaptasi juga terhadap peralatan teknologi yang ada. Sewaktu masih di Kalimantan, saya menggunakan fasilitas internet speedy. Kali ini di Bandung, saya menggunakan indosat m2. Sebelumnya saya berharap banyak dengan jaringan internet gratisan mahasiswa dari ITB tetapi ternyata cukup mengecewakan. Selain untuk masuk ke dalam jaringannya cukup susah, juga karena banyak situs-situs penting akses saya yang terblokir. Sebenarnya tidak termasuk ke dalam jaringan pornografi tetapi bukan situs-situs yang wajar yang digunakan mahasiswa untuk menuntut ilmu. Untuk mengaksesnya perlu ijin dari admin internet, piufffff.. cukup ribet. Mengenai warnet-warnet yang ada di Bandung, menurut saya cukup ribet menulis blog di warnet, saya membutuhkan suasana yang privasi belum lagi masalah pervirusan di computer warnet tersebut. Seumur-umur belum pernah menulis blog di warnet dan sepertinya tidak akan pernah mencoba. Akhirnya, mulai lagi ngeblog di tengah kesibukan kuliah dan praktikum. Tunggu saja tulisan berikutnya.

Add comment November 15, 2008

Antara aku, kasur, kursi, lantai dan berandaku

3 tahun semenjak kelulusanku S1 Geologi UGM selalu kulewatkan dengan bekerja di luar kota. Pada lingkup kerja yang berhubungan dengan profesiku, perusahaan biasanya memberikan fasilitas mess kepada karyawannya. Sudah beberapa kamar mess kurasakan, karena aku sering pindah-pindah perusahaan (koq masih tetep pengen pindah lagi ya :P ). Yang terakhir ini adalah yang paling baik diantara kamar-kamar mess yang pernah kurasakan. (more…)

6 comments August 31, 2008

Inspirasi “Kukejar kemanapun kau pergi”

Apapun kegiatannya, setiap orang membutuhkan inspirasi untuk berkarya dan mencipta. Inspirasi erat hubungannya dengan suasana lingkungan dan suasana hati seseorang. Inspirasi juga bisa didapat dari pencitraan panca indra kita, dari melihat, mendengar, mencium dan merasakan. Ada ribuan cara untuk mendapatkan inspirasi tetapi tidak selalu inspirasi datang dengan sendirinya, dia lebih dari sekedar misteri. Inspirasi adalah landasan seseorang untuk berbuat maka dari itu semua orang di dunia ini berbondong-bondong untuk selalu mencari inspirasi. Inspirasi tidak akan habis seperti cadangan minyak bumi di dunia ini dan kumpulan inspirasi yang melimpah tidak akan menimbulkan efek negatif seperti efek gas rumah kaca. Inspirasi yang melimpah akan membuat dunia ini menjadi semakin lebih berwarna.

Inspirasi bisa datang sewaktu-waktu di tempat manapun tanpa pernah direncanakan. Pernah ada suatu cerita mengenai penemuan cadangan emas di daerah Jawa Barat oleh seorang ahli geologi. Ketika itu team geologi eksplorasi yang meneliti di daerah tersebut dibuat frustasi ketika tidak ditemukan tanda-tanda geologi yang signifikan mengenai cebakan emas di daerah tersebut padahal dari endapan sedimenter puluhan km di sepanjang sungai banyak ditemukan bijih emas. Di tengah rasa frustasi tersebut, seorang ahli geolog tiba-tiba memutuskan untuk merapat ke sebuah sungai untuk buang air besar. Saat sudah menemukan posisi yang nyaman maka dia mulai melakukan aktivitasnya sembari matanya tak berhenti untuk melihat pemandangan sekelilingnya. Di depannya terdapat singkapan batuan yang biasa dia liat sepanjang perjalanan eksplorasi. Tiba-tiba ia mendapat inspirasi untuk menggambar sketsa singkapan batuan tersebut. Sembari buang air besar maka ia menggambar lagi singkapan batuan tersebut dan mengutak-atiknya. Tak disangka ternyata singkapan batuan tersebut merupakan alterasi hydrothermal penciri sebuah cebakan emas, seketika ia berteriak kepada kawan-kawannya dan melupakan sakit perutnya. Itulah sumber inspirasi sebuah tanda geologi yang membuktikan bahwa daerah tersebut merupakan cebakan emas yang prospektif dan saat ini telah ditambang. Atau Melly Goeslaw sang pencipta dan penyanyi yang kondang di jagat permusikan Indonesia pernah bercerita bahwa ia terkadang menemukan inspirasi menulis lagu ketika nongkrong di toilet. Jadi bisa dibayangkan bahwa lagu-lagu yang tercipta begitu romantis itu bermula dari kursi toilet serta tambang emas yang begitu besar itu bermula dari sakit perut.

