Kora-kora Angkasa

February 20, 2008

Pernah berkunjung ke Dufan? Pasti tidak melewatkan wahana Kora-kora. Ya… Kora-kora adalah wahana permainan berbentuk kapal yang di naik-turunkan seperti main ayunan. Ada saatnya kita berada di bawah dan ada saatnya kita berada di atas. Yang membikin seru adalah goyangan dan hentakan seketika saat kita diayun ke bawah dari posisi teratas. Isi perut seakan ikut bergejolak dan berdesakan untuk saling keluar dari mulut. Hueeekkkkk…. Yang ga kuat pasti bakalan muntah-muntah.

Begitupula yang kurasakan ketika naik pesawat dari Balikpapan menuju Sangatta. Perjalananku kali ini adalah perjalanan akhir masa cutiku setelah 12 hari menikmati libur di Jogjakarta. Untuk kembali ke tempat kerja, aku harus naik pesawat 2x. Jogjakarta – Balikpapan kemudian diteruskan Balikpapan – Sangatta. Tidak ada masalah dengan perjalanan Jogjakarta – Balikpapan. 1 jam 45 menit kulalui dengan terlelap di kursi pesawat, maklum tidak ada yang bisa kulakukan selain tidur karena pesawat ini tak memberikan apapun untuk dikunyah atau ditenggak dengan cuma-cuma. Masalah mulai timbul ketika aku harus menunggu jadwal penerbangan pesawat dari Balikpapan – Sangatta di airport Sepinggan. Cuaca mulai mendung dengan asap hitam memenuhi pandangan angkasa sesekali rintik hujan gerimis tapi tidak menerus. Keberangkatan pesawat yang akan kutumpangi pun terlambat. Aku naik pesawat Transwisata (pesawat pengganti Casa) dengan dua baling-baling di kiri-kanan body pesawat yang mengeluarkan suara dengungan dahsyat hingga terdengar ke dalam pesawat alhasil semua penumpang wajib mengenakan earplug untuk mengurangi resiko ketulian mendadak.

10 menit pertama dari keberangkatan berjalan lancar dengan riang gembira dan aku sempat mengambil beberapa foto pemandangan dari pesawat (kebetulan aku duduk di dekat jendela). Setelah itu pesawat mulai melintasi gugusan awan kelabu hingga tidak tampak apapun di jendela kecuali warna kelabu dari awan. Pesawat mulai bergoncang naik-turun kekiri dan kekanan, 50 menit selanjutnya adalah seperti naik Kora-Kora di angkasa… Isi perut di aduk-aduk hingga muncul keringat dingin sebesar biji jagung dari kepalaku. Rasanya mual menjadi-jadi ditambah lagi perasaan was-was mengenai kelanjutan perjalananku ini. Pertanyaan-pertanyaan melintas dari kepalaku, Apakah aku harus ke neraka secepat ini? Masih muda, belum kawin dan ga sempet makan siang dengan kenyang… Ditambah lagi, penumpang di belakangku malah asyik bertelponan dengan temannya sambil berhaha-hehe… Gila banget… Di dalam Kora-kora angkasa masih sempet telpon-telponan menambah kacau navigasi pesawat, langsung saja kubentak bapak itu untuk mematikan telponnya. Untung ga kukasih muntah sekalian di mukanya…

Sepanjang perjalanan aku tidak merasa nyaman dan tenang, sesekali aku berusaha menahan agar tidak muntah. Duduk dengan segala posisi tidak bisa memberiku rasa nyaman, mencoba membunuh waktu dengan berimajinasi dan menghayal. Viewwff… akhirnya tiba juga di Airport Tanjung Bara, langsung kucari air mineral dan kutenggak sebanyak-banyaknya untuk mengatasi rasa mual yang kutahan selama di pesawat. Cukup banyak membantu, dan aku merasa segar kembali. Uugghh… Kora-kora angkasa, semoga tidak terulang lagi untuk penerbangan selanjutnya. The Next day, aku harus kembali pada rutinitas kerja untuk 6 bulan kedepan sampai kembali pada Kora-kora angkasa untuk cuti selanjutnya.

Tips : Bagi para calon penempuh pesawat Balikpapan-Sangatta, akan lebih baik bila anda berlatih dulu dengan menaiki wahana Kora-kora di Dufan. Anda lolos dengan tidak muntah, maka anda layak naik pesawat ini.

Entry Filed under: Tentangku. Tags: , .

1 Comment Add your own

  • 1. wadirin  |  August 23, 2008 at 3:34 am

    maasss, aku ingin anda bertahu berapa ukuran pesawat kasa yang sebenarnya.

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


ANTAREJA bingung

Antareja, adalah salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam Mahabharata karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Ia merupakan putra sulung Wrekodara atau Bimasena dari keluarga Pandawa. Antareja mempunyai kesaktian dapat hidup dan berjalan di dalam bumi, namun ketika berada di dalam bumi dia selalu kebingungan menjelaskan apa yang terjadi di dalam sana.

Kategori Tulisan

Kalender

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Tulisan Terbaru

Posting Favorit

Tulisan terdahulu

Komentar Terbaru

HIBURAN - Dongeng Ci… on Batubara : Menilik Untung-Rugi…
zefka on Catatan Harian Seorang Ge…
iwantolet on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
iwantolet on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
iwantolet on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
Julgreg on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
celolo on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…
Sila on Tiga Letusan Gunungapi Terbesa…

Photoaddic

Blue Ocean2

Sepeda kumbang

Orang Pinggiran

Menanam Padi

Balada Becak

More Photos

Lokasi Pengunjung

Dilihat sebanyak

Termasuk ke dalam :

RSS Katastropi (Dunia sastra kecilku)

Kawan

Sering Dikunjungi

Meta

Spam Blocked