Disorientasi Mahasiswa

August 18, 2009

Mahasiswa adalah sebuah status yang prestisius di negeri ini. Status yang bukan main-main karena revolusi yang terjadi di negeri ini banyak dipengaruhi olehnya. Masih ingatkah, bahwa pergantian presiden pertama (Soekarno) dan kedua (Soeharto) Indonesia karena campur tangan gerakan mahasiswa sehingga tidak bisa disangsikan lagi pentingnya menjadi mahasiswa di Indonesia. Bahwa masa depan negeri ini juga berada di tangan para calon-calon pemimpin yang cerdas dan nasionalis, siapa lagi kalau bukan para mahasiswa. Ini berarti menjadi mahasiswa tidak hanya bertanggung jawab terhadap orangtua atau penyandang dana kuliah tetapi juga kepada bangsa Indonesia. Status mahasiswa disandangkan bagi para pelajar perguruan tinggi. Dari asal katanya juga menunjukkan sebuah penghargaan yang besar. Maha dan Siswa, Maha dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti bentuk terikat; amat; yang teramat sedangkan Siswa berarti murid. Sehingga kalo digabungkan berarti murid yang sangat besar dan dihormati.

Adalah sebuah konsekuensi yang teramat besar dalam menyandang status mahasiswa seperti yang telah diketahui tanggung jawab dan masadepannya, untuk itulah seorang mahasiswa haruslah sadar diri akan statusnya. Sikap mental ini haruslah ditekankan ketika para calon pemimpin ini ketika menginjakkan kaki pertama kali untuk menimba ilmu di Universitas. Kiranya inisiasi kampus menjadi penting untuk hal semacam ini dan bukan semata-mata perploncoan dan senioritas karena apabila hal itu masih terjadi bisa jadi bahwa para seniornya pun tidak paham mengenai status mahasiswa yang disandangnya. Harapannya setelah mereka diberi pengarahan sikap mental dan rasa tanggung jawab yang benar terhadap status mahasiswa yang baru disandangnya maka seorang mahasiswa menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar mulai dari keluarga, kampus dan negara. Jiwa interpreneurship dan leadership muncul mulai dari yang terendah hingga tertinggi dibuktikan dengan keaktifan berorganisasi selain juga kewajibannya yang utama untuk belajar di ruang akademik.

Apa yang bisa kita lihat saat ini adalah banyaknya sikap apatis, skeptis, tidak peduli terhadap lingkungan sekitar dan tidak peduli dengan perkembangan kenegaraan seakan-akan para mahasiswa mempunyai kehidupannya sendiri tanpa membutuhkan orang lain dengan sikap anti sosial yang hanya menghabiskan waktunya dengan game online dan situs jejaring sosial dengan teman yang berjumlah ribuan padahal jika bertemu langsung mengajak berkenalan pun mendadak menjadi gagap.

Atau lagi terjebak dalam dunia intelegensia semu dengan menjadi joki ujian masuk perguruan tinggi negeri. Mahasiswa seperti ini mempunyai kecerdasan di atas rata-rata dan mengapresiasi kewajibannya untuk belajar dengan tekun dan rajin seperti seorang musafir yang kehausan di padang pasir dan bertemu oasis pengetahuan tetapi sayangnya tidak dibarengi dengan moralitas yang baik dan benar. Kedepannya apabila tidak segera diselamatkan moralnya akan meneruskan perjuangan para penjahat kerah putih lainnya yang merugikan negara bertrilyun-trilyun rupiah tanpa terlacak sehelai rambutpun.

Lingkungan kampus bak ajang fashion show dengan memamerkan model pakaian terbaru yang sebenarnya kurang layak dipakai untuk menimba ilmu. Hal ini tidak lepas dari peran serta media terutama sinetron yang sering menampilkan citra mahasiswa yang glamour dengan segala dunia hura-hura tanpa peduli dengan lingkungan sekitar. Para mahasiswa baru dari berbagai pelosok Indonesia akan dengan segera melupakan tujuan utamanya menjadi mahasiswa dan keluguannya semasa SMA dan menjelma menjadi mahasiswa yang hedonis membuat orangtua menjadi lebih banyak mengelus dada dan lebih menguras kocek untuk hal-hal di luar proses pembelajaran padahal kompetensi pendidikan gratis atau beasiswa syaratnya semakin ketat dengan prestasi akademik yang membanggakan.