Saat penuh dengan kegelisahan dan tekanan biasanya seseorang malah banyak mendapat inspirasi untuk berkarya. Pram (Pramoedya Ananta Toer) menulis pada saat menjalani hukumannya sebagai tahanan politik di pulau Buru. Di tengah keterbatasannya sebagai tahanan politik, Pram dengan gemilang menghasilkan karya-karya yang begitu dahsyat seperti Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Barangkali Pram tidak akan pernah menuliskan tetralogi pulau buru apabila ia tidak merasakan penderitaan sebagai tahanan politik di Pulau Buru. Dibawah Bendera Revolusi jilid 1 karya Sukarno mungkin tidak akan pernah ada juga apabila tidak ada kaleng rombeng di penjara Banceuy Bandung 1930. Kaleng rombeng berbau pesing itu adalah alat buang hajat sekaligus sebagai inspirasi untuk menuangkan pikirannya. Di tiap malam Sukarno menjadikan kaleng itu sebagai meja sekaligus tadah buang hajat. Jika pagi tiba, ketika ia diizinkan meninggalkan sel, dibawanya kaleng itu ke kamar mandi untuk dibersihkan. Setelah itu, dengan dilapisi beberapa lembar kertas, ia pakai lagi sebagai meja untuk menulis. Atau Iwan Fals yang selalu jengah dengan kehidupan politis Indonesia kala itu sehingga menuangkan kritik sosialnya dalam sebuah lagu dan menghasilkan karya-karya yang begitu spektakuler sepanjang jaman seperti Wakil Rakyat, Bento, dll. Tapi begitu seseorang mencapai sebuah kemapanan maka seolah inspirasinya ikut menghilang bersama dengan datangnya kemapanan. Untuk itulah ada sebuah komunitas yang menamai dirinya Komunitas Anti Kemapanan. Mungkin ini dimaksudkan untuk terus bisa mendapat inspirasi berkarya dalam hidupnya.

Nah, biasanya orang-orang yang haus akan inspirasi ini merupakan orang-orang berkarakter dan selalu menjadi sosok inspiratif juga bagi orang lain di sekitarnya. Siapa yang tidak kenal akan Sukarno, Pramudya Ananta Toer atau Iwan Fals. Tokoh anti kemapanan seperti Che Guevara bahkan dikenal seluruh dunia dan menjadi inspiratif bagi generasi muda dengan memasang logo bintang kuning di tengah kotak warna merah walaupun tak pernah tau apa artinya. Mereka akan selalu menciptakan kegelisahannya sendiri di tengah rasa mapan yang mereka peroleh. Hidup tidak akan pernah berarti saat kegelisahan itu tidak ada. Tidak ada yang suka dengan kekacauan tapi begitu kedamaian datang dan terasa membosankan maka mereka akan menciptakan kekacauan mereka sendiri hanya untuk sebuah inspirasi. Begitu mahalkah harga sebuah inspirasi sehingga membutuhkan pengorbanan baik harta maupun nyawa hanya untuk mendapatkan sebuah inspirasi yang menghasilkan sebuah karya yang sangat spektakuler.

