Jangan Sampai Berbuih
October 20, 2010 7 Comments
Sebuah sayatan tipis adalah dasar dari semua analisis geologi yang berhubungan dengan identifikasi mineral. Begitu pentingnya hingga kesempurnaan sebuah sayatan tipis menandai keberhasilan suatu penelitian. Begitu pentingnya hingga seorang ahli geologi selayaknya mampu membuat sebuah sayatan tipis sendiri.
Di Indonesia ketersediaan alat pembuat sayatan tipis tidak begitu banyak dan memiliki tenaga kerja yang melimpah maka pekerjaan pembuatan sayatan tipis selalu saya limpahkan kepada teknisi yang handal. Dengan harga bervariasi Rp. 25.000 hingga Rp.150.000 per-sayatan maka maksimal dua minggu, seluruh sayatan tipis sudah ada di tangan saya untuk siap di teliti di bawah mikroskop. Hasil sayatan tergantung harga tentunya. Untuk yang harga Rp. 25.000 sudah barang tentu tidak begitu bagus dan ukurannya sangat mini. Sedangkan untuk yang mahal, tingkat prosentase sebuah sayatan mendekati kesempurnaan cukup tinggi.
Di Kyushu University Jepang, seorang mahasiswa diwajibkan untuk membuat sayatan tipis sendiri yang sudah barang tentu sebelumnya diberikan training bagaimana cara membuatnya. Giliran saya tiba, sebuah sampel batuan metamorf Ultra High Pressure & Temperature berupa Garnet-Cordierite-Silimanite dari hasil ekskursi kemaren di daerah Higo Metamorphic Terrance Jepang haruslah saya analisis dan pekerjaan membuat sayatan tipis itu akhirnya dimulai juga. Read more of this post
Gunung Tampomas di Sumedang memang tidak seberapa tinggi dibandingkan dengan gunung-gunung di Jawa Tengah atau Jawa Timur seperti Gunung Slamet atau Gunung Semeru tetapi bagi saya yang sudah lebih dari lima tahun pensiun dari kegiatan naik gunung terasa sangat melelahkan dan menguras fisik. Ketinggian Gunung Tampomas kurang lebih 1684 m di atas permukaan laut dengan titik pendakian dimulai di sekitar Desa Conggeang. Perjalanan itu adalah rangkaian dari kegiatan survei untuk menyingkap tabir sejarah geologi Gunung Tampomas bersama rombongan dari Teknik Geologi UGM yang berkolaborasi dengan Kyushu University Jepang.
Penyelidikan geologi di Indonesia berperan pen- ting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan sumberdaya alam di Indonesia, tujuannya tidak lain untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa ini. Penyelidikan geologi di Indonesia telah mencapai lebih dari satu seperempat abad dimulai pada tahun 1850. Penyelidikan geologi di Indonesia dalam lingkup peristiwa dibagi menjadi empat masa penting, yaitu Masa Pendudukan Belanda, Masa Pendudukan Jepang, Masa Perang Kemerdekaan dan Masa Mengisi Kemerdekaan.
Apa yang terlintas pertama kali di otak ketika mendengar istilah “Tabir Surya”? Pasti tidak jauh dari salah satu produk kosmetik perawatan kulit. Tabir surya yang saya maksud di sini bukanlah tabir surya untuk kulit tetapi tabir surya untuk bumi. Bukan hanya kulit yang membutuhkan tabir surya tetapi bumi juga membutuhkan tabir surya. Prinsipnya hampir sama dengan tabir surya bagi kulit untuk melindungi efek negative dari sinar matahari sehingga kulit tetap sehat dan tidak merubah pigmen kulit tetapi tabir surya untuk bumi berfungsi untuk mengurangi efek dari pemanasan global dan radiasi sinar matahari bagi bumi sehingga makhluk hidup yang menumpang di atasnya menjadi lebih nyaman.
Berturut-turut negeri kita tercinta ini diguncang gempa. Setidaknya beberapa waktu belum lama ini telah terjadi tiga kali gempa yang waktunya berdekatan yaitu gempa Tasikmalaya, gempa Sumatera Barat dan gempa Sumatera Selatan. Selalu, segera setelahnya media massa memberitakan informasi gempa terkini mulai dari kondisi daerah terkena gempa, korban jiwa dan hal-hal lain yang berhubungan dengan gempa yang terjadi.
Pada 1883, Krakatau adalah sebuah pulau gunungapi yang terletak di selat Sunda diantara pulau Jawa dan Sumatera bagian dari Negara Indonesia yang saat itu masih dikuasai oleh Belanda. Lama tertidur, Krakatau meletus hingga terdengar ribuan kilometer di seluruh penjuru dunia. Letusannya dianggap suara terkeras yang pernah terdengar di bumi kala itu. Debu volkanik dan batuapung terlontarkan ke atmosfer mengakibatkan sebagian besar dari pulau itu runtuh menghasilkan kaldera. Tsunami menyusul sesudahnya dan menyapu 160 kota dan desa membunuh 40.000 orang di sekitarnya.
Gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa bagian dari Indonesia yang saat itu masih dikuasai oleh Belanda. Letusan Tambora setidaknya menewaskan 70.000 orang di pulau Sumbawa akibat dari letusan langsung, wabah penyakit dan kelaparan. Letusan Gunung Tambora yang terkenal itu terjadi pertama kali pada tanggal 5 April 1815 yang suara letusannya terdengar hingga Batavia (1.300 km dari pusat erupsi) dan Ternate (1.400 km dari pusat erupsi). Di Batavia saat itu tentara Belanda segera bersiap mengira akan ada serangan dari bala tentara Mataram sedangkan di Ternate armada kapal perang segera disiapkan mengira akan adanya serangan dari para bajak laut.
Erupsi Tambora pada 1815 mungkin merupakan letusan terbesar yang tercatat dalam sejarah yang mengakibatkan perubahan iklim global dan menewaskan ratusan ribu manusia yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung. Tetapi 74.000 tahun yang lalu gunungapi yang lain di Indonesia bernama Toba meletus dan mengakibatkan bencana yang jauh lebih besar dan kemungkinan berakibat pada proses evolusi manusia.
Dalam sejarah dunia setidaknya terdapat 12 letusan terbesar di dunia berdasarkan tingkat letusannya atau VEI (Volcanic Explosivity Index) yang mempunyai dampak cukup signifikan dalam kehidupan umat manusia. Indonesia mencatatkan ada 3 gunungapi yang termasuk dalam 12 letusan tersebut, yaitu letusan gunungapi Toba (74.000 tahun yang lalu), Tambora (1815) dan Krakatau (1883) yang ketiganya menempati tingkat letusan dengan indeks terbesar dari bawah atau paling besar tingkat letusannya. 





Komentar Terbaru