The Candidate Berirama Melayu
April 3, 2009

Beberapa hari yang lalu saya bersama seorang kawan menonton film di sebuah bioskop terkenal di jalan sukajadi Bandung. Pilihan film sudah ditentukan beberapa hari yang lalu yaitu The Candidate. Sebenarnya kami berencana menonton 2 hari sebelum akhirnya kami benar-benar menonton. Alasannya simple, karena salah jadwal
The Candidate dipilih sebagai film untuk menghibur diri terus terang karena termakan promo di bioskop tersebut yang sebelumnya kami lihat ketika menonton Slumdog Millionare di bioskop yang sama. Kesannya angker karena background poster serba gelap dan tokoh utamanya yang tampangnya sangat macho disertai movie trailer nya penuh dengan adegan ketegangan ditambah lagi ini adalah film besutan dari Denmark dan bukan Hollywood minded. Dan itulah persepsi pertama yang kami bawa ketika masuk ke ruang pemutaran film.
Setelah menonton filmnya ternyata persepsi kami mengenai jalan ceritanya berbeda jauh dengan jalan cerita sesungguhnya. Film ini menurut saya digolongkan sebagai drama thriller dan saya merasa sangat beruntung karena saya cukup senang dengan tipikal jalan cerita seperti ini daripada full action dengan adegan serba tidak mungkin dan tokoh yang tak pernah lecet sedikitpun ala Hollywood.
Film ini bercerita tentang tokoh utamanya bernama Jonas Bechmann (Nikolaj Lie Kaas) seorang pengacara handal yang juga mempunyai ayah seorang pengacara yang terbunuh secara misterius sehubungan dengan suatu kasus yang melibatkan tokoh mafia terkenal di kota itu. Bertahun-tahun Jonas dihantui oleh perasaan ketidaktenangan karena kematian ayahnya yang misterius sampai suatu ketika dia dijebak dalam suatu pembunuhan yang ternyata masih ada hubungannya dengan kasus terbunuhnya ayahnya. Lari dari incaran polisi, Jonas berusaha untuk lepas dari tuduhan tersebut sekaligus mencari titik terang dari kasus terbunuhnya ayahnya. Sampai suatu ketika akhirnya dia berhasil membongkar semua rencana licik ini sekaligus membongkar misteri kematian ayahnya dan dalang dari semua ini seperti yang sudah-sudah adalah orang terdekat.
Bukan jalan cerita atau promosi tentang film ini yang ingin saya angkat dari tulisan ini. Awalnya adalah dari keluarnya dua orang bule yang ikut menonton ketika mengetahui bahwa bahasa yang digunakan dalam film ini adalah bahasa Denmark dengan teks subtitle Indonesia. Dua bule tersebut senasib dengan saya yang tertarik dari promo film yang dilakukan oleh bioskop tapi sialnya dia tidak mengetahui bahasa yang digunakan setali tiga uang dengan bahasa subtitlenya. Daripada tertidur di bioskop mending tidur di rumah, mungkin itu pikirannya. Akhirnya mereka keluar ketika film baru dimulai.
Saya jadi berpikir bahwa film dengan bahasa Denmark juga bukan film yang biasa saya tonton juga. Saya dan mungkin sebagian besar pembaca tulisan ini terbiasa menonton film dengan bahasa Inggris atau Indonesia jadi apabila kita disuguhi film dengan bahasa yang lain kesannya jadi aneh dan awam dari logatnya. Nah bagaimana dengan orang luar yang menonton film dengan bahasa Indonesia? Apa yang ada di benak mereka? Sayangnya saya tidak melakukan wawancara dengan orang asing yang pernah menonton film dengan bahasa Indonesia atau terbiasa mendengarkan logat bahasa Indonesia. Seperti halnya saya ketika menonton film India, bukannya kita semua mengakui bahwa logat India selalu dilagukan bahkan ekspresinya ditambah dengan geleng-geleng kepala? Pertama kali pasti kesannya lucu dan aneh tapi tidak bagi mereka orang India asli dan setelah kita terbiasa melihatnya.
Saya mencoba menjadi orang asing yang menilai logat bahasa Indonesia. Logat Indonesia sebenarnya tidak jauh beda dengan logat India banyak bahasa yang digunakan ditambahi dengan penekanan vokal tertentu sehingga kesannya membentuk sebuah irama, bedanya adalah orang Indonesia tidak sambil geleng-geleng kepala tentunya. Mungkin saya harus berada di luar negeri minimal 3 tahun lamanya dan melupakan sama sekali bahasa Indonesia baru bisa merasakan bahwa logat bahasa Indonesia memang benar-benar berirama seperti saya merasakan bahwa logat bahasa Denmark seperti orang ngomong sambil kumur-kumur ga jelas.
Entry Filed under: Review Film. Tags: bahasa.
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed






1.
popon | April 4, 2009 at 12:10 pm
Kenapa harus disebutkan “menonton film di sebuah bioskop terkenal di jalan sukajadi Bandung.”
Toh, nyatanya, saya nggak kenal bioskop itu.
2.
Nugroho | April 4, 2009 at 8:36 pm