*****

Beberapa hari yang lalu aku merasa kehilangan inspirasiku. Aku kehilangan mood untuk membaca, menulis, bekerja, memotret, mengedit foto, berbicara dengan orang lain, nonton televisi, aku kehilangan mood untuk melakukan apapun, aku kehilangan inspirasiku. Aku mencoba membaca apapun yang ada mulai dari koran, majalah dan novel tetapi tidak ada yang tuntas. Aktivitas harianku aku rubah dengan mencoba berjalan-jalan keluar mess tetapi tetap saja tidak ada inspirasi yang datang. Aku mencoba untuk membawa kamera dalam pekerjaanku dan berharap bisa menemukan objek yang menarik untuk membangkitkan inspirasiku tetapi tetap saja inspirasi serasa menjauh dalam hati dan pikiranku. Aku mencoba menonton film bajakan Hollywood terbaru tetapi malah tambah parah seakan inspirasi benar-benar sirna dalam hidupku. Padahal saat itu aku merasa sangat membutuhkan inspirasi untuk membuatku tertib belajar demi tujuanku selanjutnya dengan sedikit selingan menulis blog tetapi seakan haram bagi inspirasi untuk mendekatiku. Di tengah kegalauan itu aku mencoba cukur rambutku di salon dekat dengan mess. Walaupun hasilnya tidak sesuai dengan yang kuharapkan tetapi entah kenapa inspirasiku kembali timbul untuk kembali bersemangat menghadapi hidup ini. Ah, aneh-aneh saja kau ini inspirasi… Masak aku harus cukur rambut terus saat kehilanganmu lagi :)

10 comments June 22, 2008

Pengkhianatan Transportasi Umum

Transportasi saat ini mungkin menjadi salah satu kebutuhan primer umat manusia penghuni bumi ini. Bayangkan jikalau tak ada transportasi maka tak akan jalan dan tak akan ada alat transportasi seperti bus, pesawat, motor, mobil, sepeda, kapal, dll. Transportasi sangat mendukung sifat manusia yang merupakan makhluk sosial. Seakan sudah merupakan sifat alami, manusia menciptakan dan mengembangkan transportasi sejak berkembangnya komunitas manusia di muka bumi. Saat hanya bisa berjalan kaki, manusia akan menciptakan jalan setapak dengan membabat hutan atau ilalang untuk mempermudah jalur menuju ke tempat tujuan. Mungkin pada waktu itu tujuannya sangat sederhana tetapi krusial yaitu mencari makan. Saat ini perkembangan transportasi sudah sangatlah pesat. Tujuan mencari makan tetap merupakan tujuan yang penting tetapi seiring perkembangan jaman, maka tercipta banyak sekali tujuan dan keinginan mengapa manusia bertransportasi. Tujuan dan keinginan itulah yang mendasari umat manusia untuk selalu mengembangkan teknologi transportasi.

Jalur lintas transportasi meliputi darat, laut dan udara dengan berbagai macam alat dan sarana transportasi pendukungnya. Diciptakan tidak lain untuk mendukung tingkat mobilitas manusia yang semakin lama semakin menjadi mobile. Beberapa alternatif kreatifitas yang melihat fenomena ini justru tidak menciptakan alat atau sarana transportasi tetapi justru menciptakan alat atau sarana komunikasi. Alat komunikasi ini memfasilitasi manusia yang ingin bertransportasi untuk berhubungan dengan orang lain di tempat yang berbeda tetapi masing-masing tidak perlu meninggalkan posisinya saat itu. Alat itu bernama telepon. Sebuah ide cemerlang yang melihat permasalahan transportasi dari sudut pandang yang berbeda.

