Penyakit Euforia Lebaran dan Reformasi

2211rbw01d[1]Sudah menjadi tradisi beranak pinak manusia di Indonesia untuk merayakan lebaran. Tak terkungkung oleh batasan agama Islam saja yang merayakannya tetapi semua ikut berbahagia menyambut hari raya ini, setidaknya bahagia 2 hari libur kantor. Bagi umat muslim sendiri, lebaran adalah penanda kefitrahan dari umat muslim setelah sebulan lamanya beribadah dan berpuasa selain sebagai ajang silaturahmi kepada sanak saudara di kota asal. Lebaran adalah awal dari kondisi fitri (zero condition) dimana sesama umat muslim saling memaafkan dosa dan kesalahan untuk menuju jalan hidup kedepan yang lebih baik sampai dengan bulan Ramadhan tahun depan.

Berbicara Puasa – Lebaran seperti melihat kembali kondisi politik indonesia dikala Orde baru – Reformasi. Memang tidak bisa dibandingkan secara kontekstual tetapi latar belakangnya bisa kita hubungkan. Puasa adalah pengekangan hawa nafsu selama 1 bulan dan orde baru adalah pengekangan segala macam aspirasi, demokrasi, inisiatif, kreasi, dll yang dianggap bertentangan dengan kepentingan pemerintahanan selama 32 tahun. Lebaran adalah akhir dari puasa dan awal dari kehidupan setelah puasa sedangkan Reformasi adalah akhir dari orde baru dan orde kehidupan negara setelahnya hingga saat ini.

Ketika orde baru lengser, gegap gempita euforia reformasi bergerak membabi buta. Semua hal yang dianggap tidak pro rakyat atau sisa-sisa antek orde baru dihabisi dengan cara yang sama kotornya ketika orde baru masih bercokol. Hasilnya, muncul banyak para reformis karbitan yang luarnya tampak bersih dan suci tetapi dalamnya membusuk dan lebih kotor daripada oknum orde baru. Kolusi, korupsi, pembalakan liar menjangkiti lebih dalam lagi ke daerah-daerah dan keluarga. Inilah penyakit euforia reformasi yang menjangkiti negara ini ketika itu dan saat ini masih menjangkiti di berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan itu sendiri.

Dalam perspektif Lebaran = Reformasi, maka penyakit euforia ini juga ditemukan ketika lebaran. Saat pengekangan hawa nafsu dilakukan ketika puasa, memasuki lebaran umat muslim menjadi semacam euforia keadaan dengan melegalkan semua yang ketika puasa ditinggalkan. Nafsu-nafsu yang merugikan kembali dipuaskan bahkan lebih puas daripada sebelum puasa, dan yang nampak jelas adalah mengkonsumsi makanan lebaran menjadi membabi buta. Tak peduli lagi dengan kolesterol, asam urat, alergi, kadar gula dll, seakan-akan lepas dari kungkungan penjara. Alhasil rumah sakit-rumah sakit kembali dipenuhi setelah lebaran dengan banyaknya penyakit akibat kesalahan pemilihan makanan seperti stroke, jantung, diabetes, obesitas, asam urat dll.

Penyakit euforia lebaran akan tuntas ketika pengidapnya terkapar masuk rumah sakit dan kembali sehat diberi obat atau berakhir di pemakaman. Biasanya tidak lama setelah lebaran dan pengidapnya akan segera sadar kembali. Lha penyakit euforia reformasi koq ga berhenti-berhenti ya… malah makin banyak pengidapnya dan obatnya susah ditemukan atau kita rubah statusnya menjadi penyakit turunan saja. Biarkan penyakit reforasi menjadi penyakit turunan semoga penyakit lebaran bukan menjadi penyakit turunan. Yang terakhir saya ingin mengucapkan:

“Selamat Hari Lebaran1430H, Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir & Bathin”

About these ads

About Almandine
Just ordinary person who want to know anything and everything

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: