Tabir Surya Untuk Bumi
October 16, 2009 2 Comments
Apa yang terlintas pertama kali di otak ketika mendengar istilah “Tabir Surya”? Pasti tidak jauh dari salah satu produk kosmetik perawatan kulit. Tabir surya yang saya maksud di sini bukanlah tabir surya untuk kulit tetapi tabir surya untuk bumi. Bukan hanya kulit yang membutuhkan tabir surya tetapi bumi juga membutuhkan tabir surya. Prinsipnya hampir sama dengan tabir surya bagi kulit untuk melindungi efek negative dari sinar matahari sehingga kulit tetap sehat dan tidak merubah pigmen kulit tetapi tabir surya untuk bumi berfungsi untuk mengurangi efek dari pemanasan global dan radiasi sinar matahari bagi bumi sehingga makhluk hidup yang menumpang di atasnya menjadi lebih nyaman.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pemanasan global sudah bukan menjadi isu lagi tetapi berkembang menjadi sebuah fakta yang dirasakan makhluk hidup di seluruh penjuru dunia. Mengenai asal muasalnya apakah lebih diakibatkan ulah manusia atau siklus iklim bumi masih menjadi perdebatan di ranah para ilmuwan kebumian. Sebagai salah satu makhluk hidup yang menumpang di bumi dan menghisap sarinya maka sudah kewajiban kita untuk mengurangi tingkat keparahan pemanasan global dengan berpikir dan bersikap cinta lingkungan. Sikap ini bisa dengan mengurangi tingkat emisi CO2, mendaur ulang barang-barang yang sudah tidak terpakai, dan memperbanyak penanaman pohon. Saya yakin pemahaman seperti ini sudahlah dimengerti para pembaca sekalian di luar kepala sehingga saya tidaklah perlu untuk berbusa-busa lagi mengingatkan.
Tingkat penetrasi dari pemanasan global ini telah mengakibatkan suhu dunia menjadi naik rata-rata 1.1-6.4oC dalam kurun 1990 – 2100. Efeknya seperti seperti yang telah kita ketahui cuaca dunia menjadi lebih panas, pencairan es di kutub sehingga muka air laut menjadi naik dan penyempitan daratan yang dihuni oleh manusia, wabah penyakit timbul di mana-mana berkaitan dengan iklim yang semakin panas, dan lain-lain. Berakar dari permasalahan-permasalahan itulah para ilmuwan mulai berpikir untuk menciptakan teknologi dalam mengurangi efek negative dari pemanasan global. Mulai dari penemuan energi ramah lingkungan, penginjeksian kembali CO2 ke dalam bumi, dan salah satunya adalah tabir surya untuk bumi.
Pemikiran tentang tabir surya untuk bumi tercipta dari penelitian oleh NASA’s Goddard Institute for Space yang merekam perubahan iklim dari tahun 1978. Dalam penelitiannya tersebut diketahui bahwa jumlah lapisan global debu volkanik dan aerosol yang disebabkan oleh letusan gunungapi pada tahun 1986-1991 menurun sejak 1990. Hasil lain juga diketahui bahwa tingkat sinar matahari meningkat sejak tahun 1990 yang juga merupakan titik awal penurunan dari aerosol global. Meningkatnya sinar matahari dan turunnya aerosol global pada tahun yang sama apakah saling berhubungan apakah saling berhubungan atau berdiri sendiri masih belum diketahui jawaban pastinya. Kesimpulan sementara adalah dua hal tersebut tidak saling berhubungan walaupun sifatnya berkebalikan karena hanya ada salah satu faktor yang bekerja yaitu penurunan tingkat aerosol global atau meningkatnya sinar matahari dan keduanya tidak bisa terjadi bersamaan.
Meningkatnya sinar matahari dapat memicu naiknya pemanasan global. Logikanya adalah aerosol dapat menahan laju sinar matahari langsung ke bumi dan ternyata tidak juga menjebak sinar matahari di dalam bumi itu sendiri seperti halnya gas rumah kaca. Kebalikannya dengan gas rumah kaca, keterdapatan aerosol di atmosfer justru akan mendinginkan suhu bumi. Hal ini juga dibuktikan dalam tulisan saya sebelumnya mengenai letusan gunungapi Krakatau, Tambora dan Toba yang mengeluarkan aerosol hingga menginjeksi stratosfer dan membuat suhu bumi turun 10oC sehingga terjadi pendinginan global.
Encyclopedia of Volcano menjelaskan bahwa aerosol adalah suspensi dari cairan maupun partikel padat di udara. Aerosol alami contohnya adalah kabut, asap dan stratosfer sulfat. Aerosol dapat berasal dari aktifitas letusan gunungapi besar yang mengeluarkan gas dan debu volkanik hingga dapat memenetrasi stratosfer. Gas yang sangat berpengaruh hingga membentuk aerosol adalah sulfur dioksida (SO2). SO2 adalah gas yang diinjeksikan oleh letusan gunungapi yang dapat bertahan di stratosfer berubah menjadi asam sulfurik dan bereaksi dengan uap air membentuk aerosol sulfat stratosferik. Aerosol dapat bertahan beberapa tahun pada level stratosfer setelah letusan gunungapi. Aerosol dapat mendinginkan permukaan bumi dengan menyerap radiasi sinar infra merah dari permukaan bumi dan troposfer.
Sesaat kita boleh lega bahwa formula aerosol dapat mengurangi efek dari pemanasan global tetapi di balik peran positif aerosol sebagai tabir surya juga menyimpan peran negatif. Aerosol dalam statosfer dapat bereaksi kimia dengan gas yang lain sehingga dapat mengaktifkan gas anthropogenic chlorine atau yang biasa disebut sebagai CFC. CFC ini dapat mengakibatkan penipisan lapisan ozon pada daerah tinggian di bumi atau kutub. Efek negatif lain adalah apabila aerosol telah mengalami sedimentasi dan menaikkan densitasnya, aerosol dapat turun ke troposfer bergabung dengan awan dan dapat meningkatkan nilai albedo atau mempunyai peran yang sama dengan gas rumah kaca yaitu menahan laju radiasi sinar matahari kembali ke angkasa sehingga permukaan bumi menjadi panas. Aerosol yang bergabung dengan awan juga mengakibatkan perubahan efek warna di angkasa.
Fungsi aerosol sebagai tabir surya yang diharapkan dapat mengurangi efek pemanasan global ternyata seperti pisau bermata dua karena setelahnya justru dapat meningkatkan efek pemanasan global. Penelitian yang terus dilakukan oleh para ilmuwan diharapkan dapat meningkatkan fungsi positif aerosol sebagai tabir surya. Setali tiga uang dengan tabir surya untuk kulit, jangan salah pilih merek karena jangan-jangan malah memberikan efek negatif bagi kulit setelahnya sehingga kulit menjadi tempat perkumpulan para panu, kadas, kurap, dan teman-teman seperjuangan penyakit kulit lainnya.
(C) gambar : Encyclopedia of Volcano dan web lain






iya sih.. kelamaan/keseringan pake sunblock biasanya bikin jerawatan gara2 kulit ga bisa bernafas..
edianikk.. beberapa hari ini jogja panaaassss biyangeeti… gara2 tabir surya bumi nih…