Sebegitu pesatnya tingkat natalitas umat manusia di muka bumi juga berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan transportasi untuk memfasilitasinya. Karena manusia merupakan makhluk yang berjalan di atas tanah maka kebutuhan transportasi 90% berlaku untuk di jalan darat saja. Permasalahannya apakah alat atau sarana transportasi yang ada saat ini sudah memfasilitasi kebutuhan dari jumlah manusia yang ada? Kenyataan yang ada saat ini adalah ketersediaan alat transportasi pribadi yang melimpah tetapi tidak dibarengi dengan ketersediaan alat transportasi umum dan fasilitas transportasi seperti jalan raya. Ketidakseimbangan antara alat transportasi dengan sarana pendukungnya dapat dilihat dengan jelas dengan adanya kemacetan yang terjadi di mana-mana walaupun dengan pemakluman dari pihak yang bertanggung jawab adalah saat itu terjadi pada jam-jam sibuk saja. Kalau dirunut lebih dalam lagi, selain dari ketidaktersediaannya sarana pendukung transportasi seperti jalan raya yang mencukupi juga keengganan masyarakat untuk menggunakan sarana transportasi umum. Alasannya bisa berbagai macam; tidak nyaman, tidak aman, tidak tepat waktu, atau tidak keren.

Contoh ketidaknyamanan adalah pada kabin bus jelas-jelas tertulis jumlah penumpang duduk dan penumpang berdiri tetapi seolah-olah tidak pernah peduli, kernet dan sopir bus tetap memburu jumlah penumpang hingga berdesakan seperti kornet melebihi kapasitas yang sudah tertulis di kabin. Serba salah bagi calon penumpang, tidak naik bus akan terlambat, naik bus tidak akan nyaman. Akhirnya dengan mengenyampingkan tingkat keamanan, calon penumpang tetap berbondong-bondong menyerbu bus kota. Hal yang serupa juga terjadi ketika jam pulang kerja maupun pulang sekolah. Belum lagi dengan suasana berdesakan tersebut masih saja ada tangan-tangan jahil yang meraup keuntungan dari situasi tersebut. Dompet atau perhiasan para penumpang sering jadi sasaran empuk para pencopet dan pengkhianatan transportasi umum terasa saat sopir atau kernet bus tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan ini.

Saya adalah salah satu dari sekitan banyak masyarakat korban pengkhianatan transportasi umum. Saya adalah pengguna jasa transportasi umum yang cukup aktif (setidaknya jaman sekolah dulu). Ketika berangkat sekolah SMP dan SMA saya harus naik bus agar sampai di sekolah saya yang berada di tengah kota. Maklumlah karena rumah saya berada di daerah pinggir kota dan saya tidak punya alternatif transportasi lain. Jarak antara rumah sampai dengan sekolah kurang lebih 10km dan bila ditempuh dengan bus kota memakan waktu 30-60 menit tergantung kepadatan lalu lintas jalan raya. Yang selalu saya ingat adalah sangat jarang sekali saya mendapatkan tempat duduk ketika berangkat sekolah maupun pulang sekolah. Bus yang datang di depan jalan perumahan atau depan sekolah selalu penuh sesak dengan anak sekolah dan para pekerja. Karena tidak ingin terlambat sampai ke sekolah, saya selalu tidak mengindahkan tingkat keselamatan. Sering kali saya berada di luar pintu bus dengan bergelantungan layaknya kernet bus. Resiko terjatuh atau terserempet kendaraan lain yang melintas tidak saya perdulikan, yang ada di pikiran saya adalah bisa sampai tujuan dengan tepat waktu. Suatu kali saya pernah kecopetan juga ketika pulang dari sekolah dan baru saya sadari ketika sampai rumah. Dompet saya yang pada waktu itu berisi Rp.12.000,- raib di tangan copet. Bisa dibayangkan uang Rp.12.000,- bagi seorang anak SMP adalah sangat berharga sekali. Dengan uang tersebut, saya bisa meminjam komik di perpustakaan sebanyak 48 buah (karena 1 komik harga sewanya Rp.250,-) atau saya bisa menonton bioskop sebanyak 3x (karena karcis menonton bioskop sebesar Rp.4000,-). Ugghh… benar-benar menyebalkan. Pengkhianatan oleh transportasi umum ini terus menimpa saya selama kurang-lebih 6 tahunan sampai akhirnya orangtua saya memutuskan untuk membelikan sebuah sepeda motor ketika saya duduk di kelas 3 SMA.

