Mencari ke-Indonesia-an di negeri Belanda
April 4, 2009
Kalau berkesempatan maka sekali-kali kunjungilah museum atau perpustakaan di negeri Belanda, niscaya akan banyak ditemukan manuskrip-manuskrip yang berhubungan dengan Indonesia pada masanya dimana hubungan kedua negara ini pernah dekat (dalam catatan: dijajah dan menjajah). Mengesampingkan ironi penjajahan pada masa itu, yang memang mungkin menjadi hal yang wajar pada kalanya bagi bangsa Eropa Sang Conqueror untuk membuktikan pada dunia bahwa mereka mempunyai kuasa pada dunia bukan melalui teknologi melainkan jumlah daerah jajahan juga mencari alternatif daerah baru sebagai sumberdaya alam untuk kesejahteraan rakyatnya. Maka berbondong-bondonglah para penakluk dari belahan dunia Eropa mencari 3G (Gold, Gospel dan Glory) termasuk diantaranya Belanda sampai di Indonesia hingga 3,5 abad lamanya. Pola pikir regional yang mengkerucut bahwa pusat peradaban adalah Eropa waktu itu mengesampingkan hak asasi dari daerah jajahan sehingga ada sebuah garis pembatas tegas yang memisahkan antara penjajah dan yang dijajah, hampir tidak ada simbiosis mutualisme didalamnya.
Siapa yang tak jatuh cinta pada nusantara? Tanahnya subur, kaya sumberdaya alam, lanskapnya indah, masyarakat yang beraneka ragam dengan jiwa seni yang tinggi membuat Belanda bertekuk lutut dan meminang nusantara untuk dijadikan istri kedua nan molek. Didandaninya istri barunya ini dengan segala pengharapan di masa depan akan menghasilkan anak-anak nan cerdas dan berpotensi memimpin dunia. Pembangunan di nusantara pun dimulai, di dalam keterbatasan selalu muncul ide baru, teknologi baru dan kreativitas baru. Tak ayal, master plan Belanda mengenai bumi nusantara waktu itu sangatlah detil pada masanya, harapannya tak lain adalah bumi nusantara menjadi negeri kedua bagi para Dutch ini. Dipelajarinya dengan sungguh mulai dari budaya, sosial, ekonomi dan sumberdaya alam. Didatangkan para ahli di bidangnya untuk menyarikan kemolekan nusantara.
Dibangunlah Batavia sebagai pusat pemerintahan VOC, Bandung sebagai Parijn van Java dan daerah-daerah lain di Jawa-Sumatra-Kalimantan-Papua sebagai sentra industri, pemerintahan, pertambangan, dll. Hasilnya; banjir kanal Jakarta, rel kereta api lintas Jawa dan Sumatra, ornamen dan struktur kota ala Belanda, perkebunan, pabrik-pabrik, dan pertambangan. Bayangkanlah anda mempunyai anak angkat yang sangat berpotensi kecerdasannya di masa depan bukankah anda juga akan memberikan segalanya untuk anak anda untuk menunjang masa depannya. Tapi ingat, feodalisme sang ayah (Belanda) masih kental pada anaknya (nusantara/Indonesia) pada masa itu, tak semua ilmu diturunkan pada anaknya. Ini bukan dunia edukasi tapi pakem-nya adalah nusantara yang menghasilkan bagi Belanda di masa depan. Tak boleh pada masanya ilmu geologi dipelajari dan ilmu-ilmu lainnya pada pemuda Indonesia karena ketakutan akan dilakukannya pemberontakan pada pemerintah Hindia-Belanda dari orang asli Indonesia yang pintar. Terbukti sudah oleh Sukarno, Hatta dan cendekiawan Indonesia lainnya yang lahir dari ilmu pengetahuan dari Belanda hingga akhirnya dari tangan merekalah Indonesia bisa merdeka.
Dari situ, bisa dibayangkan berapa juta manuskrip penelitian berbagai macam ilmu pengetahuan berhubungan dengan Indonesia pada masa itu yang tersimpan rapih di perpustakaan dan museum Belanda. Segala sisi data dan fakta tentang Indonesia, pemetaan kekayaan alamnya, kekuatan-kelemahan politik dan militernya, pemetaan sosial budayanya, daftar tokoh-tokoh segala bidang, update peristiwa-peristiwa apa pun yang diperbarui pada masa itu. Secara ilmu pengetahuan, jangan dulu tidak percaya bahwa Belanda lebih mengetahui Indonesia dibanding Indonesia mengetahui dirinya sendiri. Dalam dunia perminyakan, perusahaan minyak Indonesia hanya meneruskan dan mengembangkan sumur-sumur minyak yang sudah lebih dulu dieksplorasi dan dieksploitasi oleh Belanda. Tata kota dan masterplan kota-kota di Indonesia pun hanya mengikuti pola yang sudah dibuat oleh Belanda, justru perkembangannya oleh Indonesia malah merusak pakem dan banjir terjadi di sana-sini (ambil contoh perkembangan kota Jakarta dan Bogor). Apabila ada suatu kesempatan untuk mempelajari Indonesia dan menjadi manusia Indonesia yang benar-benar Indonesia maka belajarlah ke negeri Belanda, bukan untuk membalas menjajahnya tetapi membangun negeri kita tercinta ini. Bukan masanya lagi untuk mengutuki yang telah terjadi dan berlalu tetapi bagaimana kita bisa mengambil hikmah dan berbuat yang lebih baik untuk masa depan. Ayo kita cari Indonesia di negeri Belanda dan salah satu caranya adalah dengan mengikuti kompetisi blog yang berhadiah studi di Belanda dalam Summer Course di Utrecht University. Yang terakhir semoga kita bisa menjadi manusia Indonesia seutuhnya dengan memenangkan kompetisi blog ini.
