Di Bandung kita bertemu dan berpisah
April 7, 2009
“Aku di Bandung, kapan kita ketemuan? Pokoknya nanti kita harus ketemu di Bandung. Sabtu-Minggu aku libur. Nanti kita kontak-kontakkan lagi”
Begitu kata Wahyu di telepon padaku saat dia berada di Bandung untuk latihan terjun payung lanjut. Memang dia adalah salah satu anggota TNI Angkatan Udara dengan pangkat Lettu.
3 tahun kulewati bersamanya ketika kami berada dalam seragam putih abu-abu. Selalu memilih tempat duduk paling belakang di kelas dan aku selalu berada di depannya. Tak ada kegiatan yang tak kami lewati bersama, kami adalah rangkaian yang tak terpisah bersama sahabat yang lain. Tumbuh bersama mencari jati diri dalam gelegak darah jiwa muda kami.
Adalah sosok yang tegas, pecinta yang teguh dan pemberani dalam kelompok kami. Humornya segar dan yang utama adalah sikap sederhana dan rendah hatinya membuatnya dipercaya oleh semua orang. Tak ada yang tak kenal siapa dirinya di sekolah, semua menyayanginya dan semuanya mencintainya sebagai seorang sahabat sejati.
Jalan hidup memisahkan kami ketika jenjang SMA telah terlewati. Cita-citanya untuk mengabdi kepada negara tercapai dengan diterima dalam akademi militer angkatan udara pada tahun 2000. Tak membuatnya melupakan sahabat-sahabat semasa SMA, Wahyu masih sering berkunjung ke rumahku ketika waktu pesiar tiba. Biasanya dia meminjam motorku untuk pulang ke rumahnya di Nanggulan Kulon Progo, maklum karena rumahku berada seperjalanan menuju rumahnya.
Selepas akademi, dia melanjutkan jenjang karirnya dengan sempat berkantor di Aceh dan yang terakhir berada di Medan sementara aku bekerja di Kalimantan. Kami tak pernah bertemu lagi tetapi tetap sering kontak lewat telpon untuk berbagi kabar tentang jalan hidup kami. Kurasa 5 tahun lamanya kami tak saling bertatap muka karena jadwal cuti kerjaku tak pernah bersamaan dengan jadwal liburnya.
Sampai saat aku harus menetap di Bandung untuk melanjutkan studiku datanglah dia ke kota ini untuk latihan tingkat lanjut pasukan khas angkatan udara dan berita mendadak itu terdengar di telingaku. Pesawat yang membawamu latihan terjun payung mengalami kecelakaan di lanud Husein Sastranegara Bandung.
Wahyu, kalau kau mendengarnya di sana, kita telah menepati janji kita. Kita sudah bertemu di Bandung, bukan Sabtu-Minggu, kita bertemu di Rumah Sakit Dr. Salamun Bandung 7 April 2009 Selasa dini hari. Walau kau terbujur kaku, kita tetap bercerita dalam hati kita mengenang kisah hebat dan dahsyat masa muda dulu. Kita telah menepati janji kita masing-masing untuk bertemu di Bandung dan di Bandung pulalah kita berpisah.
Selamat jalan sahabatku, doaku mengiringi kepergianmu Lettu Wahyu Nanik Sardi…
Entry Filed under: Tentangku. Tags: Bandung, Hidup, Perpisahan, sahabat.
8 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed






1.
lusita | April 7, 2009 at 12:51 am
Wahjeck…..selamat jalan…..
2.
Nugroho | April 7, 2009 at 1:20 am
3.
kholiq | April 7, 2009 at 3:21 am
selamat jalan kawan semoga allah menerima segala amal baikmu
4.
Nugroho | April 7, 2009 at 3:59 am
5.
bowo | April 7, 2009 at 4:11 am
gugur dalam tugas.
semoga diterima disisi_Nya.
6.
hasnan | April 12, 2009 at 3:30 pm
selamat jalan mas wahjek, semoga ditempatkan di tempat terbaik..
…salvo…
7.
wuri | May 10, 2009 at 7:54 am
ya.. selamat jalan, engkau sedang menuntut ilmu.. semoga syahid..
Innalillahi wainnailaihi roji’un sms mu ter akhir saat ayahku meninggal 4 april lalu
8.
ari | July 12, 2009 at 1:32 pm
smoga almarhum di terima sisi NYA..
amin….