Setiap orang yang mengalami pengkhianatan seperti saya dan berpikiran sehat juga mempunyai dana pasti akan memutuskan untuk memiliki kendaraan pribadi demi rasa nyaman, rasa aman, tepat waktu dan lebih kelihatan keren tentunya. Tidak heran mengapa tingkat kepemilikan kendaraan pribadi saat ini sangat banyak karena banyak warga masyarakat lain yang bernasib serupa seperti saya. Merasa dikhianati oleh transportasi umum. Saat ini pemerintah dibuat jengah dengan jumlah kendaraan pribadi yang membabi buta, sehingga diterapkanlah langkah-langkah antisipasi seperti jalur three in one, pengadaan bus way, monorel, dll. Sebuah keputusan yang bijak tetapi agak terlambat tentunya saat semua orang sudah terkhianati. Masalah saat ini menjadi pelik karena tingkat ekonomi masyarakat juga menurun dengan harga-harga kebutuhan pokok lainnya yang melambung tinggi. Muncul tingkatan masyarakat yang tidak bisa membeli kendaraan pribadi juga tidak mempunyai kemampuan untuk membayar transportasi umum sementara mereka membutuhkan alat transportasi untuk kehidupan mereka. Nah lo… bagaimana solusinya? Sementara ini mereka mencari solusi tersendiri dengan menjadi penumpang gelap di transportasi umum dengan mengorbankan tingkat keamanan dan kenyamanan. “Tapi sama aja koq, yang bayar juga ngga aman dan ngga nyaman”. Sehingga sering kita liat pemandangan di ibukota banyaknya penumpang kereta api ekonomi jabodetabek yang menumpang di atap atau bergelantungan di sambungan-sambungan kereta. Bisa jadi mereka tidak punya uang untuk membayar atau memang sarana transportasi umum yang tidak mencukupi menampung mereka.

Sampai kapan permasalahan sosial ini terus menghantui kita. Kita memang selalu dikhianati tetapi jika melihat kenyataan yang ada seperti tidak ada yang bisa kita lakukan lagi untuk memperbaikinya. Sebegitu parahkah penyakit bangsa ini hingga untuk menyembuhkannya harus di amputasi sebagian besar penduduknya untuk memulai lagi generasi yang baru. Generasi yang jujur dan nasionalis sehingga negara yang kaya akan sumberdaya alam ini bisa mengayomi seluruh orang yang tinggal di dalamnya.

5 comments June 4, 2008

Mencari Paris di Bandung

Kota Bandung adalah kota wisata yang mempunyai beberapa julukan, antara lain adalah Kota Kembang, Bandung Lautan Api dan Parijs van Java. Dengan beberapa julukan inilah yang menjadikan nama Bandung tidak asing dalam kancah nasional maupun internasional. Bandung menunjukkan taringnya dalam perjuangan Indonesia dengan julukannya yang terkenal sebagai Bandung Lautan Api dan dalam sejarah perdamaian internasional, Bandung juga turut andil dengan menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika. Dari semua sejarah yang ada, yang paling membekas adalah julukan yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda kala itu kepada Bandung sebagai Parijs van Java. Remy Silado juga turut mengambil bagian dengan memberikan judul Parijs van Java dalam novelnya yang berlatar belakang kota Bandung kala pemerintahan kolonial Belanda. Dalam novel tersebut, cukup apik digambarkan situasi Bandung pada tahun 1920-an sebagai latar belakang kisah yang ditampilkan oleh Remy Silado. Sebenarnya apa yang mendasari pemerintah kolonial Belanda kala itu menjuluki kota Bandung sebagai Parijs van Java yang berarti Bandung adalah Paris yang ada di Jawa ?