Entry Filed under: Opini. Tags: inlander, kompetiblog, studi di belanda.
14 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed






1.
zefka | April 4, 2009 at 11:10 am
Ingat bukunya Van Bemmelen yg melegenda itu, meskipun masih global tp satu indonesia ada semua
2.
Nugroho | April 4, 2009 at 10:17 pm
3.
annelis | April 5, 2009 at 3:55 am
Dan konon katanya Bemmelen melakukan pemtaan geologi dengan naik kuda loh Mas… Keren ya geologist naik kuda, mau donk…
4.
Nugroho | April 6, 2009 at 5:01 am
5.
gentongdjawa | April 6, 2009 at 7:52 am
gue dukung brenk, totally i support you, jangan lupa bawa kameranya sekalian ben dapet gambar bagus buat oleh2, sukur2 bawa manuskrip kuno yang masih ada di sana, eh..jangan ding ntar disini gak terawat.
6.
igen | April 6, 2009 at 8:24 am
pernyataan selama ini bahwa Belanda menguasai Nusantara 3,5 abad salah. yang benar adalah Belanda perlu waktu 3,5 abad untuk menguasai Nusantara. ingat Aceh ga pernah ditaklukkan Belanda. Dan Belanda baru menjejakkan kaki di pulai Bali bag utara thn 1850an. dan d kalimantan….tak ada jejak Belanda di sana!
7.
Nugroho | April 6, 2009 at 10:49 am
8.
popon | April 10, 2009 at 8:36 am
Tenane ga ada jejak Belanda di Borneo?
Pada tahun 1612 di masa Kasultanan Banjar Sultan Mustain Billah, Belanda datang ke Banjarmasin untuk menghukum Kesultanan Banjarmasin, menembak hancur Banjar Lama (kampung Keraton) di Kuin. Akibat serangan itu, ibukota kerajaan Banjar dipindahkan dari Banjarmasin ke Martapura.
Mulai 1839 M, pengaruh kekuasaan di Pulau Borneo terbagi dalam 3 kawasan kekuasaan. Sebelah barat daya di kuasai oleh Kesultanan Brunei, sebelah timur laut dikuasai oleh Kesultanan Sulu dan sebelah tengah dan selatan di kuasai Pemerintah Hindia Belanda yang sebagian besar wilayahnya diperolehnya dari Sultan Banjar Tamjidullah I melalui Perjanjian 20 Oktober 1756. [WIkipedia]
Nah, masalahnya, saat VOC mendatangi Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, ketiga pulau itu JARANG melakukan perlawanan dengan senjata. Sedangkan Aceh, dikenal selalu gigih melawan dengan senjata. Itu saja bedanya.
Nusantara, berikut lautannya, toh sudah menjadi otorita VOC yang kemudian berlanjut ke pemerintah Hindia Belanda. Jadi bagaimana tidak mau dibilang Belanda menguasai 3,5 abad.
Toh, dalam masa 3,5 abad itu, Belanda memonopoli perdagangan dari Selat Malaka ke pasar Eropa.
9.
Nugroho | April 10, 2009 at 5:37 pm
10.
BanditKesiangan | April 16, 2009 at 5:44 am
Jajah balik Belanda dengan ilmu yang didapat dari sana… Keren tuch…
11.
sumaryo | September 29, 2009 at 9:13 am
sistem yang ada di kita perlu dikaji kembali , pengkajinya harus benar-benar orang indonesia yang punya integritas pada bangsa (bukan or ind yang baru tahu sikit tapi ngaku banyak dan minta imbalan yang banyak, amit-amit jabang bayi; masyaallahmaunya kerja sedikit , digaji gedhe). Ya tentu para pengkaji ini jangan dulu berharap diberikan upah tinggi, tapi pasti rakyat punya kebijaksanaan demi hasil kerja para pengkaji untuk “indonesia lebih baik”, hayo para anak bangsa indonesia tunjukkan tekad, semangat, integritas dan kerja keras kita untuk anak cucu kita kelak.
Sangat memprihatinkan banyak anak dan orang-orang tuanya terkaget-kaget dengan apa yang yang sebenarnya belum apa-apa tapi sudah merasa paling-paling…..
Integritas kita harus terus menerus demi bangsa , bukan sesaat !!!!!!
Terima kasih
salam unruk semua
12.
iwantolet | September 29, 2009 at 4:57 pm
13.
zaenal | October 22, 2009 at 3:22 am
saya setuju dengan sebutan ayah dan anak dengan merujuk kepada hubungan Belanda dan Indonesia masa lalu kini dan masa depan. meskipun sangat riskan untuk menyebutnya, tapi banyak warisan yg ditinggalkan yang kemudian sangat bermandaat bagi Indonesia. salah satunya adalah code civil Napoleon alias KUHAP dan KUHP yang menjadi sendi berbangsa dan bernegara dalam bidang hukum.
suatu kali pernah seorang perdana menteri pada masa ratu Wilhelmina berbicara kepada para “founding fathers” kita” biarkan kami tinggal di negara anda untuk 10 atau 20 tahun lagi untuk membina anda sehingga indonesia siap menjadi sebuah negara yg merdeka dan maju.
14.
iwantolet | October 22, 2009 at 2:12 pm
Belanda emang punya rencana yang istimewa buat negara ini tapi apa rencana tersebut juga melibatkan manusia pribumi?
Kalau kita lihat lagi bagaimana nasib pribumi di negaranya saat ini dengan contoh suku Indian di Amerika dan suku aborigin di Australia kita tidak pernah tau nasib suku2 di Indonesia saat ini apabila Indonesia masih dikuasai Belanda