Kasus menarik lain lagi adalah kepedulian mahasiswa yang membabi buta dan lingkungan kampus bukan sebagai lembaga menimba intelegensia tetapi sasana ring tinju dan latihan kemiliteran. Kepedulian yang membabi buta tanpa disertai dengan konsep pemikiran yang jelas menjadikan mahasiswa binatang buas yang malah membuat keruh suasana atau bahkan ajang tawuran dengan sesama mahasiswa dengan alasan sepele seperti berebut meja di kantin. Di dalam tas mereka bukan berisi buku-buku mata kuliah dan alat tulis tetapi senjata tajam dan bom molotov.

Harus dipahami bahwa seorang mahasiswa mempunyai kewajiban utama untuk belajar, dengan kedewasaan berpikir dan rasa tanggung jawab maka kegiatan belajar mengajar haruslah dibarengi dengan pengalaman berorganisasi untuk mengasah jiwa sosial kenegaraan dan kedua hal tersebut sebaiknya berjalan secara seimbang apabila tidak maka salah satunya akan keblinger dan disorientasi. Jangan sampai masyarakat sekitar kampus pada khususnya dan warga negara Indonesia pada umumnya merasa tidak diuntungkan dengan kehadiran mahasiswa untuk membangun lingkungannya.

Setelah 64 tahun Indonesia merdeka dengan masih menyisakan segala macam problematika sosial, politik, dan hal-hal kenegaraan lainnya masihkan kita percayakan masa depan Indonesia kepada para mahasiswa? Tetapi kalau bukan mereka siapa lagi? Semoga masih banyak para mahasiswa yang tidak lupa akan tujuan utamanya dan bersedia untuk mengabdi demi negara Indonesia tercinta ini.

Sumber gambar : http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/15/Sorotan/15demore.gif

Entry Filed under: Opini. Tags: .

6 Comments Add your own

  • 1. agn  |  August 19, 2009 at 2:00 pm

    mau gimana ngga apatis mas kalau organisasi yg menjadi trigger menuju kesana diberangus.

    Tapi emang ada bagusnya kalau kita lebih konsentrasi ke hal-hal yg lebih bersifat membangun melalui karya sesuai dengan bidang masing2. Nyambung gak sih komentar gw? ahahaha..

    Reply
    • 2. Nugroho  |  August 24, 2009 at 2:38 am

      kelihatannya masih banyak koq organisasi yang ga diberangus yang mengayomi aspirasi mahasiswa macam mapala, atau unit-unit mahasiswa lainnya

      Reply
  • 3. nadya  |  October 2, 2009 at 2:41 am

    mahasiswa? sudah lupa tuh :-P (weee gayaa)

    Reply
    • 4. iwantolet  |  October 2, 2009 at 6:07 pm

      iya deh bu, yg ud lulus

      Reply
  • 5. igen  |  October 5, 2009 at 11:49 am

    duh yg msh berstatus mahasiswa….
    lha kowe jenis mahasiswa sing ndi brenk?
    melu castine film “menculik miyabi” ra oktober iki?

    Reply
    • 6. iwantolet  |  October 5, 2009 at 3:57 pm

      saya mahasiswa pengamat saja, tak banyak bicara, diam-diam menghanyutkan

      Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


ANTAREJA bingung

Antareja, adalah salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam Mahabharata karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Ia merupakan putra sulung Wrekodara atau Bimasena dari keluarga Pandawa. Antareja mempunyai kesaktian dapat hidup dan berjalan di dalam bumi, namun ketika berada di dalam bumi dia selalu kebingungan menjelaskan apa yang terjadi di dalam sana.

Kategori Tulisan

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Tulisan Terbaru

Posting Favorit

Tulisan terdahulu

Komentar Terbaru

fadhilatul muharram on Sejarah Penyelidikan Geologi d…
iwantolet on Woalah Ternyata Sheila On…
iwantolet on Dunia Tambang
iwantolet on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
iwantolet on Jadi Manusia Jangan Sombo…
iwantolet on Catatan Harian Seorang Ge…
dwi on Woalah Ternyata Sheila On…
Levy on Dunia Tambang

Photoaddic

Blue Ocean2

Sepeda kumbang

Orang Pinggiran

Menanam Padi

Balada Becak

More Photos

Lokasi Pengunjung

Dilihat sebanyak

Termasuk ke dalam :

RSS Katastropi (Dunia sastra kecilku)

Kawan

Sering Dikunjungi

Meta

Spam Blocked