Seperti yang telah diketahui bersama bahwa kota Paris tidaklah asing lagi di dunia sebagai kota yang penuh keindahan. Sebagian besar penduduk dunia memimpikan untuk bisa berkunjung di kota yang terletak di benua Eropa ini. Paris, ibukota Perancis yang dibangun di tepi sungai Siene ini terkenal sebagai ‘Kota Bertaburan Lampu’ (la Ville Lumière). Paris adalah tujuan wisata terkemuka sejak dahulu kala. Kota ini dikenal dengan arsitektur bangunannya yang indah, pengaturan kota dan jalan-jalan besarnya, dan juga koleksi museum-museumnya. Menara Eiffel dan Katedral Notre Dame adalah salah satu tujuan wisata disana dan sangat sering digunakan sebagai latar belakang pembuatan film. Di Indonesia sendiri pernah ada film remaja yang mengambil latar belakang Menara Eiffel, kalau masih ingat filmnya berjudul “Eiffel I’m in Love”. Sebegitu raksasanya keindahan Paris sehingga sangat mengesankan sekali bahwa pemerintah kolonial Belanda bisa menemukan kota Paris di pulau Jawa yang tidak lain hanya ditemukan di kota Bandung.

Secara geografis kota Bandung berada di tengah-tengah propinsi Jawa Barat yang terletak pada ketinggian ±768 m di atas permukaan laut rata-rata (mean sea level). Berada di antara pegunungan dan menempati dataran tinggi membuat Bandung memiliki hawa yang sejuk. Pada tahun 1810 Gubernur Jendral Daendelslah yang pertama kali mematok pusat kota Bandung di tepi Sungai Cikapundung yang berseberangan dengan alun-alun sekarang. “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!”). Sekarang tempat itu menjadi titik pusat atau KM 0 kota Bandung (di beberapa referensi menyebutkan bahwa pendiri kota Bandung bukanlah Daendels melainkan Bupati kala itu yaitu RA. Wiranatakusumah II). Dari titik pusat itulah kemudian pembangunan Kota Bandung mulai berkembang hingga sekarang.

Hawa yang sejuk dan masih alami kemungkinan merupakan dasar yang kuat mengapa Bandung dijuluki Parijs van Java kala itu. Konsep pembangunan kota juga memikirkan keindahan arsitekturnya untuk mendekati seperti julukannya. Bangunan tua berarsitektur Belanda masih dapat dilihat hingga sekarang; Gedung Sate, Gedung Savoy Homan, Gedung Merdeka, Observatorium Bosscha adalah beberapa contohnya. Belanda kala itu memang tidak main-main terhadap julukan Parijs van Java kepada kota Bandung, mereka berusaha memindahkan Paris ke Bandung. Julukan Parijs van Java pun melekat kepada Bandung, entah siapa yang pertama kali mencetuskannya. Mulailah berbondong-bondong masyarakat dari kerajaan Belanda mulai mendatangi Bandung untuk sekedar menikmati keindahan Parijn van Java atau bahkan mencintai dan hidup di Bandung dengan mendirikan rumah-rumah atau vila-vila bergaya arsitektur Belanda di seputaran Bandung. Pada saatnya nanti, mereka akan kembali lagi ke negerinya karena alasan keamanan akibat perang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain itu diyakini juga bahwa dayatarik mojang-mojang asli Bandung yang geulis-geulis juga menjadi alasan mengapa Bandung mendapat julukan ini. Untuk hal ini ada kiasan yang mendukungnya “Seandainya ada 10 orang gadis Bandung, maka yang cantik adalah 12 orang” Hehehe… Saking melimpahnya kecantikan mojang Bandung maka kecantikannya melebihi dari jumlah orangnya :)

Bandung saat ini telah banyak mengalami perubahan semenjak pertama kali julukan Parijs van Java disandangnya. Kesan udara sejuk, segar, permai dan alami mulai luntur dengan hiruk-pikuk perkotaan yang menebarkan polusi di sana-sini. Hutan kota mulai digantikan dengan factory outlet, mall, kos-kosan maupun penginapan. Tetapi ditengah kompleksnya pertambahan jumlah penduduk dan berbagai macam masalah sosial dan ekonomi yang melanda negeri ini, pemerintah kota masih tetap berusaha mempertahankan keberadaan Paris di kota Bandung. Di beberapa sudut kota dikembangkan konsep Citywalk, yaitu tata kota yang memberikan penghargaan tinggi kepada pejalan kaki dengan menyediakan trotoar yang lebar dan bersih serta ditanami pepohonan di pinggir jalan untuk menaungi agar tidak terlalu panas saat berjalan di terik matahari. Konsep citywalk ini salah satunya bisa ditemui di sepanjang Jalan Braga. Gedung-gedung tua berarsitektur Belanda dipelihara dengan baik dan dimanfaatkan untuk dijadikan perkantoran tanpa mengubah sedikitpun tampilan asli gedungnya walaupun dengan pembenahan di sana-sini. Beberapa pertokoan masih banyak yang menggunakan nama Parijs van Java sebagai rasa bangga terhadap julukan itu. Mojang-mojang Bandungpun masih geulis-geulis dan makin terlalu percaya diri menunjukkan kegeulisannya pada kaum adam. Setidaknya bikin Bandung tambah sejuk di mata bagi kaum adam :)

Ternyata pemerintah kota Bandung tidak main-main dengan tetap mempertahankan Paris di Bandung karena di sebelah Utara kota Bandung didirikan mega plaza yang luas bin megah dengan gaya arsitektur yang aduhai. Di dalamnya memuat konsep citywalk pada lantai satu dan bukan bertingkat ke atas tetapi ke bawah menjual kebutuhan hidup tersier yang jet zet. Bagian depannya merupakan deretan kafe tempat kongkow yang asyik bagi semua generasi dan disambut hiburan musik tiap malam minggu membuatnya selalu ramai dikunjungi. Mega plaza yang luas bin megah serta aduhai itu diberi nama Paris Van Java

+ Loh kenapa? Memangnya ada yang salah dengan nama itu?

- Engga sih, tapi kan seharusnya Parijs van Java ? Hurufnya itu lo salah. Bukannya itu dari bahasa Belanda, kalau Paris Van Java bahasa apa ya?

+ Ah ga penting, yang penting ada Paris di Pulau Jawa dan itu letaknya di Bandung.

- Di Bandung atau di mega plaza yang luas bin megah serta aduhai itu? Mungkin Paris yang ada di Bandung dengan Paris yang aslinya memang berbeda. Aku tidak bertemu Paris yang kucari di Bandung karena yang kutemui adalah Paris yang lain.

3 comments May 25, 2008

Previous Posts


ANTAREJA bingung

Antareja, adalah salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam Mahabharata karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Ia merupakan putra sulung Wrekodara atau Bimasena dari keluarga Pandawa. Antareja mempunyai kesaktian dapat hidup dan berjalan di dalam bumi, namun ketika berada di dalam bumi dia selalu kebingungan menjelaskan apa yang terjadi di dalam sana.

Kategori Tulisan

Kalender

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Tulisan Terbaru

Posting Favorit

Tulisan terdahulu

Komentar Terbaru

HIBURAN - Dongeng Ci… on Batubara : Menilik Untung-Rugi…
zefka on Catatan Harian Seorang Ge…
iwantolet on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
iwantolet on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
iwantolet on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
Julgreg on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
celolo on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
Sila on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…

Photoaddic

Blue Ocean2

Sepeda kumbang

Orang Pinggiran

Menanam Padi

Balada Becak

More Photos

Lokasi Pengunjung

Dilihat sebanyak

Termasuk ke dalam :

RSS Katastropi (Dunia sastra kecilku)

Kawan

Sering Dikunjungi

Meta

Spam Blocked